Opini

Tak Berjabat Tangan, tapi Saling Memaafkan

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono

(Pimpinan Ladima Tour & Travel)

‘’HALLO, Mbok. Iki aku anakmu lanang. Aku wis kangen sampean. Aku pengin mudik mbok, aku pengin balik. Aku kangen tenan karo Simbok,’’ kata seorang anak yang tinggal di Jakarta dalam percakapan kepada ibunya yang berada jauh di ujung desa melalui HP dengan video call.

‘’Iki Simbok yo kangen kowe. Tapi, ora usah bali, saiki lagi usum virus. Nek kowe bali,  malah mundak nulari Simbok. Nek kangen iki tak kirimi fotone simbok,’’ kata simbok yang langsung jepret memotret wajahnya dan langsung dikirimkam kepada anaknya lanang di Jakarta yang didera kangen.

‘’Piye le, Simbok isih ayu to. Tenan lho, ojo mudik. Iki usum virus, duite lebarane wae sing balik. Cepet ndang ditransfer,’’ pinta simbok sembari memasak di pawon untuk persiapan berbuka puasa. Itulah cuplikan parodi ‘’ojo mudik’’ besutan Ucup Klaten yang ngetrend di medsos dan televisi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 H ini.

Video serupa juga sangat banyak. Bahkan lebih lucu dan serius, seperti video buatan pemerintah dan aparat. Intinya kita semua harus menjaga protokol kesehatan dalam memutus mata-rantai penyebaran Covid-19; tetap di rumah, jaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker. Tidak kumpul-kumpul bersama keluarga dan handai taulan (bersilaturahmi), apalagi nongkrong di kafe, dan ramai-ramai bepergian (mudik).

Ini jika kita semua segenap anak bangsa ingin “Bersama Melawan Corona”. Tapi, jangan hanya sebatas slogan. Jauh panggang dari pelaksanaan. Tidak dipatuhi dan tidak dijalankan. Protokoler kesehatan dianggap hiasan. Seperti beberapa hari lalu ketika PSBB (pembatasan sosial bersekala besar) dilonggarkan, orang ramai-ramai pergi ke pasar dan mal. Gerudukan. Memborong kebutuhan, kue, dan baju Lebaran. Tak terkecuali mereka yang baru dapat BLT. Dengan penuh nafsu, mereka tidak ingat masih dalam suasana puasa Ramadan yang semestinya mengendalikan nafsu. Dan, mereka juga tidak mengindahkan protokoler kesehatan. Tanpa jaga jarak dan berdesakan saat membeli kebutuhan dan baju lebaran. Akhirnya, jumlah orang yang terpapar Covid-19 meledak. Pada 21 Mei tercatat sekitar hampir 1000 orang positif terserang Covid-19.

Padahal, paling tinggi selama ini tidak lebih dari 600 orang. Dan, secara nasional kini tercatat  20.000 orang lebih yang positif terserang virus asal Wuhan, China, itu. Jumlah ini tentu akan semakin menggelembung, jika kita abai tidak mematuhi protokoler kesehatan. Tidak tetap tinggal di rumah, tidak jaga jarak, tidak bersih cuci tangan, dan tidak pakai masker. Tetap mudik dan berkumpul dengan keluarga dan handai taulan.

Untuk itu, saat pagebluk corona masih terjadi, kita tidak usah kumpul-kumpul. Abaikan adagium jawa; Mangan ora mangan, sing penting kumpul. Saatnya kini membalik adagium tersebut; kumpul ora kumpul, sing penting mangan. Ini agar kita, keluarga, handai taulan semuanya terhindar dari virus corona. Tetap di rumah saja. Tidak mudik dan tidak kumpul-kumpul. Apalagi dengan jumlah orang banyak.

Berlebaran di rumah saja. Tak apa untuk sementara ini kita berjauh-jauhan, tapi hati kita tetap berdekatan. Cukup bersilaturahmi di media sosial; WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Yang penting silaturahmi kita tetap terjaga dan tersambung. Tak apa kita tidak berjabatan tangan pada Hari Raya Idul Fitri 1441 H ini, tapi kita tetap bermaaf-maafan. Dengan tulus dan ikhlas sesuai makna Hari Raya Idul Fitri. Semoga segala kesalahan kita dimaafkan dan dosa kita diampuni. Semoga kita semua sehat dan Covid-19 cepat berlalu. Amin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H; Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close