News

Siapa Tuhan Sebenarnya

×

Siapa Tuhan Sebenarnya

Share this article

Siapa Tuhan Sebenarnya – Semua manusia diciptakan sesuai dengan fitrah-Nya. Masyarakat diinstruksikan untuk mengarahkan ‘wajahnya’ terhadap alam. (Rum/30:30) Apa itu fitrah? Melihat banyak referensi, kata fitre; bersih, makan (dari kata masa depan). Kedua makna tersebut misalnya terdapat pada kata ‘zakat fitrah’ atau pada ungkapan bahagia ‘Idul Fitri’.

Ungkapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” merupakan ungkapan yang dapat bermakna ucapan selamat atas seseorang kembali suci dan bersih setelah serangkaian salat yang dilakukan di bulan suci Ramadhan. Bisa juga berarti ‘kembali makan’ setelah sebulan berpuasa. Oleh karena itu syariat ini mewajibkan pengeluaran berupa sembako dari seorang hamba tanpa kecuali, istilahnya ‘zakat fitra’ yaitu suatu bentuk pemberian yang bertujuan untuk membersihkan badan seseorang, anda manusia.

Siapa Tuhan Sebenarnya

Makna fitrah yang artinya suci ini diperkuat dengan sebuah hadis yang menyatakan bahwa semua anak yang baru lahir berada dalam keadaan fitrah dan suci serta bersih bagaikan kertas putih yang tak bernoda karena tidak melakukan dosa atau kesalahan apa pun. (Kullu meuludin Yu ladu ala al-fitrah…).

Agnostik: Arti, Sejarah Dan Sifat, Serta Perbedaanya Dengan Ateisme

Selain kedua makna tersebut, fitra juga dapat berarti “potensi”. Potensi apa? Inilah potensi “tuhan”. Dengan kata lain, setiap orang yang lahir dari kandungan, apapun agamanya, mempunyai potensi yang sama untuk menjadi Tuhan. Karena “sifat ketuhanan” itu ada dan mendarah daging dalam diri manusia sejak lahir. Artinya pada dasarnya setiap orang mempunyai sikap demikian, sekalipun orang tersebut mengaku ateis.

Buktinya adalah orang-orang yang mengaku ateis berkata, “Ya Tuhan/Ya Tuhan” di saat-saat terdesak atau terguncang, terkadang tanpa disadari. Artinya meski perkataannya mengatakan tidak, namun secara tidak sadar ia sebenarnya menerima keberadaan Tuhan. Dengan kata lain, fitrah terpenting dimaknai sebagai potensi menjadi Tuhan.

Padahal menurut Islam, setiap orang yang lahir di dunia ini yang berasal dari alam roh bersumpah demi Sang Pencipta. “Alastu birabbikum, qalu bala syahidna.” Bukankah aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Ya, Engkaulah Tuhan kami, kami adalah saksinya.” (Surat al-A’raf, 172) Artinya, manusia sudah mengaku ketuhanan bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di bumi.

Jika iya lalu mengapa setiap orang ada perbedaan, ada yang beriman (beriman) dan ada yang tidak beriman (non-beriman)? Apakah ada yang “dekat” dengan Tuhan dan ada pula yang jauh dari Tuhan?

Mengenal Tuhan Secara Pribadi

Hal ini berdasarkan hadis Nabi “Kullu mauludin Yuu ladu alal fitrah, Faabewahu, Au Yuhawwidanihi Au Yunassiranihi Au Yumajjisanihi” HR. Muslim. (Setiap anak baru lahir dalam keadaan fitrah, maka bapaknya (lingkungannya) menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Penyihir). Merujuk pada hadis ini, baik atau tidaknya potensi religiusitas (ke arah alam) yang ada pada diri setiap manusia, baik ke arah benar (taqwa) atau salah (fujur) sangat ditentukan oleh lingkungan.

Baca Juga  Konflik Yang Terjadi Di Antara Lapisan-lapisan Di Dalam Masyarakat Disebut

Selain definisi tersebut, ada juga yang mengartikan alam sebagai sesuatu selain Islam – berdasarkan hadis yang sama yang telah disebutkan sebelumnya. Klaim di sini adalah bahwa hadits tersebut hanya menyebutkan tiga jenis agama, tanpa menyebutkan Islam, sebagai bagian dari preferensi di kalangan Yahudi, Kristen, dan Majusi.

Mengapa Islam tidak dibahas? Karena kata fitra yang disebutkan dalam hadis tersebut tidak lain adalah Islam. Jadi, menurut pandangan ini pada dasarnya dikatakan bahwa semua orang adalah Islam sejak lahir, namun “ayahnya” atau lingkungannya pada akhirnya membawa mereka keluar dari Islam dan menyebabkan mereka menjadi pemeluk agama selain Islam atau menganut agama yang tidak Islam. bukanlah agama semua orang. Klaim ini didasarkan pada pandangan bahwa pada prinsipnya semua nabi dan rasul yang diutus Allah adalah “Muslim”.

Hz.sebagai Hatemi’l-Enbiya. Muhammad hanyalah pengembangan dari ajaran yang diberikan oleh para Nabi dan Rasul Allah terdahulu. Atau dengan kata lain para Nabi dan Rasul diutus ke dunia ini untuk terus mengingatkan umatnya agar tetap berada di alam dan mengajak mereka yang tersesat dari jalan agar kembali ke jalan menuju alam. Bagaimanapun, itu bisa membawa orang kembali ke tanah air leluhurnya di surga.

Tanda Kamu Dan Pasangan Adalah Jodoh Yang Diciptakan Tuhan

Oleh karena itu sifat yang baik berarti suci dan bersih, potensi beriman kepada Allah dan Islam merupakan sesuatu yang ada dan melekat pada diri semua orang tanpa terkecuali. Fitrah merupakan modal yang sama bagi seluruh umat manusia, yang akan menjadi titik tolak sekaligus bertemunya makhluk dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, Allah memerintahkan seluruh manusia untuk konsisten dalam sikap tersebut. Karena ini adalah cara yang benar. Inilah agama yang benar (kanan).

Maka arahkanlah wajahmu langsung kepada agama (Allah); (tetaplah) pada sifat Allah yang telah menciptakan manusia menurut sifat itu. Tidak ada perubahan pada sifat Allah. (Itulah) agama yang benar, tetapi kebanyakan orang seperti itu, aku tidak tahu” (S. Ar-Yunani : 30)

Tuhan adalah sumber alam. Jadi bagaimana Anda mendekati sumber alam? Perlu diketahui bahwa Allah itu Maha Suci (Suci). Quddus adalah salah satu dari 99 nama indah Allah (Asmaul Husna). Para hamba senantiasa mengagungkan Kemuliaan Allah dengan untaian rosario (Subhanallah). Bukan hanya manusia saja, namun semua makhluk mengagungkan Allah dengan caranya masing-masing (Isra/17:44).

Setidaknya ada tujuh surah dalam Al-Qur’an yang diawali dengan kata tasbih dan mempunyai asal usul yang berbeda-beda; Subehallah, Yusabbihu, Sabbaha dan lain-lain. Diantara surah tersebut; Al-Isra, Al-A’la, Al-Hadid, Al-Hasyar, Al-Shaf, Al-Juma dan Al-Sagabun. Semua ayat ini membicarakan dan menjelaskan kekudusan Tuhan. Ini membuktikan bahwa Tuhan benar-benar suci di atas segalanya.

Baca Juga  Tujuan Teks Prosedur

Jual Buku Tuhan, Siapa Jodohku? Karya Ahmad Rifa`i Rif`an

Karena kesucian Allah, inilah yang diharapkan dari Muhammad SAW tercinta. – sebagaimana tercantum dalam sebuah sejarah – tercatat dalam rangkaian peristiwa Isra Miraj, sebelum bertemu (langsung) dengan Tuhan, bahtera harus dibuka terlebih dahulu, kemudian hati harus “dibasuh” dengan air sam-sam; air suci-murni.

Dari mana? Bukankah Muhammad adalah nabi yang sempurna (terlindungi, tanpa cela dan tanpa dosa)? Mengapa hati Rasulullah perlu dibasuh terlebih dahulu? Jawabannya sederhana karena yang ingin ditemuinya adalah Yang Mahakudus. Pemilik segala kesucian. Zat yang tidak dapat didekati dari jarak terdekat (terdekat) kecuali modal suci yang kualitasnya paling tinggi.

Hal ini didasarkan pada Kekudusan Tuhan. Dialah yang ideal dan para hamba harus mendekatinya melalui gerbang atau gerbang kesucian. Pembersihan pintu yang dimaksud meliputi pembersihan interior dan eksterior. Padahal, Tuhan bisa didekati kapan pun, oleh siapa pun, dan dengan cara apa pun. Namun jarak kedekatan ini ditentukan oleh tingkat ‘kesucian’ seseorang.

Semakin suci (bersih luar dan dalam) seorang hamba berpotensi “lebih dekat” atau kurang “jauh” dari Allah. Begitu pula sebaliknya, semakin “kotor” seseorang, maka semakin jauh pula ia dari Tuhan.

Kementerian Agama Ri Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik

Masalah kemurnian ini sangat penting. Karena dalam ajaran Islam, jika seorang hamba ingin menjalin hubungan “dekat” atau “bertemu” dengan Allah, seperti beribadah kepada Mahde (sholat, mengelilingi, dll), maka ia harus bersih. dirinya terlebih dahulu. Pertemuan tersebut tidak sah sampai penyucian dimulai. Hamba yang najis harus membersihkan diri terlebih dahulu, dan hamba yang lebih muda harus berwudhu atau tayamum terlebih dahulu. Begitu pula yang rambutnya banyak harus mandi dulu. Wudhu, tayamum, atau wudhu wajib merupakan salah satu bentuk penyucian fisik (peralatan).

Selain membersihkan badan atau bagian luar yang merupakan bentuk penyucian paling dasar, yang lebih penting dipadukan dengan pembersihan jiwa dan hati. Atau disebut dengan penyucian batin. Pemurnian batin ini mungkin juga mencakup menjernihkan hati dan pikiran. Hati terbebas dari segala macam kebiasaan dan sikap buruk, kesombongan, kesombongan, iri hati (cemburu), prasangka buruk, dendam, penyangkalan, kebohongan, dan sebagainya. Sebagaimana hati dibersihkan dari penyakit, pikiran juga dibersihkan dari kejahatan. semua pikiran negatif (berpikir negatif). Kita dapat membandingkan tujuan pemurnian ini dengan bagian perangkat lunaknya.

Baca Juga  Pada Waktu Jantung Berkontraksi Untuk Mengalirkan Darah Keadaan Jantung

Kebersihan keduanya (internal dan eksternal/hardware-software) memudahkan hamba untuk dekat dengan Allah dan tidak ‘jauh’, bahkan mungkin bagi sebagian orang, bisa melihat tirai rahasia yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang. Untuk melihat. Dari mana? Karena kesuciannya, Tuhan memberinya keistimewaan untuk menyingkap tabir dimensi lain. Kita sering mendengar istilah mata batin atau mata hati. Mata manakah yang dapat masuk ke dimensi lain yang tidak dapat dilihat dengan mata luar, yaitu kepala mata?

Tuhan Yang Mahakudus itu benar-benar ideal dan harus “didekati” dengan modal kesucian. Semakin bersih batin dan luar seorang hamba, maka semakin “jarak”nya dengan Allah, sehingga doa dan permohonan hamba Allah itu segera diterima, yakni disodorkan kepada Allah. Tentu kita pernah mendengar cerita para nabi yang doa dan permohonannya langsung dipanjatkan kepada Allah.

Apakah Anda Tahu Bagaimana Tuhan Menampakkan Diri Dan Melakukan Pekerjaan Nya Pada Akhir Zaman?

Kisah orang-orang kudus seperti Maria atau orang-orang kudus Allah yang doanya langsung terkabul. Atau berkat kedekatan mereka dengan Tuhan, karena tidak bekerja keras, makanan dan minuman tiba-tiba tersedia bagi mereka entah dari mana asalnya. Selalu ada solusi untuk setiap tantangan yang dihadapi. Bahkan ada pula yang diberi ilmu oleh Allah tanpa bersusah payah mempelajarinya, inilah yang disebut dengan ilmu laduni. Juga kemampuan menyembuhkan penyakit dll. Ada juga orang yang diberi.

Kita sudah banyak mendengar, membaca dan menyaksikan kejadian seperti ini. Jadi mengapa semua ini bisa terjadi? Intinya mereka semua adalah umat pilihan yang selalu menjaga kesucian lahir dan batin agar “sangat dekat” dengan Tuhan. Hati-hati saja, orang yang diberi karomah dan kemampuan tertentu yang bermanfaat bagi orang lain adalah orang yang bisa menjaga hatinya dengan baik sehingga selalu suci dan bersih.

Sebaliknya, karena ibadah orang yang tidak selalu bisa menjaga kebersihan lahir dan batin dapat terhambat karena banyaknya dosa dan maksiat, maka sering kali ibadah dan keinginannya tertunda dalam waktu yang lama. Ada orang yang tidak bisa menjaga kesucian batin dan lahiriahnya (dalam artian jauh dari Tuhan karena tidak beribadah), namun kehidupan duniawinya sangat tertib. Namun hati-hati karena ini disebut istidraj-.

Sebanyak ini

Kebaikan Tuhan Di Balik Kisah Kelam

Siapa yesus sebenarnya, yesus itu siapa sebenarnya, siapa dajjal sebenarnya, siapa sebenarnya abu nawas, siapa yang disalib sebenarnya, siapa anies baswedan sebenarnya, siapa tuhan yesus sebenarnya, siapa nama yesus sebenarnya, siapa sebenarnya, siapa imam mahdi sebenarnya, siapa nabi isa sebenarnya, siapa tuhan yang sebenarnya