features

Sudirno, Perancang Uang Kertas Tahun 1980-an Asal Pacitan

Selewat empat dasawarsa nama Sudirno nyaris tak bergema di Indonesia. Padahal, kakek 79 tahun itu pernah dipercaya menjadi delinavit (perancang uang kertas). Karyanya diabadikan dalam pecahan Rp 10 ribu bergambar dr Sutomo (1980) dan pecahan Rp 20 ribu bergambar RA Kartini (1985). Nama kakek asal Dusun Selur, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, itu tertera di sudut lembaran uang: Sudirno Del.

SUGENG DWI N, Jawa Pos Radar Pacitan

PAHLAWAN perempuan berkebaya dengan latar candi di belakangnya diperhatikan Sudirno dengan saksama. Samar-samar dia menyegarkan ingatan kala masih berkiprah di dunia seni rupa era 80-an silam. ‘’Bagian depan ini tentang sosok tokoh bangsa, kalau bagian belakang harus bisa menggambarkan karakter dan ciri khas bangsa,’’ ujar Sudirno sembari membolak-balik uang lama yang masih dikoleksinya.

Dua pahlawan dalam dua lembaran rupiah itu cukup menggugah ingatan. Sesekali, Sudirno beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil koleksi piagam penghargaan di masa silam. ‘’Del itu singkatan dari bahasa Latin delinavit. Artinya perancang uang,’’ terangnya menunjukkan arti tulisan Sudirno Del di sudut uang kertas itu.

Kiprah Sudirno diawali 1965 silam. Kala itu, selepas lulus sekolah dia memutuskan merantau ke Jakarta Selatan. Dia tertarik bangunan megah bertuliskan ‘’Percetakan Kebayoran’’. Tanpa ragu dirinya langsung menuju pos penjagaan. Bermodal ijazah SMA dan keahlian menggambar, Sudirno menyatakan maksud kedatangannya untuk melamar pekerjaan. ‘’Waktu itu kerjaan saya muter-muter (mencari lowongan) dan bantu-bantu orang di sekitar asrama,’’ kenangnya.

Tak dinyana, kantor percetakan yang kini menjadi Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) itu tengah mencari karyawan. Spontan, Sudirno menunjukkan karyanya berupa lukisan sketsa menggunakan pensil di atas kertas polos. ‘’Waktu itu saya menggambar Jenderal Sudirman,’’ terang kakek yang hobi menggambar sejak sekolah dasar itu.

Meski bekerja di tempat percetakan, namun bukan berarti bapak lima anak itu langsung mendapat mandat merancang uang. Tugas pertamanya justru menjadi cleaning service. Namun, Sudirno tak pernah putus asa untuk terus berkarya dan menunjukkan bakat menggambarnya. Bermodal teknik yang dipelajarinya secara otodidak, wajah Jenderal Sudirman berhasil ditirunya. ‘’Waktu itu saya sempat dimarahi atasan. Kok beraninya gambar uang. Saya jawab santai saja. Nggak ada larangan menggambar uang. Akhirnya saya diberi kesempatan,’’ paparnya.

Kala itu, Sudirno butuh dua bulan untuk menciptakan gambar satu pecahan mata uang. Mencari inspirasi hingga menentukan teknik menggambar butuh pemahaman. Termasuk saat mencari ide gambar belakang dalam mata uang. Jangan sampai antara kedua sisi mata uang konsepnya bertolak belakang. ‘’Tidak ada yang khusus. Bagian belakang itu intinya harus bisa menunjukkan Indonesia. Cari idenya dari buku dan merenung,’’ ungkapnya.

Menjadi perancang uang, bagi Sudirno, merupakan pengalaman tak terlupakan. Bukan sekadar mencatatkan namanya dalam sejarah, namun apa yang diukirnya juga merupakan bentuk pengabdian kepada Ibu Pertiwi. ‘’Sehari ratri, ora ketang saklimah anyipta lungit (dalam sehari semalam, meskipun hanya sepatah kata harus ada karya yang dihasilkan, Red),’’ pesannya untuk generasi muda di Hari Kemerdekaan ini. (gen/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button