Madiun

Sunaryo Manfaatkan Limbah Kayu sebagai Media Lukisan

Proses tidak akan mengkhianati hasil. Itu pula yang dirasakan Sunaryo selama membangun galeri seni lukisnya dari nol. Belajar melukis secara otodidak, hasil lukisan bermedia kayu buatannya telah merambah berbagai daerah di tanah air.

—————-

NUR WACHID, Madiun, Radar Madiun

DINDING galeri Mangsi Art milik Sunaryo di Jalan Kapten Tendean, Kelurahan Pandean, Taman, tampak disesaki berbagai lukisan bermedia kayu. Paling mencolok gambar sketsa Gus Dur mengenakan kacamata. Lukisan itu digambar menggunakan tinta di permukaan kayu jati Belanda berbentuk oval.

Sunaryo sengaja membuat bentuk oval lantaran lukisan itu dianggapnya paling bersejarah. Sosok Gus Dur itu dilukis saat dia masih berada di Malaysia tujuh tahun silam. Pun, Sunaryo tidak akan menjualnya meski ditebus dengan harga berapa pun.

Galeri lukis milik Sunaryo didirikan awal 2018 lalu. Meski belum genap dua tahun, karyanya telah merambah berbagai daerah di tanah air. Mulai Solo, Jogjakarta, Palembang, Kalimantan, hingga Papua. Itu tidak terlepas dari media serta peranti yang digunakannya untuk membuat objek gambar. ‘’Semua saya gambar manual, bukan hasil cetakan atau ngeblat,’’ ujarnya.

Dia sengaja menggunakan limbah kayu jati Belanda dan pinus untuk media lukis. Sebab, memiliki corak sesuai lukisannya yang digambar menggunakan tinta. Satu lukisan berukuran 30×40 sentimeter biasanya dirampungkan dalam waktu tiga sampai empat hari. ‘’Tergantung tingkat kesulitannya,’’ ungkap pria kelahiran 1994 itu.

Sunaryo sejak kecil gemar menggambar. Hobi itu berlanjut hingga dewasa. Selama merantau di Malaysia sejak 2012 silam, dia selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk melukis. Selama tiga tahun sebagai staf holding di Petronas, Sunaryo iseng memanfaatkan sebuah kayu tak terpakai sebagai media lukis wajah mendiang Gus Dur, sosok ulama panutannya. ‘’Saya pasang di kamar, pas pulang saya bawa juga,’’ sambungnya.

Akhir 2015, Sunaryo memutuskan pulang kampung. Selain kontrak kerja telah usai, dia berniat membuka usaha. Awalnya Sunaryo merintis persewaan peralatan camping. Namun, hanya bertahan dua tahun. Di tengah kebingungan usahanya gulung tikar, muncul ide membuka galeri. ‘’Awal 2018 coba buat, ternyata banyak yang pesan,’’ tuturnya.

Selama ini dia melayani pesanan lukisan sketsa wajah, kaligrafi, maupun berbagai jenis lukisan lainnya. Harganya bervariasi menyesuaikan ukuran. Untuk ukuran 20×25 sentimeter dibanderol Rp 120 ribu, 22×40 sentimeter Rp 150 ribu, dan 30×40 dihargai Rp 200 ribu. Karyanya dipasarkan melalui Instagram. ‘’Kebanyakan pemesannya dari luar kota,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close