Madiun

Siswa Papua Riang Nyanyikan Indonesia Raya

ALEX Weya, siswa kelas VIII SMPK Santo Yusuf Kota Madiun begitu riang saat mengikuti belajar di luar kelas. Bersama siswa sekelasnya, Alex riang menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dibawakan tiga stanza. Juga, lagu tentang mitigasi bencana yang diiringi petikan gitar salah seorang siswa.

Menyongsong Hari Anak Internasional 20 November mendatang, seluruh pelajar diwajibkan melangsungkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di luar kelas, mulai Kamis (7/11). ‘’Senang belajar di luar kelas,’’ kata Alex.

Merujuk Surat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) RI Nomor B-1169/KPP-PA/D.IV.4/PA.02/10/2019, seluruh model pembelajaran bakal diseragamkan sesuai ketentuan teknis dari pusat. ‘’Ini dalam rangka menyongsong hari anak internasional,’’ kata Kepala SMPK Santo Yusuf Kota Madiun Maria Ratih Prastyarini.

Setiap pembelajaran, lanjut Maria, disusun dan memiliki fungsi masing-masing. Ada 17 poin kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 07.00 hingga 10.00 itu. Mulai menyambut siswa dengan senyum, sapa, salam. Berlanjut menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Hal itu dimaksudkan untuk penguatan pendidikan karakter (PPK). ‘’Saat ini, PPK sangat diperlukan,’’ tukasnya.

Cuci tangan sebelum makan juga perlu dijadikan pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Dilanjutkan sarapan bersama yang disiapkan masing-masing orang tua. Lalu berdoa sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan iman dan takwa. ‘’Detail cuci tangan diatur untuk pembiasaan PHBS,’’ ungkapnya.

Peserta didik juga ditanamkan mencintai lingkungan dan mengenal perubahan iklim. Itu diwujudkan dengan memeriksa lingkungan, menyingkirkan tanaman, atau hal-hal yang membahayakan. Selanjutnya mematikan lampu, peralatan listrik yang tidak diperlukan dan mematikan kran air yang terbuka. ‘’Hal-hal sekecil ini untuk menghemat energi dibiasakan sejak dini’’ sambungnya.

Peningkatan literasi juga diterapkan dengan membaca buku di luar kelas selama 15 menit. Berlanjut pembekalan mitigasi tentang simulasi evakuasi bencana dalam lagu dan gerak. ‘’Kita nyanyikan bersama lagu mitigasi bencana lalu mempraktikkannya,’’ tuturnya.

Aneka permainan tradisional juga dihidupkan kembali dalam durasi 45 menit. Selanjutnya tepuk hak anak, yel-yel, deklarasi, dan pelantikan tim Sekolah Ramah Anak (SRA). Terakhir, ditutup dengan menyanyikan lagu Maju Tak Gentar. ‘’Anak harus dilindungi, anak harus dipenuhi hak-haknya,’’ tegasnya.

Heri Wasana, Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun telah mengintruksikan seluruh sekolah melaksanakan kegiatan itu. Dalam rangka mengembangkan Sekolah Ramah Anak (SRA). Dia membeberkan 14 SMPN dan 9 SMP swasta, 56 SDN dan 16 SD swasta bakal serentak melaksanakan kegiatan tersebut. ‘’Sudah kami imbau untuk dilaksanakan secara serentak, jadwalnya sudah diatur dari pusat,’’ kata Heri.

Kepala Cabdindik Jatim Wilayah Madiun Supardi mewanti-wanti sekolah tingkat atas agar mematuhi instruksi dari pemerintah pusat ini. Terutama soal ajakan belajar di luar kelas. ‘’Belajar dapat dilakukan di manapun dan kapanpun,’’ ucapnya. (kid/fin) 

Apresiasi Tertinggi Masih Jadi Mimpi

KLASIK persoalan masih mengganjal mimpi menuju kota layak anak. Apresiasi tertinggi masih sulit tergapai. Tahun ini, kota ini baru meraih penghargaan Madya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA). Setelah dua tahun sebelumnya baru diganjar Pratama. Penghargaan peringkat ketiga dari empat penghargaan yang dianugerahkan setiap tahunnya. ‘’Di Indonesia, penghargaan Utama baru diraih Surabaya dan Surakarta,’’ terang Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinas Sosial-P3A Kota Madiun Sri Marhendra Datta.

Masih banyaknya iklan rokok, sebut Marhendra, menjadi penghalang paling dominan. Poin itu menjadi penilaian dengan skor paling tinggi. Persoalan ini pun telah mendapatkan perhatian khusus dari Wali Kota Madiun Maidi. ‘’Ke depan, akan dievaluasi,’’ lanjutnya.

Tahun depan, kota ini menargetkan penghargaan Nindya. Untuk menggapai mimpi itu, pemkot mulai memenuhi segenap indikator kota layak anak. ‘’Ada lima klaster utama yang harus dipenuhi. Mulai kelembagaan hingga klaster terakhir tentang regulasi,’’ ungkapnya.

Dia mengatakan secara kelembagaan pemkot telah membentuk tim gugus tugas. Terdiri dari seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). Sehingga seluruh OPD memiliki program yang bertujuan untuk menciptakan kota layak anak. ‘’Komponen ini saling terkait dengan satu tujuan,’’ sambungnya.

Dasar formal tim gugus tugas mendasar Perda 16/2017 tentang penyelenggaraan kota layak anak. Diperkuat Perwal 2/2019 tentang petunjuk pelaksanaan perda tersebut. Landasan hukum lainnya berupa Surat Edaran (SE) 660/1701/401.104/2018 tentang gerakan 18-21 bijak. Yakni, peringatan bagi orang tua agar mendampingi anak belajar pada pukul 18.00-21.00. Serta menjauhkan dari gawai dan aktivitas lain di luar belajar. ‘’Menyangkut keamanan anak di jalan, pemkot menyediakan bus sekolah dan jalur sepeda. Taman ramah anak di bawah dinas perumahan dan kawasan permukiman. Hingga pembinaan anak jalanan,’’ ungkapnya.

Gerakan itu juga perlu didukung fasilitas umum yang memadai bagi disabilitas. Mulai tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kantor pelayanan lainnya. Kesemuanya telah masuk dalam perencanaan pembangunan.

Diharapkan, seluruh OPD yang tergabung dalam tim gugus tugas dapat bekerja maksimal. Sehingga upaya menciptakan kota layak anak dan memenuhi hak anak terlaksana secara maksimal. ‘’Kota layak anak menjadi bagian penting untuk memenuhi hak dasar anak,’’ ucapnya. (kid/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close