Madiun

Sunday Market

Oleh: Maidi

SUNDAY Market bukan konsep baru. Bahkan, sudah ada banyak di negara maju. Yang saya tahu seperti di Melbourne, Australia. Sunday Market di sana tampak berkelas. Setiap lapak pedagang tertata rapi. Seragam pula. Indah sekali. Nyaris tidak ada sampah terlihat. Mereka yang kaya juga turut berjualan. Tidak memakai tenda. Namun, menggunakan mobil untuk berjualan barang-barang pribadi. Semua dijual murah. One dollar, two dollar. Murah meriah pokoknya. Dan yang terpenting tidak mengganggu pengguna fasilitas umum lain.

Saya ingin konsep itu ada di Kota Madiun. Kota kita sudah memiliki embrio dari car free day. Transaksi jual-beli mengemuka di sana. Harinya juga sama, Minggu. Hanya, belakangan banyak komplain masuk ke saya. Mulai dari pengendara jalan, pengusaha sekitar lokasi CFD, hingga banyak lagi lainnya. Hal itu bisa saya pahami. CFD saat ini menggunakan salah satu fasilitas umum yang fungsi utamanya bukan untuk berjualan. Bahkan, tidak seharusnya untuk jual-beli. CFD di Kota Madiun memanfaatkan Jalan Pahlawan. Tak heran, pengguna jalan sebagai pemanfaat yang semestinya terganggu.

Pemerintah Kota Madiun sudah berupaya menekan masalah itu dengan membatasi jam operasional CFD. Kegiatan hanya diperbolehkan hingga jam 08.00. Nyatanya, masalah belum teratasi sepenuhnya. Masih ada masalah baru. Sampah. Data yang saya terima, setiap gelaran CFD menghasilkan satu sampai dua ton sampah. Padahal hanya dalam waktu dua jam. Ironisnya, didominasi sampah plastik. Padahal, dunia tengah gencar mengurangi sampah plastik. Ini memantik perhatian saya untuk mengulik lebih jauh. Benar saja, jumlah pedagangnya sudah sangat padat. Terdapat seribu lebih pedagang. Padahal, Jalan Pahlawan yang digunakan untuk lokasi CFD hanya beberapa ratus meter.

Hal itu juga sudah melenceng dari fungsi utama CFD yang seharusnya tempat masyarakat menikmati udara tanpa asap kendaraan. Mulai berolahraga, bermain, ataupun sekadar jalan-jalan. Jual-beli hanya fungsi pelengkapnya. Tetapi orientasi itu sudah berubah. CFD menjadi seperti pasar tumpah. Kotor, semrawut, dan tak nyaman. Ini tentu menimbulkan kesan negatif. Terutama dari masyarakat luar yang datang.

Tak dimungkiri CFD memacu perekonomian masyarakat. Karena itu, saya tidak berencana menghilangkan CFD. Namun, mengemasnya lebih baik, indah, modern, dan lebih nyaman. Yang terpenting tidak mengganggu pengguna fasilitas umum lain. Cara satu-satunya dengan memindahkan lokasi CFD tersebut. Tidak ke jalan lain. Namun, dipindahkan ke taman. Rencananya, Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun yang menjadi lokasi baru. Namanya juga akan saya ubah. Jadi Sunday Market. Biar lebih menjual dan lebih keren. Seperti di negara maju.

Pemenuhan fasilitas sudah dan tengah dilakukan. Fungsi taman akan ditingkatkan. Tidak hanya sebagai olahraga. Tetapi juga jual-beli dan wisata. Pedagang akan ditata rapi menggunakan tenda kerucut. Warnanya senada. Biar seragam. Tenda juga tidak hanya untuk kerapian. Tetapi juga sebagai peneduh. Rencananya, operasional Sunday Market lebih lama. Sampai pukul 12.00. Pedagang dan pengunjung tidak perlu cepat-cepat pergi. CFD yang biasa hanya dua jam. Kini bisa sampai enam jam. Di sana juga ditambah taman bermain dan taman seribu bunga. Ini bisa menjadi spot foto yang digemari masyarakat era kekinian. Saya juga berencana menambah dermaga untuk wisata air di Kali Bantaran Madiun. Namun, ini hanya dibuka saat musim kemarau seperti ini. Semua titik akan dioptimalkan. Ke depan, tidak menutup kemungkinan akan ada banyak fasilitas pendukung. Ekonomi pedagang lancar. Pengujung pun suka.

Penataan ulang pedagang ini juga sebagai sarana pembelajaran bersama. Salah satunya, tentang kedisiplinan. Masalah sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai penyedia fasilitas. Tetapi juga masyarakat, khususnya pedagang. Pedagang tidak boleh lagi buang sampah sembarangan. Lapak tempat berjualan harus kembali bersih seperti saat awal datang. Mereka tidak boleh meninggalkan sampah di lapak. Sebelum dan sesudah, lapak akan difoto. Pedagang tidak boleh lagi menempati lapaknya jika meninggalkan sampah di sana. Pedagang akan didata beserta nomor lapaknya. Sehingga mudah menelusurinya.

Hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama. Pedagang yang tidak mengindahkan aturan, siap-siap hengkang. Apalagi, ada sekitar 300 pedagang dalam waiting list. Pedagang baru yang ingin bergabung ini saya masukkan dalam daftar tunggu. Pedagang lama yang biasa berjualan di CFD tetap prioritas utama. Terutama pedagang warga Kota Madiun. Kedisiplinan ini penting untuk melatih pedagang. Tatkala sudah tertib dan disiplin, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Lebih siap berdagang di mana pun.

Konsep ekonomi kreatif seperti ini perlu untuk memacu masyarakat menuju kesejahteraan yang lebih baik. Kesejahteraan tidak cukup dengan diberikan bantuan. Namun, masyarakat harus diberikan stimulus agar terpacu lebih baik dan lebih baik lagi. Sunday Market merupakan salah satu stimulus menuju ke sana. Pemerintah sudah memberikan fasilitas yang baik. Masyarakat juga harus optimis. Konsep Sunday Market ini akan saya coba 4 Agustus mendatang. Ayo kita ramaikan. Mari kita sukseskan.

*Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, M.Pd.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button