Madiun

Situs Ngurawan Butuh Ekskavasi Lagi

MADIUN – Situs Ngurawan masih menyimpan banyak misteri. Meski sudah dilakukan tiga kali ekskavasi dianggap belum cukup menyibak fakta sejarah.  Situs yang terletak di Dusun Ngrawan, Desa/Kecamatan Dolopo, kabupaten Madiun itu dilakukan tiga kali ekskavasi sejak 2016. ’’Penemuannya masih kami tampung di rumah warga,’’ ungkap Kasi Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Sugina.

Dia mengungkapkan, kalau selama ini sudah banyak ditemukan artefak–artefak dan bekas–bekas bangunan di situs Ngurawan. Banyak sekali artefak–artefak tersebut yang sudah rusak pun ada juga yang masih utuh. Semuanya ditampung dalam salah satu rumah warga yang ada di sana. Pun, beberapa ada yang dipajang dalam etalase. Pun, perawatannya dilakukan oleh juru pelihara yang sudah ditunjuk oleh Badan Pelesatari Cagar Budaya  (BPCB) Trowulan. ’’Ada dua juru pelihara yang ada di sana,’’ katanya.

Penelitian yang dimulai sejak 2016 silam memang banyak sekali menghasilkan temuan-temuan dan data – data terbaru. Bahkan, pihak Balai Arkeologi (Balar) Daerah Istimewa Yogyakarta pun akhirnya membukukan tulisan-tulisan hasil penelitian yang ada di situs Ngurawan selama tiga tahun tersebut. Namun, masih belum ada hasil yang jelas mengenai peninggalan dari zaman apa dan dari kerajaan apa yang ada di sana. ’’Untuk itu kami usulkan lagi untuk kembali melakukan ekskavasi,’’ ungkapnya.

Menurutnya memang perlu ekskavasi lanjutan. Agar tahu sampai mana zona yang masih ada kaitan dengan kerajaan tersbeut. Apakah hanya ada di Ngurawan saja ataukah sampai keseluruh daerah yang ada di Kabupaten Madiun bagian selatan. Mengingat ada juga kolam yang terletak di Doho. Pun, ada juga umbul yang bisa saja masih ada kaitannya dengan peradaban yang adi di Ngurawan. ’’Ada juga umpak yang ditemukan di sana, dan jelas kalau itu bekas adanya bangunan kerajaan,’’ katanya.

Untuk itulah, sampai saat ini pihaknya belum mau meneruskan situs Ngurawan untuk dijadikan tempat wisata sejarah. Pasalnya, memang belum ada data dan bukti otentik. Belum pasti apakah situs tersebut memang benar-benar peninggalan Kerajaan Glang – Glang yang ditengarai menjadi nenek moyang atau leluhur pembabat kerajaan Mataram di Solo maupun Jogjakarta. ’’Masih perlu penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam,’’ ungkapnya. (fat/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button