Mejayan

Siksaan Bau Busuk Menahun Segera Usai, Manajemen PT BSS Komitmen Berbenah

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Perseteruan PT Budi Starch & Sweetener (BSS) dengan warga Dusun Sidowayah, Candimulyo, Dolopo, Kabupaten Madiun, akibat bau busuk limbah produksi segera usai. Manajemen pabrik tepung tapioka itu berkomitmen melakukan pembenahan jangka pendek dan panjang. Dinas lingkungan hidup (DLH) pun bakal mengawal janji perusahaan yang acap menimbulkan polusi udara itu.

Kesepakatan tersebut tercatat dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama komisi D DPRD setempat Senin (29/7). Empat pihak dihadirkan. Selain manajemen BSS dan DLH, juga delapan warga Sidowayah, Kepala Desa (Kades) Candimulyo Elya Widi Astuti dan kepala dusun, serta komisi B. Hearing di ruang rapat I itu berlangsung 2,5 jam sejak pukul 13.00. ‘’Pabrik harus secepat mungkin memenuhi komitmennya dengan mereduksi bau. Sedangkan DLH harus rutin survei pabrik,’’ pinta Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Madiun Rudi Triswahono.

Komisi yang membidangi urusan lingkungan hidup itu memandang aksi puluhan warga Sidowayah ngeluruk pabrik merupakan akumulasi permasalahan menahun bau busuk limbah. Tidak hanya masalah polusi, tapi juga komitmen yang selalu diingkari. Terutama ketika terjadi pergantian kepala pabrik. Pucuk pimpinan baru tidak memahami tanggung jawab mereduksi bau limbah. Sehingga, dewan merekomendasi perlu silaturahmi tatkala ada manajemen baru. ‘’Jadi, agar hubungan tidak terputus,’’ imbuh Mashudi, anggota komisi D.

RDP diawali dengan cerita tiga dari delapan warga terdampak. Di antaranya aktivitas bekerja, belajar anak-anak, dan kesehatan terganggu. Juga permintaan agar DLH rajin mendatangi pabrik mengecek baku mutu hasil instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Dilanjutkan manajemen pabrik yang memaparkan kondisi dulu dan terkini 10 kolam IPAL lewat proyektor. Serta hasil uji kualitas ambient tiga tahun terakhir hingga baku mutu. ‘’Kami sampaikan pula penanganan jangka pendek dan panjang,’’ kata Koordinator Divisi Lingkungan PT BSS Suyanto.

Suyanto mengungkapkan, penanganan jangka pendek meminimalkan bau lewat enam cara. Pertama, kolam keempat dialihkan sebagai pengolahan fakultatif aerob dengan proses recycle. Menambal membran covered lagoon kolam pertama hingga tiga yang robek. Mengantisipasi fluktuasi derajat keasaman dengan penambahan tangki penetralisir dan peralatan lainnya. Menambah penanaman pohon kenanga dan kantil agar kawasan pabrik wangi. ‘’Operator 24 jam memonitor IPAL pada waktu tertentu,’’ ujarnya.

Sedangkan penanganan jangka panjang difokuskan agar kasus tidak terulang. Yakni, pengoptimalam pengolahan air limbah dan pemanfaatan air limbah untuk proses pencucian bahan baku. Juga peralihan teknologi yang pernah diterapkan pada 2013. Kala itu, BSS memasang covered lagoon untuk tiga kolam anaerob. Menindaklanjuti tuntutan warga yang mengeluh bau busuk. ‘’Limbah padat berupa ampas singkong akan dimanfaatkan untuk kepentingan warga. Kalau limbah cair untuk irigasi sawah sekitar,’’ paparnya.

Kabid Konservasi DLH Kabupaten Madiun Arif Mumpuni berharap, pabrik tidak sekadar berjanji, melainkan menunjukan bukti konkret. Misalnya, membuat skedul pengelolaan limbah untuk mengantisipasi pencemaran. Mengingat ada kerentanan dari tiga sumber. Selain limbah cair, ada limbah padat dari ampas singkong, juga biogas. ‘’Kami akan intens melakukan pengawasan,’’ janjinya seraya menyebut limbah cair bagus untuk pertanian dengan catatan sudah memenuhi baku mutu pada kolam kesembilan dan 10. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close