Bupati Menulis

Stasiun Barat Menjadi Magetan

BAGI saya kereta api sejak kecil sudah lekat dengan kehidupan dan mimpi saya. Pertama saya lahir di Maospati, yang secara kebetulan desa (sekarang kelurahan) terbelah menjadi dua seperti “jambe sinigar” oleh rel kereta api dari Stasiun Barat menuju Lapangan Udara Iswahyudi. Yang hampir setiap hari ada kereta api lewat membawa avtur atau bahan bakar pesawat tempur.

Apalagi sekitar tahun 1960-an ketika Indonesia dihadapkan pada pemberontakan Permesta dan juga konforntasi dengan Belanda dalam perebutan Irian Barat (sekarang Papua). Ketika hubungan Indonesia-Rusia pada era bulan madu. Kemudian Indonesia mendapatkan supply senjata canggih. Seperti pesawat tempur Mikoyan-Gurevich MIG 21, MIG 17  dan lainnya. Bahkan pesawat pembom jarak jauh Tupolev Tu-16. Sehingga Indonesia masuk jajaran Negara yang kuat militernya. Tidak heran kala itu yang namanya Maospati sebuah kota kecamatan menjadi sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan militer baik siang maupun malam.

Sering kali kalau malam pesawat tempur latihan terbang malam. Langit di atas desa seolah tiada pernah istirahat dengan desingan suara pesawat yang kadang sangat memekakkan telinga. Apalagi kalau siap-siap mau take off. Banyak terjadi kaca-kaca rumah penduduk sampai pecah.

Tidak heran kemudian dengan banyaknya pesawat terbang waktu itu, tentu sangat perlu banyak bahan bakar avtur yang dibutuhkan. Oleh sebab itu yang namanya kereta api yang lewat desa saya mengangkut bahan bakar sehari lebih dari sekali. Sekitar tujuh tangki setiap kali kereta api menarik. Sehingga saya mengenal kereta secara riil memang sejak kecil.

Malahan karena bude saya yang tinggal di Kecamatan Paron Ngawi, saya sering mengunjungi rumah bude dengan naik kereta api. Waktu itu dikenal sepur “kluthuk.”  Kereta penumpang yang dibuat dari kayu ditarik lokomotif uap DD tersebut terlihat gagah. Kereta tersebut merupakan kereta jarak pendek Solo-Madiun. Naik dari stasiun Barat dan turun di stasiun paron. Melewati stasiun Geneng.

Karena seringnya melihat naik kereta api saya waktu kecil kalau ditanya cita-cita besok kepingin jadi apa? Jawaban saya kepingin jadi masinis kereta api. Saya melihat keren banget. Berdiri di depan. Mengendalikan mesin besi yang demikian besar. Dan dapat membawa gerbong serta penumpang demikian banyak. Kemudian yang lebih penting menurut pemikiran saya wakyu itu bisa pergi dan melihat mana-mana. Betapa kerennya.

Berbeda dengan Kabupaten Ngawi memiliki dua stasiun kereta api. Stasiun Geneng dan Stasiun Paron. Dua-duanya merupakan ibukota kecamatan. Sedang Magetan hanya memiliki satu stasiun yaitu Stasiun Barat. Demikian juga nama Barat, yang saat ini dijadikan nama kecamatan. Dulunya sebelum jadi kecamatan Barat namanya Kecamatan Karangmojo. Sedang nama Stasiun Barat sendiri diambil dari nama wilayah yang membawahi letak stasiun yaitu dusun Barat yang  sekarang masuk desa Bogorejo. Nama Kecamatan Karangmojo sendiri sejak 13 Maret 2002 diganti menjadi Kecamatan Barat. Dengan pertimbangan, sudah ada nama Stasiun Barat, Pegadaian Barat, Kantor Pos Barat, Pasar Barat.

Posisi Stasiun Barat itu sendiri merupakan stasiun kecil. Saat sekarang masuk stasiun kelas II. Masuk Daop 7 di Madiun. Sejak dulu yang berhenti adalah kereta jarak pendek. Kalau ada kareta jarak jauh berhenti, hanya karena terjadi persilangan dengan kereta lainnya. Karena waktu itu kereta api menjadi salah satu pilihan utama kalau bepergian, baik jarak pendek maupun jarak jauh, stasiun Barat tergolong ramai. Sehingga di pintu masuk stasiun ada koplakan (tempat mangkal dokar) yang menunggu penumpang yang akan ke Maospati dan tempat lainnya.

Namun ketika mobil penumpang buatan Jepang sejenis mini bus mulai masuk ke Indonesia dan merambah ke desa-desa serta juga semakin murahnya sepeda motor, orang bepergian pada jarak pendek tidak lagi naik kereta api. Salah satu akibatnya seperti Stasiun barat menjadi semakin sepi penumpang yang turun dan naik untuk jarak pendek. Sehingga yang dulu seperti ada delman atau dokar yang mangkal, saat ini sudah tidak ada lagi.

Perubahan budaya dan naiknya kinerja PT KAI menjadikan saat ini kereta api merupakan salah satu pilihan yang disenangi masyarakat untuk pergi. Baik jarak menengah dan jauh. Belum untuk jarak yang pendek. Kecuali kereta komuter di Jakarta. Untuk jarak menengah apalagi pendek masyarakat lebih senang naik sepeda motor maupun mobil pribadi. Belum kendaraan umum seperti kereta api.

Namun harapan kita di Magetan ingin penumpang jarak menengah dan jauh bisa turun di Magetan. Namun harus diakui, sayangnya nama Kabupaten Magetan belum banyak dikenal. Malahan nama Sarangan lebih dikenal dari pada Kabupaten Magetan itu sendiri.

Menghadapi kenyataan itu, saya selaku bupati terus mencari cara bagaimana Magetan bisa lebih dikenal lagi. Salah satunya adalah dengan mengusulkan nama stasiun Barat menjadi Magetan. Bayangkan ketika saya ada acara di Surabaya dihubungi oleh salah satu penyiar stasiun radio terkenal di Surabaya. Kebetulan yang bersangkutan adalah mantan mahasiswa jurnalistik saya di Surabaya.

Waktu saya datang dan diterima oleh petugas resepsionis, kemudian saya ditanya,”Bapak dari mana?” Kemudian saya jawab,”Saya dari Magetan.” Yang mengejutkan saya ketika kemudian gadis petugas resepsionis menjawab dengan tidak merasa bersalah,”Magetan itu Jawa Tengah ya pak.” Tentu dengan sabar saya harus menjelaskan bahwa Magetan itu Jawa Timur paling ujung Barat.

Kemudian menjadi lebih jelas ketika saya kemudian mengatakan, ”mbak tahu Sarangan. Ya Sarangan itu masuk Kabupaten Magetan.” Baru kemudian mengerti. Karena yang bersangkutan lebih tahu Sarangan. Malahan sudah pernah pergi berwisata ke Sarangan. Namun tidak tahu kalau Sarangan itu masuk wilayah Kabupaten Magetan.

Oleh sebab itu saya kemudian punya gagasan, bagaimana kalau Stasiun Barat diubah menjadi Stasiun Magetan. Tentu ini perkara yang tidak mudah. Dan bahkan nyaris tidak mungkin. Demikian juga ketika saya berdiskusi dengan kepala Daop 7 ketika itu. Namun beliau menyarankan kalau memang Pemda Magetan mengusulkan, agar berkirim surat usulan perubahan nama kepada Dirut PT KAI. Juga yang penting juga berkirim surat ke Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di Jakarta.

Kebetulan saya tiga belas tahun bekerja di Kementerian Komunikasi dan Informatika yang kantornya bersebelahan dengan Kementerian Perhubungan. Sehingga saya secara pribadi banyak kenal dengan para pejabat di situ yang kebetulaan belum pensiun. Demikian juga PT KAI ternyata juga menyambut baik usulan tersebut. Oleh sebab itu secara tidak terduga usulan tersebut nampaknya disetujui.

Untuk memastikan akan persetujuan tersebut, saya akhirnya kontak dengan kepala Daop 7 Madiun. Apakah betul sudah mendapat persetujuan untuk diubah dari Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan. Kemudian Mas Wisnu KaDaop 7 menjawab dengan tegas bahwa perubahan tersebut betul sudah mendapat persetujuan. Bahkan dalam aplikasi pemesanan tiket kereta api sudah tercantum Magetan walaupun secara resmi baru akan dimulai besok tanggal 1 Desember 2019.Perubahan nama tersebut diharapkan memberikan harapan baru bagi masyarakat Magetan.

Dulu dalam kepercayaan masyarakat Jawa bila ada anak kecil ada masalah seperti sakit yang sakit tidak sembuh-sembuh, salah satu analisanya disebab karena nama. Ada karena namanya tidak pas. Mungkin dianggap terlalu berat, misal anak orang biasa namanya terlalu bagus kemudian dianggap “kabotan jeneng.” Oleh sebab itu perlu diubah.

Perubahan nama Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan bukan karena “kabotan jeneng.” Semata-mata hanya berharap ada sebuah harapan baru bagi kamajuan Magetan. Sehingga Magetan menjadi lebih dikenal. Saya kira sah saja berharap keberkahan dari kereta api yang telah berubah demikian pesat dalam peningkatan pelayanan transportasi bagi mobilitas masyarakat. Mudah-mudahan betul, perubahan nama Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan akan memberikan keberkahan dan dampak positip bagi kemudahan akses sekaligus lebih mengenalkan Magetan kepada masyarakat luas. Amin (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button