Madiun

Tak Kuat Bayar Kontrakan, Sekeluarga Tinggal di Warung Kopi

Tercatat Perantauan, Sulit Mendapatkan Bantuan Sosial

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pandemi ini masa sulit bagi semua orang. Terutama yang mengais nafkah di perantauan. Getirnya hidup itu dirasakan Himatul Fadilah, perantau asal Sibolga, Sumatra Utara yang terpaksa berumah di warung kopi di sudut Pasar Kotak Sri Jaya, Kartoharjo, Kota Madiun.

Lantaran sudah tak punya uang untuk membayar sewa kos, Fadilah terpaksa tinggal di warung kopi bersama anak dan adiknya. Warung kopi berukuran 3 X 3 meter itu hanya diisi meja dan kursi dari bambu. Tak banyak rentengan kopi dan minuman sachet lainnya yang digantungkan pada seutas kawat berkarat. ‘’Hanya itu barang yang bisa dijual. Itupun titipan teman,’’ kata Fadilah.

Tak seperti warung kopi biasanya, warung milik perantau itu lebih banyak menyimpan barang pribadi. Warung itu disekat menjadi tiga ruang. Ruang utama sekitar 2 x 2 meter untuk menyimpan rak piring dan gelas dan satu kipas angin. Sedangkan satu ruang di belakangnya sekitar 1,5 X 2 meter dipenuhi kardus, baju dan perabotan rumah tangga. Dapurnya langsung menyatu dengan kamar mandi yang luasnya hanya 0,5 X 2 meter.  ‘’Saya sadar apa yang saya lakukan ini tidak benar. Namun, saya tidak punya pilihan selain tinggal di sini. Saya sudah tidak bisa memperpanjang kontrak rumah sejak akhir Desember lalu,’’ katanya mengenang tempat tinggalnya di Jalan Ciliwung, itu.

Sementara warung kopinya sepi. Warung kopi yang jelas tak layak huni itu menjadi harapan satu-satunya untuk bertahan. Hanya bermodalkan karpet, ruang utama disulap menjadi tempat tidur saat malam tiba. ‘’Siapa yang tega mengajak anak berusia 8 tahun tidur di tempat seperti ini. Jika ada uang pasti kami pilih tidur di kos atau kontrakan yang jauh lebih layak,’’ terang perempuan 27 tahun itu.

Kata-kata itu selalu Fadil ucapkan tatkala petugas pasar maupun Satpol PP mendatangi. Pasar memang tidak diperbolehkan dijadikan tempat tinggal. Karena fungsinya hanya untuk transaksi jual beli. Namun, pendapatannya benar-benar terhenti hampir tujuh bulan terakhir. ‘’Karena KTP saya masih perantau, benar-benar sulit mendapat bantuan saat pandemi ini. Untuk makan saja sering dikasih tetangga sebelah,’’ tuturnya. *** (fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close