Ngawi

Sukardi Menyulap Bonsai Mati Jadi ”Hidup Kembali”

Limbah bisa jadi berkah. Bahkan, dengan sentuhan kreativitas mampu menghasilkan uang. Kayu bekas bonsai mati pun disulap seakan pohon kerdil itu hidup lagi. Bisnis itu digeluti Sukardi sejak tiga tahun terakhir.

————–

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

BUNGA aneka warna menarik perhatian para pengunjung Alun-Alun Merdeka Ngawi. Ditata apik. Beragam jenis. Ada anggrek, tulip, hingga mawar. Juga bonsai dalam pot keramik mini. Beberapa tanaman hias  jenis rambat dinding pun ada.

Sukardi serius bersila di belakang kios sembari menggosok batang kayu kering. Ternyata, keindahan tersebut hanyalah rangkaian imitasi karya kreatifnya. ‘’Semua dari plastik, bonsainya juga saya buat sendiri,’’ kata pemilik kios bunga hias itu.

Kepiawaian Sukardi merakit bunga hias berawal dari keisengan mengisi masa tuanya. Tiga tahun silam, pria kelahiran 1961 ini penasaran dengan batang bonsai yang tak terpakai milik rekannya. Batang tanaman kerdil tersebut mati setelah dibentuk puluhan tahun. Sayang dan mubazir. Sukardi mencoba membersihkannya dari jamur dan kotoran. Lantas ditempeli daun plastik. Bonsai pun ”hidup kembali”. ‘’Tetangga yang lihat bonsai itu penasaran dan minta dibuatkan,’’ terang pria kelahiran Sumbertaman, Wonoasih, Probolinggo, ini.

Bentuk mirip aslinya. Perawatan lebih gampang. Membuat banyak orang kepincut bonsai imitasi Sukardi. Tak ingin pelanggannya kecewa akibat batang bonsai keropos dimakan rayap dan jamur, bapak lima anak ini berimprovisasi. Kayu mati hasil barter pemilik bonsai dengan pot keramik direndam dua minggu agar kulit kayu copot. Lantas dijemur hingga benar-benar kering. Itu kunci menjaga batang bonsai awet dan ringan. ‘’Tinggal diampelas dan dipelitur, lalu ditempeli daun,’’ papar kakek empat cucu ini.

Meski terlihat mudah, namun bisnis pria lulusan sekolah dasar itu sempat menuai kendala. Terlebih, saat pangsa pasar serupa mulai bermunculan. Harganya lebih murah. Namun, kualitasnya jauh di bawah karyanya. Sukardi terpaksa ikut-ikutan menurunkan harga. ‘’Dulu satu bonsai bisa laku sekitar Rp 1 juta. Sekarang cuma ratusan ribu,’’ ungkap suami Siti Sarah ini.

Selain dijual online, Sukardi juga membuka kios nomaden. Saban bulan, pria beruban itu berpindah-pindah menggelar lapak dagangannya. Targetnya, tempat keramaian di kota atau kabupaten yang tengah menggelar event. ‘’Hampir semua kota di Jawa Timur sudah saya kunjungi. Sekalian jalan-jalan masa tua,’’ ucapnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close