AdvertorialMadiun

Stikes BHM Madiun Cetak Garda Terdepan Bidang Kesehatan

Ingatkan Fungsi Profesi, Pencegahan, Promotif, Kuratif, dan Rehabilitatif

Mata enam wisudawan terbaik Stikes Bhakti Husada Mulia (BHM) Madiun berkaca-kaca, kemarin (27/10). Kholifa Dwi Wahyuningtyas, Ayu Kurnia, Devi Nur Cahyani, Devira Ikbal, Dara Aprilia, dan Dwi Pujiastuti tidak menyangka menyandang predikat lulusan terbaik dari masing-masing program studi (prodi) di tengah pandemi global Covid-19. Indeks prestasi kumulatif (IPK) keenam wisudawan tersebut rata-rata di atas 3,7. Mereka pun layak memperoleh predikat cum laude.

 

WISUDAWAN terbaik dari prodi D-III Farmasi Kholifa Dwi Wahyuningtyas menuturkan, tidak pernah terlintas di benaknya bakal lulus dengan predikat terbaik. Selama ini Kholifa menuntut ilmu seperti halnya mahasiswa lainnya. Bedanya, cerita seorang kerabatnya tentang tugas tenaga kesehatan (nakes) benar-benar memotivasinya. Kholifa tertantang menjadi nakes yang mengabdikan hidupnya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. ‘’Saudara saya sering menceritakan secara detail bagaimana tugas dan tanggung jawab seorang nakes. Dari situ saya menjadi tertarik pada dunia kesehatan, saya ingin segera menyelesaikan studi dan bisa terjun langsung menjadi nakes,’’ ujarnya.

Perempuan kelahiran Ponorogo itu bersyukur bisa meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,88. Menariknya, awalnya Kholifa tidak tahu dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Namun laman akun media sosialnya dibanjiri ucapan selamat dari teman-temannya, dia pun akhirnya tahu kabar bahagia tersebut. ‘’Tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Orang tua menangis bahagia setelah saya kasih tahu,’’ ucap gadis berusia 22 tahun itu.

Lain halnya dengan Ayu Kurnia. Lulusan S-1 Keperawatan dengan raihan IPK 3,84 itu mengaku memiliki kendala saat mengerjakan tugas akhir. Kendala itu ada pada perizinan di rumah sakit. Sebab, bertepatan dengan pandemi Covid-19. Saat itu semua rumah sakit dibatasi aktivitasnya. ‘’Perizinan terkendala, padahal sudah wira-wiri tetap tidak bisa. Penelitian jadi molor selama empat bulan,’’ ujarnya.

Perempuan kelahiran Madiun itu tidak patah arang. Dia tetap sabar menunggu keputusan dari rumah sakit. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pihak rumah sakit memberikan izin penelitian. ”Harusnya ada proses tatap muka dengan pasien, tapi diubah dengan melihat riwayat pasien melalui data rekam medis. Agak sulit, tapi mau bagaimana lagi,” jelasnya.

Sementara Devira Ikbal tidak bisa menutupi kebahagiaannya sekaligus rasa haru ketika akan diwisuda. Dia bahagia karena menjadi lulusan terbaik di prodi D-3 Farmasi dengan IPK 3,75. Devira sempat kesulitan dengan materi yang diberikan di awal perkuliahan. Pasalnya, dia bukan berasal dari SMK Farmasi melainkan SMA. ”Sempat keteteran, namun saya menambah jam belajar agar bisa mengimbangi teman-teman,” ucap perempuan yang pernah melakoni studi banding ke Malaysia itu.

Ketua Stikes BHM Madiun Zaenal Abidin mengatakan di tengah pandemi seperti ini, nakes merupakan garda terdepan dalam melawan Covid-19. Mereka dituntut bisa menjalankan aktivitas pokok dan fungsi dari profesinya masing-masing. Yakni pencegahan, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Keempat hal itu harus ditanamkan kemudian diterapkan nakes saat menjalankan tugasnya. ”Garda terdepan tidak semata-mata berhadapan dengan pasien. Namun mampu menjalankan profesinya di tengah masyarakat dan di lingkup komunitas tertentu,” ungkapnya.

Zaenal mengaku bangga dengan seluruh wisudawan. Sebab, di tengah pandemi Covid-19, mereka mampu menjalankan segala aktivitas perkuliahan dengan baik dan berhasil lulus. ‘’Ini bukan akhir, melainkan ini adalah awal dari perjuangan mereka dalam meniti masa depan. Tetap lakukan yang terbaik sesuai dengan tugas pokok dan profesinya. Serta selalu menjaga nama baik diri dan nama baik institusi,” tutur Zaenal.(fit/aan/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button