Mejayan

Soal Perlintasan Kaligunting, PT KAI Mentahkan Usulan BBPJN VIII Jatim

MEJAYAN – PT Kereta Api Indonesia (KAI) tidak berseberangan pemikiran dengan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jatim yang mengusulkan memperlebar jalan di perlintasan Kaligunting, Mejayan. Namun, perusahaan kereta api mengklaim tak berwenang meski sekadar melakukan pembenahan jalan yang dibelah titik perlintasan KA tersebut. ‘’Bukan tanggung jawab kami,’’ kata Humas KAI Daerah Operasi (Daop) VII Madiun Ixfan Hendriwintoko, Rabu (29/8).

Sebelumnya, ditlantas dan tim gabungan Dishub Jatim, PPK 32 BBPJN VIII Jatim, Satlantas Polres Madiun, serta Dishub Kabupaten Madiun memantau kondisi terkini perlintasan Kaligunting. Mereka menyimpulkan ruas tersebut tidak layak untuk taraf sekelas jalan nasional. Solusi yang bakal diangkat dalam rapat forum lalu lintas adalah memperlebar jalan. Sedangkan PPK 32 mengusulkan KAI mengubah konstruksi jalan menjadi rigid beton tepat di titik perlintasan sepanjang lima meter. Karena menganggap salah satu penyebab jalan kerap rusak akibat dilintasi kereta api.

Namun, Ixfan berlindung di balik UU 23/2007 tentang Perkeretaapian. Regulasi itu menjabarkan bahwa pembangunan hingga perawatan jalan yang bersinggungan jalur kereta api menjadi tanggung jawab pemerintah. Dalam kasus jalan di perlintasan Kaligunting yang berstatus jalan nasional, maka pemerintah pusat yang berwenang. PT KAI sebatas memastikan pembangunan atau perawatan jalan itu tidak mengganggu perjalanan kereta api. ‘’Saya kurang tahulah institusinya apa yang harus mengemban tugas itu,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Dia sedikit emosional ketika disinggung penyebab kerusakan jalan di titik perlintasan Kaligunting karena intensitas kereta api yang melintas. Ixfan mengklaim dua hal itu sama sekali tidak berkaitan. Kendati PT KAI berwenang atas status ruang milik jalan (rumija) dan ruang pengawasan jalan (ruwasja) dalam perlintasan kereta api. Masing-masing sepanjang enam meter dari titik perlintasannya. Menurut Ixfan, roda kereta tidak menyentuh aspal. Getarannya pun tidak akan sampai membuat permukaan jalan retak. Sekalipun frekuensi kereta yang melintas tinggi. Sebab, ada konstruksi jalan yang bisa melentur ketika terkena guncangan. Dia mencontohkan kondisi jalan perlintasan di Jakarta yang tetap awet meski dilintasi 700 kereta setiap hari. ‘’Di Madiun hanya 53 kereta per hari,’’ sebutnya.

Terlepas dari itu, Ixfan menilai perlu ada pembenahan kondisi jalan. Usulan memperlebar merupakan langkah tepat. Berfungsinya double track kelak berpotensi meningkatkan jumlah kereta yang melintas. Dari puluhan kereta per hari, satu unit melintas per 27 menitnya. ‘’Bakal ada peningkatan hingga ratusan kereta per harinya,’’ ujarnya.

Di sisi lain, sesuai UU 23/2007, perpotongan antara jalan dengan kereta tidak boleh dibuat sebidang. Amanat itu sejalan dengan upaya pelebaran jalan. Tujuannya menekan terjadinya kecelakaan lalu lintas melibatkan pengguna jalan. ‘’Tapi ya seluruh stakeholder perlu duduk bersama membahas persoalan Kaligunting ini,’’ tandasnya. (cor/c1/fin)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button