Madiun

Sidak Pabrik Tepung Tapioka, Komisi D Cium Bau Menyengat Kolam Keempat

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Legislatif mencurigai biang bau busuk limbah produksi PT Budi Starch & Sweetener tidak hanya dari tiga kolam instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang rusak membrannya. Tapi juga kolam keempat dari 10 kolam pabrik tepung tapioka di Dusun Sidowayah, Candimulyo, Dolopo, Kabupaten Madiun, tersebut. Indikasi itu mencuat kala komisi D DPRD setempat menggelar inspeksi mendadak (sidak) Kamis (25/7). ‘’Permasalahan kolam keempat ini sangat teknis. Jadi, perlu dibicarakan solusinya dalam hearing Senin (29/7),’’ kata Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Madiun Rudi Triswahono.

Lima anggota komisi D tiba di pabrik sekitar pukul 10.30. Mereka langsung menuju lokasi kolam IPAL di belakang kantor sekretariat. Di sana, wakil rakyat lantas berpencar. Tiga anggota dewan: Mashudi, Nur Rokhim, dan Prita Savitri terlibat diskusi dengan Heri Sutanto, koordintor biogas plan pabrik. Membahas kronologis kemunculan bau yang dikeluhkan warga setempat hingga berujung unjuk rasa 15 Juli lalu. Kabid Konservasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun Arif Mumpuni dan Kepala Desa Candimulyo Elya Widi Astuti yang mendampingi sidak turut menyumbang informasi.

Sementara Rudi yang didampingi Yohan, pimpinan pabrik, meninjau kolam ketiga. Sebelum akhirnya beralih ke kolam keempat yang berjarak lima meter di sebelah selatan kolam seluas 50×30 meter itu. Kolam tersebut tidak tertutup membran hingga cairan hitam limbah terlihat jelas. Belakangan, kolam pertama hingga ketiga adalah bagian dari proses respirasi anaerob. Tahapan awal mengurai hasil produksi agar tidak berbau. Sedangkan kolam keempat hingga 10 respirasi aerob. ‘’Kolam keempat baunya menyengat,’’ ungkap Rudi.

Menurut Rudi, kolam keempat merupakan fakultatif transisi dari proses anaerob ke aerob. Pada titik itu seharusnya bau sudah tereduksi. Namun, fakta hasil sidak berkata lain. Aroma busuk hasil pengolahan singkong masih menyeruak. Apalagi kolam tidak ditutup membran. Sedangkan Heri meyakini bau dari kolam keempat itu tidak terlalu menyengat. ‘’Ya tidak bau, karena hidung orang pabrik sudah terbiasa menghirup. Kasihan masyarakat lho yang tidak tahu apa-apa terkena imbas,’’ timpal Rudi merespons pernyataan Heri.

Rudi menduga proses reaksi bakteri anaerob di kolam pertama hingga ketiga belum sempurna. Pun proses reaksi dari kolam lainnya sebelum dibuang ke sungai setempat. Sebab, warga mengeluhkan sungai berwarna hitam. Padahal, limbah yang dibuang tidak boleh mengubah warna. ‘’Kalau warnanya berubah, indikasi proses tak sempurna dan belum sesuai baku mutu,’’ ujarnya.

Komisi D merekomendasi manajemen pabrik menggandeng pihak ketiga semacam tim penelitian dan pengembang (litbang). Sebab, persoalan bau busuk tidak hanya bersumber dari proses anaerob, tapi juga aerob. Selain itu, meningkatkan segi keamanan lantaran lokasi pabrik terbuka. IPAL bersinggungan langsung dengan masyarakat karena ada di tengah area persawahan. ‘’Kami paham bau tidak sepenuhnya bisa hilang. Tapi, pabrik harus bisa mereduksi agar warga sekitar hidup nyaman,’’ ucapnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button