Madiun

Sis Plat AE Wadahi Kolektor Miniatur Bus

Rela Rogoh Duit Jutaan demi Memodifikasi Koleksi

Puluhan kolektor miniatur bus Madiun Raya bersatu di Small is Sexy (SIS) Plat AE. Lewat komunitas itu pula mereka berbagi pengalaman dan kiat merawat koleksi. Pun, tak jarang berkumpul dengan sesama kolektor dari berbagai daerah di tanah air.

=========================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

NYALA strobo dari ratusan bus di sebuah kafe Jogjakarta malam itu tampak menyilaukan mata. Ratusan kendaraan itu berbendera berbagai perusahaan otobus (PO). Di antaranya, Sugeng Rahayu, Mira, Eka, Restu, Harapan Jaya, Gunung Harta, Agam Tunggal Jaya, dan Rosalia Indah.

Jangan salah, bus-bus yang berjajar rapi di meja berukuran raksasa yang ada di ruang tengah kafe itu bukanlah bus sungguhan. Melainkan miniatur yang memiliki detail seperti aslinya. Sementara, pemiliknya terlibat diskusi ringan di meja sisi barat kafe. ‘’Waktu acara halalbihalal di Jogja,’’ kata Naufal Hafizh, perwakilan SIS Plat AE, menceritakan acara 23 Juni lalu.

SIS Plat AE adalah komunitas penggila bus yang terbentuk Oktober 2016 lalu. Perkumpulan itu berafiliasi dengan SIS Indonesia yang terlebih dulu berdiri, tepatnya November 2012.

Pada komunitas itu pula mereka yang tergabung SIS Plat AE berbagi pengalaman, bertukar pikiran, dan transaksi koleksi. Pun, menganggap miniatur bus mereka barang bernilai seni tinggi. ‘’Di sini tidak ada yang namanya anggota atau ketua. Semuanya sama,’’ ujar pria kelahiran 1997 itu.

Awalnya hanya 10 orang yang bergabung komunitas itu. Mereka merupakan kolektor miniatur bus di Madiun Raya. Kini jumlahnya mencapai 30-an orang. Pun, mereka kerap berkumpul dengan sesama kolektor di berbagai daerah tanah air. Agustus lalu, misalnya, disatukan dalam jambore nasional di Semarang.

Miniatur bus koleksi mereka dibuat sangat detail. Milik Naufal Hafizh, misalnya. Ada yang berskala 1:20. Koleksi itu dibeli dari salah satu karoseri -sebutan untuk perajin miniatur bus- di Malang dengan mahar Rp 1,5 juta. Spesifikasinya, bodi berbahan akrilik, ban karet berdiameter 5,28 sentimeter, lampu, serta desain interior dan velg standar. ‘’Masih kosongan istilahnya, belum ada decal atau aksesori stikernya,’’ tutur Naufal.

Layaknya bus sungguhan, sejumlah koleksi sengaja dimodifikasi. Pun, proses itu bisa menghabiskan biaya tidak sedikit. Tambahan lampu strobo, misalnya, harganya di kisaran Rp 200 ribu. Sedangkan jika seat hendak diganti berbahan resin harus merogoh kocek Rp 250 ribu. Sementara, velg produksi luar negeri seharga Rp 250 ribuan dan stiker full detail harganya Rp 110 ribu.

Mayoritas kolektor harus mengeluarkan duit sedikitnya Rp 3 juta untuk mendapatkan miniatur bus sesuai yang diinginkan. Harga itu berlaku untuk skala 1:20 yang umum dimiliki mereka yang tergabung SIS Plat AE. Untuk skala lain seperti 1:35, 1:43, dan 1:50 yang memiliki bentuk lebih kecil pastinya biaya yang dikeluarkan lebih sedikit. ‘’Namanya juga hobi, mau bagaimana lagi,’’ ucap Naufal.

Tren miniatur bus juga mengikuti perkembangan bus sungguhan. Misalnya saat ini yang sedang naik daun adalah bus berbalut bodi ultra high deck atau jet bus. Pasar miniatur bus juga mengikuti tren tersebut.

Selain ajang silaturahmi, SIS Plat AE juga menjadi wadah edukasi. Salah satunya seputar cara perawatan koleksi yang benar. ‘’Cara membersihkan cukup dilap dengan kain lembut dan halus. Karena gampang pecah, hindarkan dari anak kecil,’’ paparnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button