Magetan

Susut Berat Bersih Pupuk, Dinas TPHPKP dan SPDP Telusuri Titik Pengurangan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Sejumlah petani padi di Desa Nguri, Lembeyan, Magetan, dibikin uring-uringan dengan berat bersih pupuk yang menyusut. Bobotnya tidak sesuai dengan yang tertera pada kemasan. ‘’Pupuk subsidi dan nonsubsidi,’’ kata Agung Muhammad, anggota kelompok tani (poktan) Desa Nguri sekaligus reseller pupuk, Selasa (8/9).

Agung memerinci, pupuk subsidi petroganik dari isi seharusnya 40 kilogram menjadi 39 kilogram. Phonska Plus rata-rata di bawah 25 kilogram. Perbedaan berat itu diketahuinya dari beberapa petani yang membeli pupuk di tempatnya. ‘’Mereka mengeluhkan pengurangan berat bersih,’’ ujarnya.

Keluhan petani benar adanya. Ketika menimbang ulang pupuk dari distributor, berat bersihnya lebih sedikit. Agung telah melaporkan persoalan itu ke mantri tani. Sebelum akhirnya diteruskan ke distributor. ‘’Hingga hari ini (kemarin, Red) belum ada penanganan,’’ ucapnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan Edi Suseno meminta temuan penyusutan berat bersih pupuk itu dilaporkan tertulis. Pelapor juga menyertakan barang bukti. Pihaknya akan menindaklanjuti dengan klarifikasi produsen. ‘’Mulai dari pabrik hingga ke petani. Harus diurus siapa yang mengurangi isinya,‘‘ katanya.

Staf Perwakilan Daerah Penjualan (SPDP) PT Petrokimia Gresik Wilayah Bojonegoro, Ngawi, dan Magetan Endi Susilo berjanji bakal menindaklanjuti laporan warga. Pihaknya menelusuri titik terjadinya pengurangan bobot. ‘’Apakah dari gudang, distributor, atau angkutan. Kami telusuri kecurangannya,‘‘ ujarnya.

Endi menyebut, praktik culas bakal disanksi. Bila pengurangannya di distributor, diminta mengganti kerugian petani. Ancaman hukuman lebih berat adalah pemberhentian. Sebagaimana tertuang dalam surat perjanjian jual beli (SPJB). ‘’Kalau dikurangi, tidak ada toleransi. Kami berhentikan,‘‘ tegasnya. (odi/c1/cor)

Jangan Terus Bergantung Pusat 

INI masih tentang masalah pupuk. Komisi B DPRD Magetan mendorong dinas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan ketahanan pangan (DTPHPKP) mengajukan penambahan alokasi pupuk subsidi ke Kementerian Pertanian (Kementan).

Langkah tersebut mengantisipasi kelangkaan pupuk subsidi. Juga tidak terbelinya pupuk nonsubsidi karena harganya mahal. Terlebih daya beli masyarakat rendah karena pandemi Covid-19. ‘’Ini sudah masuk musim tanam. Petani pasti segera butuh pupuk,’’ kata Ketua Komisi B DPRD Magetan Hari Gitoyo.

Diketahui, pemerintah pusat mengurangi jatah pupuk subsidi ke daerah. Di Magetan, sesuai data DTPHPKP, jatah 97.578 ton tahun lalu berkurang separo. Yakni, 58.570 ton tahun ini. Padahal, berkaca tahun lalu, alokasi kepala sembilan itu belum mencukupi kebutuhan petani. ‘’Kalau masih kurang ya harus tetap mengajukan penambahan lagi,’’ ujarnya.

Hari berharap hasil produksi padi tidak berkurang drastis karena pandemi. Sebab, sektor pertanian tidak terdampak pandemi. Para petani masih bisa melakukan penanaman dan perawatan. Menurut dia, bila hasil produksi komoditas itu berkurang, banyak sektor bakal kelimpungan. ‘’Sayangnya, pupuk justru banyak dikurangi,’’ ucapnya.

Komisi B berharap pemkab menyiapkan program bantuan pupuk tahun depan. Langkah itu lebih efektif ketimbang terus bergantung pemerintah pusat. Di sisi lain, petani didorong beralih ke pupuk organik. Bagi yang mampu, disarankan membeli pupuk nonsubsidi. ‘’Karena dalam waktu dekat permasalahan ini belum tentu cepat selesai. Sementara, sepanjang tahun petani masih menanam,’’ tutur politikus Partai Demokrat tersebut. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button