Ngawi

Skrining Masal di 8 Pasar dan 2 Pos Penyekatan, 99 Pedagang Reaktif

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Upaya untuk memetakan klaster sumber penularan virus korona terus dilakukan pemkab. Sejauh ini sudah delapan pasar tradisional dan dua pos penyekatan yang diskrining. Hasilnya, dari 944 pedagang yang menjalani rapid test, 99 di antaranya dinyatakan reaktif Covid-19. ‘’Target kami bulan ini klaster mana saja sudah terpetakan agar puncak pandemi di Ngawi bisa segera diketahui,’’ kata Bupati Budi ”Kanang” Sulistyono Senin (18/5).

Menanggapi hasil skrining yang menunjukkan 99 pedagang reaktif Covid-19, Kanang menyebut harus ada perhatian lebih terhadap lokasi yang dinilai rawan. Salah satunya Pasar Kedungperahu, Kecamatan Padas. Di lokasi tersebut sebanyak 27 dari total 100 pedagang dinyatakan reaktif setelah dilakukan rapid test. ‘’Lebih dari 25 persen,’’ ujarnya.

Kanang mengatakan, 99 pedagang yang dinyatakan reaktif itu tidak semuanya berasal dari Ngawi. Justru mayoritas tercatat sebagai warga luar daerah. ‘’Tindak lanjutnya, kami sudah undang kepala desa masing-masing untuk menjemput warganya yang reaktif Covid-19 itu,’’ tuturnya.

Pihak pemerintah desa, lanjut dia, akan diberi penjelasan mengenai tindakan apa saja yang perlu dilakukan terhadap warganya yang reaktif tersebut. Termasuk soal ganti rugi dagangannya yang kemungkinan tidak laku. Kades juga diminta memastikan pedagang yang bersangkutan melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing dengan pengawasan pemdes maupun petugas medis setempat. ‘’Untuk yang tidak mampu, segala kebutuhannya akan dicukupi pemerintah,’’ janjinya.

Kanang menuturkan, dalam waktu dekat semua pedagang yang dinyatakan reaktif juga akan diambil swab-nya untuk dikirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya. Sedangkan pedagang dari luar daerah akan dikomunikasikan dengan pemkab masing-masing.

Bagi pedagang luar daerah lainnya yang belum menjalani rapid test, Kanang menegaskan mereka wajib membawa surat keterangan kesehatan lengkap disertai hasil tes cepat jika hendak berdagang di Ngawi. ‘’Kalau tidak bawa, tidak kami izinkan masuk Ngawi,’’ tegasnya.

Pihaknya akan terus menelusuri klaster-klaster baru lainnya, khususnya beberapa pasar tradisional yang belum diskrining. Rencananya, hari ini ada empat pasar yang akan dilakukan skrining. Yakni, Pasar Ngrambe, Pasar Paron, Pasar Ngale, dan Pasar Samben. ‘’Sasarannya sementara para pedagang,’’ ungkapnya.

Mengenai klaster lain, Kanang mengaku sudah menyurati perbankan dan beberapa perusahaan di Ngawi agar melakukan rapid test mandiri karyawannya. ‘’Untuk perbankan, kami masih menunggu informasi lebih lanjut. Sedangkan untuk perusahaan, ada dua yang menyatakan tidak sanggup melakukan rapid test mandiri,’’ paparnya.

Kedua perusahaan tersebut adalah Swalayan Luwes dan Tiara yang masing-masing memiliki 51 dan 86 karyawan. Rencananya, selain melakukan skrining di pasar tradisional, hari ini juga akan dilakukan rapid test di kedua toko modern tersebut. ‘’Tapi khusus bagian kasirnya saja,’’ ujar Kanang.

Menurut dia, petugas kasir memiliki risiko tinggi tertular Covid-19. Jika kelak dari hasil rapid test ada yang hasilnya reaktif, pihaknya bakal meminta agar swalayan tersebut tutup sementara. Paling tidak sampai hasil swab-nya diketahui negatif. ‘’Swalayan mendapat atensi khusus karena jadi tempat berkerumun warga dan berpotensi jadi klaster baru penyebaran Covid-19,’’ pungkasnya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close