Madiun

Stres Belajar, Tugas Menumpuk

Siswa Butuh Konseling, Ortu Perlu Parenting

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Mental siswa cukup ’’terpukul’’ menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang tak kunjung berakhir. Mayoritas stres karena beban tugas yang diberikan dari dalam jaringan (daring) menumpuk.

Jawa Pos Radar Madiun bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) kembali melakukan survei. Melibatkan sekitar 200 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA-sederajat. Dari angket yang disebar lewat Google Doc, tiap responden diminta mengisi 30 pertanyaan. Sebanyak 27 pertanyaan berupa opsi pilihan dan tiga opsi uraian. Dengan margin of error kurang dari dua persen. ‘’Kebanyakan siswa tidak suka PJJ,’’ kata Sekretaris IGI Kota Madiun Eko Setyorini.

Eko prihatin mendapati fakta 143 siswa stres. Hanya 61 yang tidak. PJJ dalam waktu cukup lama memang membuat bosan. Diperkuat hasil survei yang menunjukkan 167 siswa merasa bosan, 36 lainnya tidak. Rasa bosan itulah yang memicu terjadinya stres. ‘’Mereka stres karena tidak ada yang tahu kapan berakhirnya PJJ ini,’’ ujarnya.

Gangguan kejiwaan ringan itu mendasar kondisi siswa selama mengikuti PJJ. Terungkap dari jawaban uraian yang dituliskan siswa. Dua jawaban mendominasi. Pertama, siswa menguraikan banyak guru yang memberikan soal tanpa penjelasan. Kedua, banyak kewajiban rumah dan sekolah yang bersamaan sehingga ada beberapa tugas yang molor. ‘’Yang kami takutkan kesehatan mental mereka terganggu, jika hal ini tidak segera mendapatkan perhatian serius,’’ kata guru bimbingan konseling (BK) SMPN 1 Kota Madiun itu.

Fakta terkait lainnya, 125 siswa tidak senang melangsungkan pembelajaran di rumah. Jawaban sebaliknya dari pertanyaan itu diisi 85 siswa. Pun, 133 siswa tidak dapat memahami materi dengan baik. Hanya 74 siswa yang mengaku paham. Sebanyak 135 siswa juga kesulitan mengelola waktu pembelajaran, hanya 68 siswa yang tidak. ‘’Berbagai faktor itulah yang membuat siswa merasa tidak nyaman dengan PJJ,’’ urai Eko.

Pandemi Covid-19 tetap menjadi kewaspadaan seluruh pihak. IGI memberikan tiga masukan kepada pemerintah. Pertama, PJJ dijalankan disertai dengan motivasi untuk mengatasi kejenuhan. Diharapkan ada variasi dalam pemilihan metode atau media yang digunakan. ‘’Agar siswa tetap tertarik dengan PJJ,’’ ujarnya.

Kedua, perlu keterlibatan peran guru konseling untuk mengatasi anak-anak yang mengalami kejenuhan PJJ di sekolah masing-masing. Sekaligus membangun koordinasi dan komunikasi dengan orang tua. Sehingga orang tua yang menjadi kepanjangan tangan pendidik dapat turut serta mengurai masalah pembelajaran. ‘’Orang tua perlu parenting, bisa online kok,’’ sebutnya.

Ketiga, IGI mendesak pemerintah memikirkan formula tepat. Bagaimana formula itu menjadikan guru tepat dalam mengatur dan melaksanakan PJJ. Agar pembelajaran tidak membosankan dan lebih bermakna. ‘’Karena pendidikan ini yang menjadi fokus utama. Bagaimana generasi ke depan, ditentukan oleh ketepatan formula yang dipilih saat ini,’’ tegasnya. (kid/c1/fin)

Dindik Siapkan Relaksasi Kurikulum

DINAS Pendidikan (Dindik) Kota Madiun menyiapkan relaksasi kurikulum yang bakal digulirkan awal Oktober. Formula itu diandalkan untuk mengurai peliknya pembelajaran di masa pandemi.

Kabid Pendidikan Dasar (Pendas) Dindik Kota Madiun Slamet Hariyadi tak menampik guru kesulitan melihat perkembangan belajar anak. Sementara Kurikulum 2013 (K-13) murni tidak relevan dengan situasi pandemi saat ini. Perlu penyesuaian. Sampai kini pun belum ada sinyal kapan pembelajaran tatap muka dibuka kembali. ‘’Evaluasi kami, saatnya melakukan relaksasi. Kurikulum disederhanakan,’’ ujarnya.

Secara prinsip, K-13 tetap diimplementasikan. Hanya, nantinya bakal dilakukan pemetaan kompetensi dasar (KD). Diprioritaskan KD yang urgen serta dapat diterapkan dalam pembelajaran di masa pandemi ini. ‘’Agar guru tidak kesulitan dan siswa lebih mudah memahami pelajaran,’’ tuturnya.

Relaksasi kurikulum lebih menekankan pembelajaran faktual dan aktual. Siswa diajak melakukan pengamatan lingkungan di sekitarnya yang memiliki keterkaitan dengan materi pelajaran. ‘’Artinya, anak-anak lebih banyak diminta melaporkan berdasarkan tindakan,’’ terangnya.

Dindik juga siap menggelar parenting bagi orang tua. Mempertimbangkan pentingnya peran keluarga dalam pembelajaran di masa pandemi. Dalam parenting itu, orang tua bakal dibekali gambaran memberikan relaksasi terhadap siswa. ‘’Relaksasi fisik, olahraga ringan, atau aktivitas berkebun hingga bersih-bersih rumah,’’ paparnya.

Melalui parenting berkala, diharapkan orang tua melakukan pendampingan dari sisi psikologi dan sosial. Dindik juga bakal melibatkan guru BK. Guna menentukan prioritas KD dari aspek psikologis dalam relaksasi kurikulum yang ditargetkan jalan awal bulan depan. ‘’Guru juga harus kreatif menyelipkan joke atau dongeng ringan sebelum memulai pembelajaran. Agar siswa lebih tergugah dan pembelajaran tidak menjenuhkan,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button