Opini

Tak Ada Lagi Isoman

AGUSTUS segera berakhir. Bulan ini bukan hanya momentum peringatan HUT Kemerdekaan negara kita. Tetapi bisa dibilang momentum kebangkitan kita dalam melawan Covid-19. Bagaimana tidak, setelah kita mengalami penambahan kasus yang luar biasa selama Juli, selama Agustus ini malah sebaliknya. Tambahan konfirmasi harian turun dan yang sembuh tinggi. Ada 1.864 sembuh selama Agustus hingga Minggu kemarin (29/8). Sebaliknya, ada 1.258 tambahan konfirmasi.

Sampai saat ini masih ada 86 orang yang dilakukan perawatan dan 144 menjalani isolasi terpadu (isoter). Ke depan, saya optimistis tren positif ini terus terjaga. Apalagi, sudah tidak ada yang menjalani isolasi mandiri (isoman). Semua yang menjalani isoman sudah kita pindahkan ke fasilitas isolasi terpadu. Termasuk delapan tambahan kasus konfirmasi pada Minggu kemarin. Semuanya langsung kita lakukan perawatan di fasilitas isoter. Sepekan terakhir memang kita intensifkan pemindahan itu. Ini bukan hanya arahan saya. Melainkan instruksi langsung presiden. Beberapa waktu lalu presiden memang berkunjung ke Madiun. Semua kepala daerah di Jawa Timur hadir di Pendopo Ronggo Djumeno Kabupaten Madiun. Kita mendapatkan arahan secara langsung.

Pertama, untuk segera memindahkan warga yang menjalani isolasi mandiri ke fasilitas isoter pemerintah. Kedua, untuk mempercepat vaksinasi. Ketiga, untuk memperhatikan stok obat-obatan. Pokoknya, jangan sampai telat, terlambat, atau kekurangan. Instruksi itu tentu segera kita tindak lanjuti. Pemindahan warga isoman kita intensifkan. Alhamdulillah, warga Kota Madiun kooperatif. Terbukti, sekarang tidak ada yang menjalani isoman. Sebenarnya ada juga penolakan-penolakan. Namun, alasannya kuat. Seperti tengah mengasuh anak kecil yang tidak mungkin ditinggal atau memiliki sarana-prasarana di rumah yang memadai. Oksigen, salah satunya.

Tentu kita tidak bisa serta-merta mengharuskan pindah. Apalagi, dari segi usia belum kategori renta. Alhamdulillah yang bersangkutan sudah sembuh. Tidak ada lagi yang isoman itu karena sudah dipindahkan dan karena memang sudah sembuh. Pemindahan memang kita lakukan bertahap. Mereka yang berusia 50 tahun ke atas kita dahulukan. Kedua, mereka yang memiliki gejala ringan. Ketiga, karena memang tidak memiliki fasilitas pendukung seperti oksigen. Apresiasi juga kepada para petugas. Mereka terbukti mampu memberikan pengertian kepada yang isoman agar mau dipindahkan.

Pemindahan itu memang mengedepankan langkah humanis dan persuasif. Kita juga melibatkan penyintas Covid-19 jebolan isoter. Mereka saya minta bercerita pengalaman selama menjalani isolasi di Asrama Haji. Isoter kita memang mengedepankan Rumah Sakit Lapangan (RSL) Asrama Haji. Tempatnya masih longgar. Di sana ada 182 tempat tidur. Jika nanti penuh, masih ada RSL apartemen rusunawa. Kapasitasnya 44 ruang dengan 88 tempat tidur. Kita juga masih punya rencana cadangan dengan memanfaatkan sejumlah ruang beberapa gedung sekolah terdekat dengan puskesmas.

Ketiga tempat itu memiliki fasilitas memadai. Terutama terkait oksigen. Juga ada perawat dan dokter jaganya. Untuk konsumsi sehari-hari kita perhatikan kandungan gizinya. Termasuk buah dan susu. Pelayanan-pelayanan yang diberikan itu saya minta untuk diceritakan kepada yang isoman. Termasuk rutinitas sehari-hari seperti olahraga dan pemeriksaan kesehatan oleh petugas. Semua itu tentu tidak bisa didapat jika isolasi mandiri di rumah. Bahkan, mungkin kebalikannya.

Warga isoman memang kita beri bantuan sembako. Namun, untuk asupan tambahan seperti susu dan buah mungkin masih kurang. Paling vital urusan pemeriksaan kesehatan. Warga isoman memang dilakukan pengecekan rutin melalui telepon. Tetapi tentu kurang maksimal dibanding pemeriksaan langsung. Belum lagi jika kondisi tiba-tiba drop. Sedangkan fasilitas tidak mendukung. Tidak ada oksigen dan lainnya.

Apalagi kebiasaan masyarakat yang enggan melapor saat muncul gejala. Mereka mengaku sehat padahal sejatinya sakit. Langkah ke rumah sakit baru dilakukan saat gejala mulai parah. Penanganan kesehatan tentu kurang optimal jika kondisi pasien keburu kritis. Hidup-mati memang kehendak Tuhan. Tetapi bukankah kita diperintah untuk berusaha? Layanan isoter ini merupakan salah satu usaha kita. Semoga Tuhan YME, Allah SWT, segera memberikan kesembuhan. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button