features

Sumbulan Sebuah Dusun di Ponorogo yang Hilang

Ditinggalkan Seluruh Penduduk karena Sepi

Nama Dusun Sumbulan kembali mengemuka setelah polisi berdatangan mencari motor curian. Pelaku curanmor sengaja menyembunyikan barang curiannya di dusun yang kini tak lagi berpenghuni itu. Sekitar enam tahun lalu, Sumbulan ditinggalkan penghuninya yang terakhir.

——————————–

HANYA ada empat rumah tak terawat. Dua jiwa yang sudah lanjut usia (lansia). Surau kecil dengan pengeras suara pas-pasan. Itu pun panggilan salatnya cuma saat duhur dan asar. Suara azan itu terdengar bersamaan Salamun dan Tohari, dua saudara sepupu, menengok Dusun Sumbulan di Desa Plalangan, Jenangan, Ponorogo. Tersisa laki-laki 80 tahun dan 70 tahun itu yang setia menghidupkan surau.

Nama Sumbulan mulai menghilang dari peta Desa Plalangan. Lokasinya terpencil di ujung barat desa. Semua penduduknya kini pindah domisili. Tak ada generasi penerus yang sudi berdiam di Sumbulan. Mereka kebanyakan ikut tinggal bersama suami atau istri setelah menikah. ‘’Alasannya ya ikut garwo (pasangan, Red). Dusun sini buntu, kalau mau ke desa sebelah harus lewat jembatan sesek,’’ kata Salamun.

Pria sepuh itu mengenang ada sekitar 17 rumah di Sumbulan pada era 1960-an. Bahkan, pernah berdiri pondok pesantren lengkap dengan masjid dan makam pendirinya. Kini tinggal tersisa empat bangunan rumah. Salah satunya milik Salamun. Pun, dia belakangan ikut-ikutan pindah ke Kelurahan Singosaren. Nyaris setiap hari Salamun dan Tohari bernostalgia ke Sumbulan. ‘’Kebetulan punya sawah di sini, sekalian menghidupi masjid,’’ ujarnya.

Masih ada jaringan listrik di Sumbulan. Tohari rutin menyalakan bola lampu di rumahnya yang kosong. Bangunan tempat tinggal sederhana itu sebenarnya sudah dihibahkan Tohari ke Mustofa, adiknya. Mustofa yang kali terakhir meninggalkan Sumbulan enam tahun lalu. Istri Mustofa merengek minta pindah lantaran tidak kuat sepi. ‘’Pindah ke Desa Tegalsari, Jetis. Kalau saya sudah lama pindah ikut istri di Kelurahan Kadipaten,’’ ucap Tohari yang lebih muda 10 tahun dari Salamun itu.

Keramaian hanya pecah di Sumbulan saat hari raya tiba. Warga asli Sumbulan tetirah ke dusunnya. Mereka ziarah kubur ke makam leluhur. Pun, kambing kurban ajek disembelih setiap Idul Adha. Namun, Sumbulan belakangan kerap menjadi lokasi pembuangan sampah. ‘’Sering ada mobil pengangkut sampah datang,’’ ungkap Tohari. (mg7/c1/hw)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button