Madiun

Subscriber Lampaui 100 Ribu, Ayis Nurhidayat Diganjar Silver Play Button

Kini Harus Bersaing dengan YouTuber Kalangan Artis

Tidak banyak YouTuber lokal Madiun yang mendapatkan penghargaan silver play button dari YouTube. Dari yang sedikit itu terselip nama Ayis Nurhidayat. Jalan berliku harus dilalui pemuda 26 tahun itu sebelum meraih capaian tersebut.

__________________________

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

TANPA sedikit pun rasa takut, Ayis Nurhidayat menaiki Gajah Mada yang sedang dielus-elus seorang pria parobaya. Setelah naik, pemuda 26 tahun itu mengangkat jempol tangannya sambil tersenyum.

Jangan salah, Gajah Mada bukanlah orang. Melainkan sapi milik Suwandi, warga Lumajang. Ukurannya luar biasa besar. Beratnya mencapai 1,25 ton. ‘’Untuk pakan tambahannya selain rumput apakah pakai jerami juga?,’’ tanya Ayis kepada sang pemilik sapi.

Sapi bertubuh jumbo itu baru sekitar tiga pekan diunggah Ayis ke kanal YouTube miliknya, Ais Media. Meski begitu, sudah ditonton hampir 420 ribu netizen dari berbagai daerah di tanah air, bahkan luar negeri. Juga mendapatkan lebih dari 250 komentar.

Ayis merupakan salah seorang YouTuber Kota Madiun yang telah mendapatkan silver play button. Penghargaan itu diberikan YouTube setelah subscriber kanalnya mencapai lebih dari 100 ribu. ”Kirim e-mail sampai tiga kali, yang terakhir baru direspons dan penghargaan itu dikirim,” kenang warga Sawahan, Kabupaten Madiun, tersebut.

Ayis diganjar silver play button pada November 2019 lalu. Butuh waktu sekitar empat tahun baginya untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Namun, karirnya sebagai YouTuber sejatinya sudah dimulai dari 2013 silam. Namun, badai suspend membuat kanalnya diblokir. ”Waktu itu aturan belum seketat sekarang,” ujarnya.

Kala itu memang belum ada syarat minimal 1.000 subscriber dan 4 ribu jam tayang untuk mendapatkan iklan. Setelah adanya peraturan baru sejak awal Januari 2018, kanal YouTube-nya nihil iklan. ”Saat itu selama empat bulan tidak dapat apa-apa. Saya kemudian rajin mengunggah video untuk mengejar subscriber. Butuh dua minggu bisa memenuhi syarat minimal itu,” kenangnya.

Aktivitas Ayis berkarir sebagai YouTuber dimulai setelah beberapa kali mengalami kegagalan merintis bisnis. Pun, cita-cita menjadi tentara terpaksa dikubur dalam-dalam lantaran gagal seleksi.

Pada 2012 dia melanjutkan kuliah ke perguran tinggi. Meski begitu, kekhawatirannya bakal sulit mendapat pekerjaan selalu menghantui. ”Akhirnya saya tidak fokus kuliah, justru coba-coba bikin usaha. Ternak lele dan bebek pernah saya lakukan, tapi semuanya gagal,” ungkap Ayis.

Dari berselancar di dunia maya, Ayis akhirnya membuat blog demi berburu dolar lewat Google Adsense. ‘’Tapi, ternyata tidak mudah. Itu tahun 2013, awal saya berkecimpung di YouTube,” kenangnya.

Konten seputar peternakan menjadi fokus utama Ayis. Kali pertama dia iseng membuat video tentang sapi miliknya yang ternyata mendapat respons positif netizen. Akhir tahun lalu dia keliling 12 hari ke Jember, Bondowoso, Situbando, Banyuwangi, Lumajang, dan Bali naik transportasi umum. Tujuannya membuat konten seputar peternakan besar sekaligus traveling. ”Banyak peternak yang kontak saya, suruh mampir,” sebutnya.

Kini, penghasilan dari YouTube sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Ayis. Namun, sempat berkurang signifikan setelah adanya aturan standar video yang semakin ketat. ”Karena pendeteksinya itu sistem, kadang puting hewan saja diblokir karena dianggap ada unsur pornografi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ayis kini juga harus menghadapi persaingan dengan sesama YouTuber yang semakin ketat. Belum lagi, sekarang banyak artis yang nyambi mengais rezeki dari YouTube. ”Sekarang banyak YouTuber yang pendapatannya turun,” katanya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close