MadiunPendidikan

Tak Bisa KBM Daring, Bocah-Bocah SD Belajar di Poskamling

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Duduk bersila, Muammar Fauzan Ardafa, 9, konsentrasi mengerjakan soal di lembar kerja. Aktivitas serupa dilakukan oleh tiga bocah lainnya. Kegiatan belajar bersama di poskamling Dusun Sukorejo, Brumbun, Wungu, itu belakangan menjadi pemandangan biasa bagi warga setempat. ‘’Enak belajar di poskamling daripada di rumah,’’ kata Dafa, sapaan Muammar Fauzan Ardafa, Kamis (23/7).

Dafa kelas III SDN Brumbun. Karena pandemi Covid-19, kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka di kelas ditiadakan. Pemerintah menggantinya dengan model daring atau lainnya disesuaikan situasi dan kondisi (sikon). ‘’Kalau di rumah tidak ada yang mengajari,’’ ujarnya.

Dia mengungkapkan, orang tuanya sibuk bekerja. Ketika menjumpai soal yang dirasa sulit, dia bingung ke mana harus meminta petunjuk. Persoalan itu teratasi sejak belajar bersama di pos ronda. Meski teman-temannya beda kelas, ada jujukan untuk bertanya. Kegiatan itu sedikit banyak mengobati rasa kangennya bersekolah. ‘’Selain itu, ada Bu Binti (warga setempat, Red) yang menemani,’’ ungkapnya.

Tugas mengerjakan 25 halaman buku soal berbagai macam pelajaran diberikan oleh guru setiap pekannya. Tugas itu harus dikumpulkan setiap Sabtu. ‘’Orang tua mengantarkan (tugas) ke sekolah,’’ ucap Dafa.

Adifa Asna Gania, 11, mengaku lebih semangat belajar ketika ada teman. Siswa kelas V SDN Brumbun itu tidak bisa mengikuti KBM daring karena tidak memiliki gadget. Sementara, handphone Dirga Juan, 10, tidak support pembelajaran online. ‘’Tidak ada internet,’’ katanya.

Sugeng Winarso, 40, warga setempat, menyebut banyak persoalan dalam proses pendampingan anak belajar. Mulai tidak paham materi, harus bekerja, serta sang anak tinggal bersama kakek dan nenek. ‘’Kalau mau belajar online, untuk beli paket data tidak ada duit. Bahkan ada yang tidak punya handphone,’’ paparnya. (den/c1/cor)

“Guru Dadakan” Tamatan SMA

BINTI Napsiah, inisiator di balik kegiatan belajar-mengajar (KBM) di poskamling Dusun Sukorejo, Brumbun, Wungu. Mendampingi Muammar Fauzan Ardafa dan teman-temannya mengerjakan tugas.

Padahal, perempuan 47 tahun itu tidak punya titel sarjana pendidikan. Pekerjaannya sehari-hari berjualan jajanan di SDN Brumbun. ‘’Niat saya cuma membantu. Kasihan anak-anak tidak bisa bersekolah,‘’ kata Binti Kamis (23/7).

Binti memulai kelas poskamling sekitar sebulan lalu. Terinspirasi dari pengalaman anaknya yang masih kelas V SD. Anaknya terkesan ogah-ogahan saat diminta belajar di rumah. Dia lantas berinisiatif mengajak anaknya belajar bersama teman sebayanya di poskamling. ‘’Kalau kumpul semua, sampai belasan anak yang belajar,’’ sebutnya.

Poskamling model panggung seluas 7,5 meter. Lokasinya berada di pinggir jalan. Bagi Binti, keterbatasan tempat dan suara bising kendaraan tidak menjadi soal. Terpenting anak-anak senang, mau belajar, dan mengerjakan tugas. ‘’Belajar di sini setiap Senin sampai Jumat mulai pukul 09.00. Kalau jam selesainya bergantung keinginan anak-anak,’’ papar ibu dua anak itu.

Binti ikhlas menjadi guru dadakan. Pahlawan tanpa tanda jasa yang nyata karena tidak memungut upah. Karena hanya tamatan SMA, dia juga sempat kesulitan membantu anak-anak mengerjakan soal. Istri Hariyanto itu pun harus berusaha memahami materi pelajaran. Kalau benar-benar tidak bisa, Binti akan bertanya ke yang lebih paham. Seperti anak-anak usia SMA atau guru yang dikenalnya. ‘’Awal-awal dulu susah juga, lama-lama jadi terbiasa,’’ tuturnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close