PacitanPeristiwa

Tak Ada Hujan, Jalur Pacitan-Ponorogo Mendadak Longsor

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Akses Pacitan-Ponorogo sempat tersendat Minggu malam (19/1).  Tebing setinggi 20 meter di Dusun Jurung Carik, Gemaharjo, Tegalombo, longsor hingga menutup jalur provinsi tersebut. Imbasnya, kendaraan harus antre berjam-jam dari dua arah. ‘’Saat ini (kemarin, Red) kami bersihkan sisa material. Jalur sudah dapat dilewati,’’ kata Kasi Keselamatan Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Pacitan Suyono di lokasi Senin (20/1).

Suyono mengungkapkan, longsor terjadi sekitar pukul 20.00. Padahal sedang tidak turun hujan di kawasan tersebut. Bahkan, sejak empat hari lalu. Sehingga, warga pun dibuat kaget. ‘’Mungkin karena bebatuan di bawahnya tidak kuat menahan tebing. Tahun 2017 lalu juga terjadi di sini,’’ ujar Suyono sembari memastikan tak ada korban akibat bencana tersebut.

Banyaknya material longsoran membuat proses evakuasi memakan waktu lama. Satu unit alat berat hanya sanggup membuka setengah jalur sekitar pukul 02.00 dini hari, Senin (20/1). Minimnya penerangan membuat mereka memutuskan melanjutkan sisa pekerjaan pagi hari kemarin. ‘’Kami utamakan satu jalur dulu. Sementara pagi ini (kemarin, Red) kami bersihkan semua material longsoran,’’ paparnya.

Hingga pukul 10.00 kemarin, petugas masih berjibaku membersihkan material. Warga sekitar turut membantu sebelum kendaraan berat kembali tiba. Sementara, petugas melakukan sistem buka tutup jalan untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan. ‘’Targetnya selesai dan dua jalur dapat kembali digunakan,’’ imbuh Suyono.

Kasatlantas Polres Pacitan AKP Miftahul Amin menyiagakan dua petugas untuk pengamanan jalur. Pun memastikan jalur Pacitan-Ponorogo dari dua arah kembali normal. Dia berharap pengendara berhati-hati melintas di jalan sepanjang 40 meter itu. Apalagi memang termasuk titik rawan longsor. ‘’Perhatikan kesiapan kendaraan juga, karena jalur berkelok dan naik turun,’’ imbaunya.

Informasinya, sekitar pukul 15.00 kemarin proses pembersihan material longsor tuntas. Akses Pacitan-Ponorogo dan sebaliknya kembali normal. (gen/c1/sat)

Berkah di Balik Musibah

BENCANA acap jadi musibah. Di sisi lain juga berkah. Longsor di Gemaharjo, Tegalombo, kemarin, misalnya. Bagi pengendara yang melintasi jalur Pacitan-Ponorogo, jelas longsornya tebing setinggi 20 meter itu adalah musibah. Namun, bagi warga setempat adalah berkah.

REZEKI NOMPLOK: Warga sekitar lokasi tebing longsor di jalur Pacitan-Ponorogo mengumpulkan material bebatuan untuk dijual Senin (20/1).

Material longsoran berupa bebatuan memudahkan warga, terutama pencari batu, untuk mengumpulkannya. Sehingga, rupiah pun semakin mudah dikantongi.  ‘’Alhamdulillah di balik musibah ada berkah dan rezeki,’’ ucap Teris Asmawan, salah seorang warga setempat.

Mereka tidak perlu bekerja keras. Pun tak butuh waktu lama. Bahkan, rata-rata setiap warga mampu mengumpulkan lebih dari satu rit truk engkel senilai Rp 400 ribu hingga Rp 450 ribu. Satu rit total sekitar empat meter kubik batu. Sejak Senin pagi (20/1) Teris dan saudaranya memulai aktivitas mengumpulkan batu material longsoran.

Teris menerangkan, bebatuan itu dijual keluar daerah. Salah satunya ke Ponorogo untuk bahan bangunan. ‘’Satu lingkungan nambang di sini, lumayan untuk menambah kebutuhan sehari-hari,’’ ujarnya. (mg2/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close