Madiun

SMK Kebut Pembuatan Pakaian Medis Pelindung Korona

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Krisis alat pelindung diri (APD) sulit terhindarkan di masa pandemi Covid-19 ini. Padahal sangat dibutuhkan bagi tenaga medis yang kini tengah berjuang di garda depan.

Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim akhirnya menginstruksikan sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk membantu produksi masal. Guna meringankan perjuangan dokter dan perawat dalam menghalau penyebaran virus korona yang kian bertambah. ‘’Kelangkaan APD harus diantisipasi,’’ kata Kepala SMKN 4 Kota Madiun Suhartoyo Senin (6/4).

Pihaknya tinggal mengerahkan tenaga untuk memproduksi. Bahan dasar pembuatan APD dari kain parasit langsung disediakan pemprov dan telah diambil ke Surabaya Jumat lalu (3/4). ‘’Kami tinggal menyediakan karet dan ritsleting. Sabtu siang (4/4) kami telah menyelesaikan 64 APD. Langsung kami kirim lagi ke pihak provinsi,’’ ujarnya.

Dalam sehari, SMKN 4 Kota Madiun memproduksi 60 APD. Pembuatannya melibatkan banyak kalangan. Mulai guru, siswa tata busana, hingga alumni. ‘’Di masa physical distancing ini, kami banyak dibantu guru yang berdomisili di Kota Madiun. Siswa dan alumni hanya yang bersedia,’’ terangnya.

Ketua Jurusan Tata Boga SMKN 4 Kota Madiun Herlin Yulisyowati menjelaskan, model pembuatan APD ini tak dibatasi. Pemprov memberi kebebasan tiap sekolah untuk memproduksinya dalam berbagai gaya. Sepanjang memenuhi standard operating procedure (SOP) kesehatan. Sekolah ini mengambil referensi model dari rekan sesama guru yang disebarluaskan lewat WhatsApp grup. ‘’Kami mengambil model yang mudah, yang telah memenuhi standar keamanan. Karena pembuatannya memang dituntut cepat,’’ kata Herlin.

Pembuatan APD dimulai dengan penyusunan pola pada kain. Lalu memotongnya dengan pemotong listrik agar lebih mudah. Kemudian langsung menumpuk 30 lembar kain dalam sekali proses pemotongan. Agar proses pembuatan lebih cepat. ‘’Untuk menjahit satu buah APD hanya butuh waktu 1-2 jam,’’ ujarnya.

Untuk memperketat APD agar virus tidak bisa masuk, setiap lubang seperti di bagian kepala, kaki, dan tangan diberi karet agar tertutup rapat. Untuk bagian depan diberi ritsleting yang depannya masih ditutup dengan kain. ‘’Kalau ritsletingnya di belakang justru menyulitkan paramedis yang menggunakannya,’’ jelas Herlin.

Herlin menyebut baru kali pertama ini jurusannya membuat APD. Walaupun begitu, dia telah lama menunggu instruksi dan koordinasi dari pemerintah. Mengingat SMKN 4 Madiun merupakan satu-satunya SMK yang memiliki jurusan tata busana di Kota Madiun. ‘’Kami  siap memproduksi APD, tapi kami tidak siap untuk pengadaan bahan. Karena di Madiun sendiri bahan untuk membuat APD tidak ada,’’ ungkapnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close