Pacitan

Sumur Mengering, Tak Bisa Andalkan Dropping

PACITAN – Warga Dusun Weru, Tambakrejo, Pacitan, menyerbu truk tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Rabu (26/6). Sembari menenteng ember dan jeriken mereka mengantre mengambil air bersih dropping-an yang dituangkan di bak penampungan. ‘’Sudah sekitar satu bulan ini air bersih susah didapat,’’ kata Juli, salah seorang warga setempat.

Menurut Juli, kondisi tersebut sudah menahun di dusunya setiap musim kemarau. Sumur tradsional sudah tak mengeluarkan air lagi. Untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari mereka harus mengambil dari sumur umum. Lokasinya sekitar satu kilometer dari permukiman dekat sungai. Mereka juga harus jalan kaki ke lokasi. ‘’Harus hemat. Biasanya untuk mandi atau cuci,’’ ujarnya.

Juli menambahkan jika hanya mengandalkan air besih kiriman BPBD, tak akan bertahan lama. Terlebih, harus dibagi dengan warga lain yang juga membutuhkan. Sebab, hampir satu dusun minim sumber air bersih. ‘’Satu kali kirim mungkin akan bertahan tiga atau empat hari. Di sini warga yang butuh banyak,’’ ungkapnya.

Sunaryo, warga lainnya, menyebut kemarau kali ini datang lebih awal ketimbang tahun lalu. Sehingga, sejak tiga bulan lalu air sumurnya  terus berkurang. Bahkan, beberapa pekan terakhir, sumur sedalam 11 meter itu mulai mengering dan hanya menyisakan sedikit air. ‘’Sudah susah, kalau mau diambil harus nunggu sebelum terisi lagi sumurnya,’’ tuturnya.

Warga berharap pemerintah menemukan solusi masalah air di dusunnya. Pasalnya, dari tahun ke tahun kekeringan kian parah. Kemarau tahun lalu, hampir empat bulan lebih harus menghemat air. Bahkan, dia harus membeli air dari pedagang keliling untuk mencukupi kebutuhan. Tiga meter kubik air Rp 180 ribu untuk seminggu. ‘’Kalau beli sendiri mahal. Kalau nunggu lama. Serba salah,’’ pungkasnya. (gen/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close