Pacitan

Sosok Brigadir Polisi Gatot Dwi Ananto yang Juga Guru Ngaji

MENJADI polisi tak menghalangi Gatot Dwi Ananto berbagai ilmu. Kecintaan pada profesi membuatnya ingin selalu dekat dengan masyarakat.  Salah satunya dengan mengajar ngaji kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Berawal dari keprihatinan melihat mereka hanya bermain hingga sore hari.

Ramah dan semringah. Itulah kesan pertama saat berkenalan dengan Brigadir Polisi Gatot. Pun ketika menyambut kedatangan wartawan Radar Pacitan di rumahnya. Tangannya langsung diulurkan untuk berjabat. Tubuh kekarnya dibalut kaus loreng  khas polisi. Raut wajahnya kalem dan bersahabat. ‘’Pertama dulu ada sekitar tujuh anak  anak yang tiap hari belajar mengaji di rumah saya,’’ tuturnya mulai menceritakan aktivitasnya sebagai guru ngaji.

Tidak mudah mengajak anak-anak di lingkungannya untuk belajar ilmu agama. Lelaki yang tinggal di Lingkungan Teleng, Sidoharjo, Pacitan, itu sampai minta bantuan orang tua bakal calon muridnya untuk merayu mereka. Upayanya tak sia-sia. Pria yang bertugas di Polsek Kota Pacitan itu kini punya belasan “santri”. ‘’Dulu di sini (rumah). Sekarang pindah ke musala,’’ katanya.

Demi mengajak anak didiknya betah mengaji, Gatot rela menyisakan tunjangannya untuk membelikan kaus untuk mereka. Tak jarang pada pagi hari dia mengajak muridnya  bermain ke pantai. Dia percaya dengan cara itu mereka akan lebih senang belajar mengaji. Pun bisa membuatnya lebih dekat dengan anak didiknya. ‘’Sama saya sudah seperti teman,’’ ungkap pria asal Ambarawa, Semarang, itu.

Sempat vakum lebih dari setahun lantaran kesibukan rumah tangganya. Kini antusiasme untuk kembali mengaji masih di dalam diri anak didiknya. Sempat ragu, pasca-banjir lalu dia baru memulai kembali pelajarannya.

Berbeda dari sebelumnya, pria kelahiran 7 Februari 1986 itu, kini memanfaatkan musala di lingkungannya untuk tempat belajar Alquran. Pun untuk memakmurkan musala yang baru dibangun beberpa tahun lalu. ‘’Karena banyak murid, saya dibantu yang sudah senior,’’ jelas pria yang pernah dua tahun menetap di Bali ini.

Awalnya Arifah Ulin Nuha, istri Gatot, yang lebih intens membimbing mereka. Apalagi Arifah seorang hafidzah dan guru RA Al Huda, Ploso, Pacitan. Namun karena setahun lalu dikaruniai buah hati, kini Gatot yang melanjutkan mengajar ngaji.

Sejatinya, dia  tak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal. Baik di madrasah atau pondok pesantren. Niat ikhlas mengajar mengaji menuntun hatinya untuk berbagi pada muridnya. ‘’Saya suka kumpul sama orang yang pandai agama. Hati saya tergerak dari situ,’’ terang lelaki yang datang ke Pacitan akhir Desember 2006 itu.

Selain mengaji, akhlak dan budi pekerti juga ditularkan kepada muridnya. Dia mencontohkan ada murid yang membawa makanan ke dalam musala. Gatot tidak memarahinya, dia lebih suka menyindir dengan cara halus. ‘’Makan kok di dalam, malu sama adiknya. Meski cemberut mereka keluar. Tapi balik lagi sudah biasa, jadi sahabat pokoknya,’’ ujar Gatot.*** (sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button