MadiunPendidikan

SMA Sepakat Akhiri Pembelajaran Jarak Jauh

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sekolah menengah atas negeri (SMAN) di Kota Madiun bersiap menyongsong pembelajaran tatap muka (PTM). Pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah terlalu lama.

Sejak pandemi melanda awal Maret lalu, guru hanya bisa menatap meja dan bangku kosong di kelas. Lantaran seluruh siswa melangsungkan pembelajaran dari rumah masing-masing. ‘’Seluruh kepala SMAN dan Cabdindik Jatim sepakat akan mengajukan pembelajaran tatap muka ke pemkot,’’ kata Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Madiun Agus Supriyanto Kamis (1/10).

Pihak sekolah menjamin pembelajaran tatap muka diatur protokol kesehatan secara ketat. ‘’PTM jauh lebih menguntungkan. Kasihan guru dan siswa kalau PJJ terlalu lama,’’ imbuh kepala SMAN 4 Kota Madiun itu.

Kepala SMAN 2 Kota Madiun Pramujo Budiarto mengutarakan, saat ini banyak siswa dan guru yang mulai keberatan jika terus-menerus pembelajaran dalam jaringan (daring). Pembelajaran yang hanya dilangsungkan secara online dari rumah masing-masing itu memunculkan kejenuhan. ‘’Siswa kesulitan menyerap materi selama PJJ. Guru juga harus kerja ekstra,’’ katanya.

SMAN 2 sempat uji coba PTM selama dua minggu. Evaluasinya, terbukti berjalan efektif. Siswa yang masuk juga hanya 25 persen dari jumlah siswa satu kelas. ‘’Kami sangat berharap bisa tatap muka kembali,’’ ujarnya.

Kepala SMAN 1 Mahmudi mengakui PJJ tidak seratus persen lancar. Karena pembelajaran daring masih dalam masa penyesuaian dari kebiasaan pembelajaran yang dilakukan secara langsung antara siswa dan guru di ruang kelas. Meski banyak guru telah mengikuti pelatihan teknologi informasi (TI), namun tidak semua dapat memahami. Padahal guru merupakan garda terdepan dalam pendidikan. ‘’Perubahan ini tidak disangka. Bidang apa pun tidak siap, termasuk pendidikan,’’ ungkapnya.

Wakil Kepala SMAN 6 Kota Madiun Edy Soeprijanto menyebut PJJ memang membuat guru dan siswa mengikuti perkembangan teknologi. Namun, sistem jarak jauh itu lemah pada pembelajaran nilai-nilai karakter. ‘’Kemampuan sosial itu juga penting,’’ tegasnya.

Jika dibandingkan dengan PJJ, penyerapan materi jauh lebih mudah dilakukan dengan PTM. Walaupun pelaksanaannya digilir untuk menghindari kerumunan, PTM jauh lebih efektif. ‘’Kami semua sudah siap, baik protokol maupun penjadwalan,’’ ungkapnya.

Kepala SMAN 05 Kota Madiun Mahfud Efendi mengakui bahwa dalam PJJ siswa tak bebas mengeksplorasi kemampuan dan guru terbatas dalam mengeluarkan kompetensi dalam mengajar. ‘’PJJ ini beban pembelajarannya sungguh luar biasa,’’ katanya.

Jika pembelajaran dilakukan secara langsung, guru bisa melihat sejauh mana hasil penyerapan siswa terhadap materi yang telah diberikan. Guru jauh lebih mudah melihat kecenderungan masing-masing siswa yang bisa dikembangkan potensinya. ‘’Jika diizinkan, kami siap melangsungkan tatap muka. Jika tidak diizinkan, kami tidak menentang. Mau bagaimana lagi, keadaannya memang begini,” ungkapnya. (mg3/c1/fin)

Pendidikan Sepenting Kesehatan

PENANGGUHAN pembelajaran tatap muka (PTM) genap sebulan. Sejak dihentikan 1 September lalu, mengemuka wacana pembelajaran jarak jauh (PJJ) bakal dilangsungkan kembali awal Oktober ini.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Kota Madiun Supardi telah mengumpulkan lima kepala SMAN se-Kota Madiun, Selasa (29/9). ‘’Kami sepakat mengajukan pembelajaran tatap muka, Senin besok (5/10),’’ katanya kemarin.

Sepekan ini, cabdindik bakal menyiapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menyelenggarakan PTM. Meliputi standar protokol kesehatan seperti mengatur jarak antarbangku, penyediaan tempat cuci tangan, pengecekan suhu, sterilisasi ruangan secara rutin, dan pembatasan kapasitas kelas. ‘’Dalam dokumen pengajuan PTM nanti kami lampirkan hasil evaluasi dari uji coba di tiga sekolah pada 18-31 Agustus,’’ ujarnya.

Supardi menegaskan, bidang pendidikan seharusnya juga dipandang sebagai prioritas sebagaimana kesehatan. Bagaimanapun, pelajar memerlukan pembelajaran maksimal. Demi mencerdaskan bangsa, pendidikan tak boleh dikesampingkan. ‘’Kesehatan, ekonomi, pendidikan, harus sama-sama jalan,’’ tegasnya. (mg3/c1/fin)

Berpatok Zonasi, PGRI Belum Merestui

ZONASI persebaran korona wajib menjadi pertimbangan utama menggelar tatap muka di satuan pendidikan. Faktor kesehatan dan keselamatan siswa serta tenaga pendidik harus diprioritaskan.

Merujuk Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri (Mendikbud, Kemenag, Menkes, Mendagri), pembelajaran tatap muka hanya diperbolehkan di zona hijau dan kuning. ‘’Kota ini zonanya belum memenuhi syarat. Sebaiknya jangan dilakukan tatap muka,’’ kata Ketua PGRI Kota Madiun Hariyadi.

Beberapa waktu lalu, sejumlah sekolah sudah uji coba tatap muka. Namun, ditangguhkan kembali lantaran grafik persebaran Covid-19 di Kota Madiun meningkat. Update peta sebaran Covid-19 Jawa Timur pukul 17.51 kemarin, Kota Madiun masih zona oranye. ‘’Pengajuan boleh-boleh saja, tapi kalau masih zona oranye atau merah, masak mau dibuka tatap muka?’’ ucapnya.

Hariyadi tak menampik banyak kendala dalam pembelajaran dalam jaringan (daring). Tidak sedikit siswa yang merasa jenuh hingga stres lantaran guru hanya memberikan tugas. Sehingga siswa merasa terbebani dengan tugas yang menumpuk. ‘’Jangan sampai daring disamakan pembelajaran pemberian tugas,’’ ujarnya.

Hariyadi mewanti-wanti guru menyajikan pembelajaran secara bijak. Jika siswa tertekan setiap harinya, dikhawatirkan berdampak pada kondisi psikologis dan kesehatan. ‘’Imun menurun dan mudah terserang virus, itu sangat berbahaya,’’ tuturnya.

Pembelajaran daring perlu dievaluasi. Sehingga, meskipun dalam pembelajaran daring sulit dibangun ikatan emosional dengan siswa, paling tidak dari hasil evaluasi menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan. ‘’Jangan sampai daring disamakan dengan pembelajaran pemberian tugas. Itu perlu dievaluasi, pembelajaran harus menyenangkan,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close