Pacitan

Susilo Dwi Santoso Rintis Petarung Kehidupan di Pacitan

Mula-mulanya Susilo Dwi Santoso menyalurkan bantuan dari sejumlah kenalan kepada yang membutuhkan. Kepedulian seperti itu akhirnya menjalar ke mereka yang sejalan-sepikiran. Akhirnya terbentuk komunitas sosial.

==========================

DENI KURNIAWAN, Pacitan,  Jawa Pos Radar Pacitan

JALAN sosial telah ditempuh Susilo Dwi Santoso sejak sembilan tahun silam. Sekitar tahun 2000, dia mulai memupuk rasa kepedulian ini secara diam-diam. Penggalangan dana dan penyalurannya dilakukan sendirian. ‘’Awalnya kasihan. Berapa yang dititipkan teman, ya itu yang saya berikan,’’ kata pria 38 tahun itu.

Susilo memulai kiprahnya sejak masih nyantri di Ponpes Baiturrahman, Donorojo. Cara penggalangan dana dilakukannya melalui facebook. Awalnya, tak banyak yang tertarik menyumbang. Kecuali donatur yang sebelumnya telah mengenal warga Ngadirojo ini. ‘’Sedapatnya. Pernah hanya memberikan beras saja,’’ ujar Susilo.

Susilo melakukan hal semacam itu atas kesadaran pribadi. Tak jarang, dia yang dulu ke mana-mana masih jalan kaki, nekat meminjam motor teman untuk menyalurkan bantuan. Lambat laun, Susilo mulai dikenal. Tak sedikit yang ingin bergabung dengannya. Hanya, tidak banyak yang bertahan lama. ‘’Tidak tahu kenapa. Mungkin karena kegiatan yang saya lakukan ini benar-benar sosial,’’ ujar Susilo.

Susilo berprinsip tidak memakai uang hasil donatur untuk keperluan kelompok. Sekadar beli bensin sekalipun. Susilo sempat bergabung dengan komunitas yang bergerak di jalan sosial. Namun, dia tidak bertahan lama. Rasa tidak nyaman akibat ada penggunaan uang hasil penggalangan, membuatnya mundur dan memilih berjalan sendiri. ‘’Kemudian, ada beberapa teman yang seprinsip dengan saya,’’ lanjutnya.

Pada akhir 2000, Susilo berjalan bersama sejumlah teman dengan visi yang sama. Donasi dari berbagai donatur secara sukarela mereka salurkan kepada yang membutuhkan. Baik ke pelosok dan penjuru Pacitan mupun ke luar daerah seperti Ponorogo dan Kediri. Bertahun-tahun berjalan, perkumpulan akhirnya baru dinamai dengan Petarung Kehidupan di awal 2019. Anggotanya saat ini sebanyak 65. ‘’Tapi, yang benar-benar aktif sekitar 20-an,’’ terangnya.

Sebagai nakhoda komunitas yang sudah banyak dikenal, Susilo tetap teguh dengan prinsip yang diusungnya. Dalam komunitas, dia benar-benar tidak mau saat ada sesuatu yang dinilai melenceng dari tujuan utama. Ketika mendapat banyak informasi tentang kemiskinan, dia tidak langsung melakukan penggalangan. Kebenaran informasi dicek lebih dulu dengan memberikan santunan secukupnya. ‘’Kalau memang benar-benar membutuhkan, baru akan dilanjut,’’ ungkap Susilo.

Belakangan Susilo sedikit risau. Datang berbegai pihak yang mendekati komunitas Petarung Kehidupan. Dia pun mengendus adanya aroma bisnis dan politik. Susilo bersama rekan-rekannya selalu menampik saat ada beberapa pihak dengan maksud dan tujuan lain. Jalan sosial itu perlu welas asih tinggi dan hati yang benar-benar bersih. ‘’Jadi rusak kalau sudah dicampuri urusan seperti itu,’’ tutur ayah dua anak ini.

Petarung Kehidupan tidak mencampur aduk donasi yang datang. Artinya, saat penggalangan donasi atas nama satu orang yang hendak disantuni, ya hanya rupiah yang terkumpul pada waktu itu yang akan diberikan. Hasil donasi yang terkumpul tidak akan diberikan ke calon penerima donasi yang lain. ‘’Karena, rezeki satu orang dengan yang lain itu berbeda,’’ ungkap Susilo. ***(fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button