Madiun

Suroan Warga PSHT di Kota Pendekar Lancar, Kesakralan Tradisi Nyekar Tetap Terjaga

MADIUN, Jawa Pos Radar MadiunZero accident! Dua kata itu tepat untuk menggambarkan pelaksanaan Suroan bagi warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Rangkaian pelaksanaan berjalan damai sesuai harapan. Pendekar dari berbagai daerah datang dengan teratur mengikuti aturan dan kesepakatan.

Adapun rangkaian kegiatan Suroan yang diakomodasi oleh organisasi PSHT Pusat Madiun itu meliputi tirakatan malam satu Suro dan peresmian gedung baru pada Sabtu (31/8). Di samping itu, ada pengesahan tingkat 2 warga PSHT Minggu (1/9) dan hari ini (2/9).

’’Kalau dari paguyuban, kami juga mengirimkan masing-masing personel satgas Sentot Prawirodirdjo yang membantu aparat keamanan TNI/Polri untuk siaga di rute-rute yang diperlukan di situ,’’ kata Ketua Umum PSHT Pusat Madiun R. Moerdjoko HW.

Berikutnya, pengesahan tingkat 1 dari warga PSHT asal Kota/Kabupaten Madiun pada 3–4 September dengan sekitar 4.000 peserta. Keesokan harinya acara yasinan dan tahlil memperingati haul sesepuh PSHT (alm) Tarmadji Boedi Harsono. Kemudian ditutup dengan acara pengajian umum.

Berdasarkan pantauan, pelaksanaan nyekar yang menjadi agenda tahunan bagi warga PSHT bertepatan 1 Suro atau 1 Muharam berjalan aman dan terkendali. Warga dari berbagai daerah datang sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk melaksanakan nyekar di makam leluhur. ‘’Kami datang bersama rombongan dari Karangjati, Ngawi, sesuai jadwal yang ditentukan,’’ kata Jali, warga asal Ngawi, kepada koran ini Sabtu (31/8).

Damai dan lancarnya kegiatan tersebut tidak terlepas dari pembagian jadwal yang diikuti seluruh warga PSHT dari berbagai daerah. Sesuai rencana sebelumnya, pelaksanaan dibagi menjadi dua jadwal. ‘’Mendoakan leluhur dan berharap di tahun baru Islam ini diberkahi keselamatan dunia akhirat,’’ ucapnya.

Jadwal pertama pada Sabtu (31/8) yakni rombongan dari Ngawi, Bojonegoro, Cepu, Blora, dan Sragen pada pukul 13.00—16.00. Kabupaten Madiun pukul 16.00—19.00 dan Kota Madiun pukul 19.00—22.00. ‘’Rombongan menggunakan kendaraan roda empat. Tidak ada iring-iringan sepeda motor,’’ lanjutnya.

Sementara tepat 1 Muharam  kemarin rombongan dari Geger, Dolopo, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Wonogiri, Jogjakarta pukul 08.00—11.00. Serta Magetan pukul 11.00—14.00. ’’Kurang lebih untuk rombongan dari Karangjati sekitar seribuan orang,’’ ungkapnya.

Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu yang turun ke lokasi mengatakan bahwa warga PSHT dari berbagai daerah mengendarai roda empat dan dikawal petugas dari daerah. Meskipun dia yang turun ke lokasi untuk memantau langsung giat di makam Pilangbango menjumpai ada warga yang mengendarai sepeda motor, namun yang bersangkutan diminta kembali dan tidak diberi izin masuk. ‘’Kami peringatkan untuk balik dan bergabung dengan rombongan,’’ beber Nasrun.

Wali Kota Madiun Maidi mengungkapkan, saat ini era 4.0 bukan zamannya lagi tawuran. Hal itu ditunjukkan warga yang melaksanakan Suroan. Para pendekar datang mengikuti aturan dengan santun dan menghormati satu sama lain. ‘’Intelektual ditunjukkan, santun, bisa menghargai, dan saling menghormati,’’ ucap Maidi. (kid/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close