Ngawi

Simpen Berharap Uluran Tangan Dermawan

Sempat Ikut Bertani, Kini Pasrah Berdiam Diri

Daging tumbuh di wajah Simpen sejak kecil. Semula kecil, lama-kelamaan membesar hingga menutupi separo wajahnya. Sampai membuat mata kirinya buta sejak dini. Sampai usianya menjelang kepala empat dua tahun lagi, daging itu menutupi hampir separo wajahnya dan nyaris membutakan mata kanannya.

==========================

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

RANTING kayu itu digenggam kuat-kuat. Dijulurkan perlahan lalu dipukulkan ke lantai tanah. Tak lama berselang, suara keras benturan kayu dan bambu nyaring terdengar. Tangan Simpen perlahan menggapai kursi anyaman bambu itu. Sejak 10 tahun silam, kedua mata Simpen tak lagi dapat digunakan. ‘’(Pandangan) sudah hitam semua. Awalnya masih bisa (mata) sebelah kanan,’’ kata warga Geneng, Gunungsari, Kasreman, ini.

Benjolan yang muncul sejak lahir itu tak disangka bakal sebesar sekarang. Sampai menutup sebelah mata kirinya sejak sekolah dasar (SD) dan membuatnya kesusahan bernapas. Saat itu, perlahan kabut mengaburkan pandangannya diselingi pusing dan berkunang-kunang. ‘’Kata dokter ini daging tumbuh,’’ ujar perempuan 38 tahun itu.

Pada 1993 silam, Simpen sempat memeriksakan penyakitnya ke RSUD dr Soetomo, Surabaya. Namun, dokter di sana angkat tangan dan menyarankan Simpen operasi plastik. Kepalang bingung, tinggal di desa dengan keluarga petani, jelas biaya yang ditawarkan hingga puluhan juta tak sanggup dipenuhinya. ‘’Akhirnya dibiarkan, membesar sampai sekarang,’’ jelasnya.

Saat udara terasa dingin, Simpen hanya bisa berbaring menahan nyeri di sekujur tubuhnya. Jika sudah begitu, sulung tiga bersaudara itu tak mampu bergerak dan hanya terbaring di kasur. Tak banyak pilihan, obat murahan di toko kelontong pun jadi andalan meredam pusing. ‘’Sekarang kalau sakit dan nggak minum obat, sudah nggak bisa buat gerak lagi,’’ bebernya.

Meski sempat membantu keluarga bertani, kini tak banyak kegiatan yang dapat dilakoni. Saban hari dia hanya berdiam diri di rumah. Kedua penglihatannya yang buta membuatnya kesulitan bergerak. Waktu luang biasa digunakannya untuk mencuci, masak, dan bersih-bersih. ‘’Sekarang tinggal dengan ibu, ayah, dan keponakan,’’ paparnya.

Simpen berharap ada donatur yang sudi membantu mengobati penyakitnya tersebut. Sempat dijenguk beberapa petugas kesehatan, semua menyarankan untuk operasi plastik. Meski tak mampu mengembalikan penglihatannya, cara tersebut diharapkan bakal meringankan beban penyakitnya. ‘’Kalau sakit (benjolan, Red) enggak, tapi sulit untuk gerak,’’ katanya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button