Ponorogo

Siaksa, Sistem Informasi Akademik Smaga

Ciptakan Aplikasi Pemecah Kerumitan Birokrasi

Berawal dari keinginan menyederhanakan birokrasi, para guru di SMAN 3 Ponorogo tergerak menciptakan aplikasi induk untuk segala urusan di sekolah. Melihat jadwal pelajaran, hasil ujian, meminjam buku, hingga kelak membayar jajan di kantin sekolah. Aplikasi bernama Siaksa itu pun segera dikloning oleh SMAN 6 Surabaya.

=========================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

KEMUNING senja menyorot halaman luas nan sepi di sekolah itu, awal 2018 lalu. Tak ada aktivitas. Para gurunya sudah pulang. Begitu pula siswa. Lorong dan ruang-ruang kelas sepi. Kecuali satu ruangan sempit di lantai dua. Di dalamnya, ada enam orang yang duduk melingkari satu meja, menatap tajam layar komputer masing-masing. Seperti gambaran dalam film-film bertemakan peretasan jaringan atau komputer. Namun, ini lain cerita. Mereka adalah para guru yang sedang mencipta sebuah aplikasi. ‘’Lemburnya bisa sampai malam. Dan itu hampir setiap hari karena aplikasi ini dibangun dari nol,’’ kata Sri Yuda Mustika Cahyajati, 38, koordinator para guru tersebut.

Cahya, sapaannya, adalah guru di SMAN 3 Ponorogo. Dia memimpin tim yang diberi nama pusat data teknologi dan informasi (PDTI) di sekolah tersebut. Sejak dibentuk setahun lalu, anggotanya tidak berubah. Hanya enam guru dari berbagai mata pelajaran. Cahya sendiri merupakan guru sosiologi. Namun, semuanya punya satu keahlian khusus: teknologi informasi. ‘’Tiga orang ahli di bidang pemrograman,’’ ujar Cahya.

Yang dikerjakan Cahya dan kelima guru di PDTI sampai malam merupakan aplikasi yang kini diberi nama Sistem Informasi Akademik Smaga (Siaksa). Versi awal aplikasi itu sukses ditelurkan tim PDTI dalam kurun waktu enam bulan. Cahya mendeskripsikan Siaksa cukup dalam satu kata. Yakni, roh. Siaksa kini menjelma sebagai roh dari Smaga. Lantaran di dalamnya, segala urusan terintegrasi dalam satu aplikasi induk. ‘’Kami ingin membuat satu aplikasi yang mengintegrasikan semua hal di sekolah,’’ tuturnya.

Setiap unsur di sekolah bisa mengakses Siaksa. Ada tiga halaman berbeda bagi siswa, guru, atau tenaga staf tata usaha (TU). Seluruh identitas siswa yang tercantum di data pokok pendidikan (dapodik) bisa diakses di Siaksa. Guru menilai hasil ujian dan memberi nilai juga lewat aplikasi tersebut. Bagi siswa, mereka bisa melihat jadwal pelajaran, berbagai pengumuman, sampai hasil ujian atau bahkan meminjam buku di perpustakaan lewat Siaksa. Wali siswa juga bisa melihat grafik prestasi anak-anak mereka lewat aplikasi itu. ‘’Jadi, orang tua bisa mengecek perkembangan anak mereka dari rumah. Ke depan, akan dikembangkan pelacakan absensi siswa. Supaya tahu anak bolos atau tidak,’’ papar Cahya.

Aplikasi Siaksa yang saat ini digunakan sudah melewati berbagai pembaruan sejak dirilis tengah tahun lalu. Siaksa kini bahkan digunakan untuk ujian akhir semester (UAS) yang berbasis computer based test (CBT). Inovasi tim Cahya rupanya diapresiasi. Cahya mengklaim SMAN 6 Surabaya berkeinginan untuk mengkloning Siaksa untuk diterapkan di salah satu sekolah terkemuka di Kota Pahlawan itu. Dalam waktu dekat, para guru akan berkunjung dan belajar langsung mengenai Siaksa. Tim yang digawangi Cahya sudah punya angan-angan dalam mengembangkan Siaksa. Mereka ingin mengintegrasikan Siaksa dengan kartu tanda pelajar (KTP) yang dimiliki para siswa. Rencananya, KTP siswa akan dilengkapi chip. Dengan begitu, KTP terintegrasi Siaksa dan bisa digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan di sekolah, termasuk di kantin. ‘’Jadi, semacam uang elektronik. Tinggal tapping, bisa untuk beli makan di kantin ataupun pinjam buku di perpustakaan,’’ bebernya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close