Madiun

Sudah Lima Tahun Tika Tekuni Kerajinan Montessori

Kreativitas Rustika Dewi Wijayanti berbuah manis. Memanfaatkan kain flanel, perempuan itu menyulapnya menjadi montessori alias boneka edukasi. Kini, produk buatannya sudah merambah berbagai daerah di tanah air.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

SEMUA dimulai delapan tahun silam. Rustika Dewi Wijayanti iseng memanfaatkan kain flanel tak terpakai. Kain itu disulapnya menjadi aksesori hiasan pensil untuk anak perempuannya. Selain itu, dia mengkreasikannya menjadi boneka mini untuk hiasan pintu.

Tak disangka, banyak orang yang berminat. Akhirnya pada 2016 lalu dia mulai serius menjadikannya sebagai usaha sampingan. Pilihannya jatuh pada montessori alias boneka edukasi yang biasa digunakan sebagai alat peraga. ”Warnanya yang cerah membantu anak prasekolah belajar mengenal warna,” kata Tika, sapaan akrab Rustika Dewi Wijayanti.

Selama ini Tika tidak menemui kendala berarti untuk mendapatkan bahan montessori lantaraan mudah didapat di pasaran. Sedangkan tokohnya, dia kerap terinspirasi karakter film kartun atau animasi. ‘’Sehari bisa menyelesaikan dua model. Misalnya boneka jari dan boneka tangan. Masing-masing 10-12 pieces,’’ ujar warga Jalan Glatik, Nambangan Kidul, Manguharjo, itu.

Proses produksi montessori dimulai dengan membuat pola pada kain flanel. Selanjutnya, kain dipotong mengikuti pola. Lalu, dijahit dengan tusuk feston. Setelah itu, dipasang dakron sebagai pelapis isi boneka. ‘’Kemudian, bagian badan busa dilapisi kain dan diberi perekat untuk menempelkan bagian-bagian montessori,” urainya.

Kini, tidak hanya diminati warga kawasan Madiun Raya, montessori karya Tika juga sudah merambah ke berbagai daerah seperti Surabaya, Madura, dan Kalimantan. Dalam satu bulan sekitar 80 pieces montessori berpindah tangan ke konsumen. ‘’Tapi, selama pandemi berkurang jadi 50 pieces. Ya berapa pun tetap disyukuri,” ucapnya.

Beberapa waktu lalu, karya Tika itu sempat dipilih Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur untuk mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual (HKI) secara cuma-cuma. ”Prosesnya mendaftar dulu di dinas terkait,’’ ujarnya. ‘’Sudah cukup lama, bahkan saya kira tidak terpilih,” imbuhnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button