Litera

Takdir Emak

Oleh : Fahrul Khakim*

PAGI hari yang cerah minggu pertama bulan Desember. Aroma nasi goreng emak begitu menggugah selera. Meskipun hanya berbumbu terasi dan telur bebek tapi sangat gurih dan lezat. Biasanya nasi yang digoreng adalah nasi sisa kemarin malam yang tidak habis.

            “Erna, kalau ambil jangan banyak-banyak. Adik-adikmu nanti tidak kebagian,” Emak mengingatkan.

            “Kenapa sih, Mak? Emak selalu saja membela adik-adik. Emak tidak sayang lagi ya sama Erna,” jawab Erna dengan kesal.

            “Bukan begitu. Adikmu kan juga perlu sarapan. Mereka sudah bangun sejak subuh bantuin Emak. Mereka belum makan.”

            “Oh, jadi yang boleh sarapan cuma yang bangun subuh dan bantuin emak saja? Terus aku tidak boleh? Emak tidak adil, pilih kasih. Emak jahat!” rengek Erna.

            “Ya sudah. Kamu makan dulu. Setelah itu mandi dan cuci baju ya!”

            “Nggak mau. Setelah ini aku mau pergi sama Aldo. Emak tahu kan, kalau Aldo itu sayang banget sama Erna. Erna dibeliin baju, kosmetik, semua dari Aldo. Semua barang yang Emak tidak bisa beli, Aldo bisa belikan. Itu berarti Aldo lebih sayang sama Erna daripada Emak.”

            “Erna, dengarkan penjelasan Emak. Emak tidak bisa membeli itu semua karena penghasilan Emak tidak cukup. Sudah bisa makan sehari-hari saja alhamdulillah. Apalagi bisa menyekolahkan kamu sampai SMA. Emak rela tidak punya impian, asalkan anaknya bisa sekolah dan punya cita-cita. Kamu seharusnya malu sama adik-adikmu yang masih kecil. Sudah bantu Emak dagang di pasar. Emak malu setiap kali orang di pasar bertanya kenapa kamu tidak bantu Emak.”

            “Tuh kan. Itu lagi. Selalu saja membandingkan Erna sama adik-adik. Erna itu udah besar, Mak. Sudah bukan anak kecil lagi, yang bisa emak bohongi. Asal Emak tahu ya, Erna lebih malu lagi punya Emak miskin kayak Emak.”

            Emak tidak mampu berkata apa-apa lagi. Hatinya terlalu sakit. Dia hanya mampu berdoa semoga anaknya cepat sadar dan menjadi Erna yang patuh pada emaknya.

            Padatnya kerumunan di pasar dengan kepayahan emak menawarkan barang dagangannya. Ke sana ke mari menawarkan mangga yang ia petik dari pohon di pekarangan rumahnya. Juga ada buah-buahan lain dan sayur-mayur yang masih segar. Dia berharap orang-orang sadar bahwa ia menjual buah yang benar-benar segar, bebas dari pestisida dan zat kimia. Begitu beratnya barang yang dia pikul karena belum ada satu pun yang membeli. Emak kelelahan dan payah.

            Karena kelelahan, emak beristirahat di depan teras toko yang sudah tutup. Bibirnya kering dan pecah-pecah dan wajahnya pucat pasi. Sejak tadi pagi perut emak tidak diganjal makanan. Karena nasi goreng pagi tadi sudah dihabiskan Erna. Padahal itu adalah persediaan beras terakhir yang ia masak. Sekarang ia harus bekerja keras agar dapat membeli beras untuk makan anak-anaknya.

            Emak sedih setiap mendengar anak-anaknya lapar. Dia rela berkorban apa saja agar anak-anaknya kenyang. Dia rela kedinginan agar anak-anaknya tetap hangat. Tapi Erna tidak bisa mengerti. Dia sudah besar, seharusnya bisa membantunya mencari nafkah atau sekadar membantu pekerjaan sehari-hari.

Menjaga adiknya di rumah pun tidak. Erna justru lupa daratan dan tidak mengerti status sosialnya. Yang dia jadikan contoh adalah anak-anak yang orang tuanya kaya. Dia tidak mau sesuatu yang murah, sesuatu yang dimilikinya harus bermerek. Emak kadang tak tahan dengan sifat Erna. Tapi Erna sangat manja dan suka ngambek. Dia sering ngamuk jika keinginannya tidak dipenuhi. Bahkan Erna seringkali mencuri uang emak agar dapat makan enak di warung dan mentraktir teman-temannya. Sikap Erna memang sangat keterlaluan, tak jarang pula ia merampas uang saku adik-adiknya tapi adik-adiknya tidak marah dan tidak mengadu.

Emak selalu meneteskan air mata tiap kali melihat adik-adik Erna yang selalu mengalah tanpa pamrih. Emak selalu terharu setiap adik-adik Erna, Laras dan Santi, membantunya di rumah. Menyiapkan makan untuk emak, menimba air untuk mandi emak, mencuci baju emak, bahkan selalu memijat emak setiap malam. Emak tak tega menyaksikan Erna memperlakukan Laras dan Santi seperti itu.

Setiap melihat emak bersedih Laras selalu bilang, “Emak, jangan sedih ya! Nanti Bapak tidak tenang dalam kuburnya. Emak masih punya aku dan Santi.”

Setiap melihat emak menangis, Santi selalu bilang, “Emak, jangan menangis. Aku dan Laras tak pernah menangis. Emak harus ikhlas.”

Emak heran setiap mendengar perkataan Laras dan Santi. Bagaimana bisa anak ingusan seperti mereka sudah bisa bicara seperti itu, siapa yang mengajarinya.

            Emak memperhatikan buah mangga dagangannya. Segar, hijau, pasti manis rasanya. Emak menelan ludah. Emak  mengenang pohon mangga yang ada di pekarangan rumah. Pohon itu ditanam oleh suaminya. Umur Erna kira-kira sama dengan umur pohon itu. Kemudian emak teringat pada suaminya. Dua tahun lalu dia meninggal dalam kecelakaan tabrak lari. Ketika akan menyeberang jalan dia ditabrak oleh seseorang. Penabraknya melarikan diri dan tak bertanggung jawab. Bapak pasti bekerja keras agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, sampai lengah dengan lingkungan sekitarnya.

Emak tahu sebenarnya bapak ingin menyekolahkan Erna sampai SMA. Sehingga dia bekerja keras setiap hari, kadang harus keluar daerah sehingga jarang di rumah. Padahal Laras dan Santi sangat menyayanginya. Tapi, bapak lebih sayang pada Erna. Sementara yang didapat dari Erna hanyalah keluhan dan cacian yang memekakkan telinga. Emak meneteskan air mata lagi. Air matanya membasahi wajah yang kusam berdebu.

            Di seberang jalan, emak mendengar ada orang yang memanggilnya. Orang itu ingin membeli buah-buahan emak yang segar. Orang itu memanggil emak berulang kali, suaranya sangat merdu. Lebih merdu dari seorang diva, tak pernah emak mendengar suara seindah itu. Diamatinya orang yang memanggil-manggilnya, tampak di kejauhan orang tersebut seperti bercahaya. Indah sekali. Bergegas emak memikul kembali barang dagangannya dan segera berdiri. Dengan penuh semangat emak menuju orang tersebut. Ia menyeberang jalan dengan hati-hati. Semakin mendekat dengan orang itu, semakin bahagia hati emak. Karena emak tentu akan dapat uang untuk makan anak-anaknya. Di tengah perjalanan emak terhenti. Ia kagum dengan keindahan orang itu. Begitu rupawan. Sekali lagi, emak belum pernah melihat orang serupawan itu. Orang itu tersenyum pada emak, senyumannya begitu memesona. Hati emak luluh begitu saja.

            Braakkkkkk!!!!!!!!!!

            Sebuah mobil menabrak tubuh emak yang ringkih. Kemudian melarikan diri begitu saja. Kerumunan orang mengitari tubuh emak. Emak masih sadar. Dipandanginya buah-buahan yang berceceran penuh noda darah. Tapi kemudian semuanya menjadi indah. Seorang yang merdu, cemerlang, dan rupawan itu telah menuntun emak. Sekarang Erna tak kan bisa menyakiti hati emak lagi.

* Dosen Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Novel terbarunya: Another Sorry (Bhuana Ilmu Populer, 2020)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close