Pacitan

Setelah Irigasi Harus Beli, Pupuk Subsidi Dikurangi, Petani Semakin Sulit Bertani

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Petani Pacitan harus menelan pil pahit. Alokasi pupuk bersubsidi tahun ini terpangkas. Jatah yang diterima hanya 16 persen dari total rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) yang diusulkan tahun lalu.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Pacitan Bambang Supriyoko membeberkan, jatah pupuk bersubsidi yang diterima kali ini 12 ribu ton. Perinciannya, pupuk SP-36 700 ton, ZA 364 ton, Urea 5,7 ton, NPK 5,2 ton, dan organik 1,4 ton. Padahal, RDKK yang diajukan ke pemerintah pusat 78 ribu ton. Dia kurang tahu perihal penyebab akomodasi usulan hanya ter-cover belasan persen. ‘’Mungkin karena memang ada pengurangan jumlah pupuk subsidi ke daerah,’’ ujarnya.

Menurut dia, realisasi selalu terpaut jatah RDKK. Ambil contoh pada 2018. Dari usulan 58 ribu ton, pemerintah pusat hanya menjatah 25 ribu ton. Dua tahun lalu, pupuk bersubsidi yang diterima Urea 9 ribu ton, organik 7 ribu ton, NPK 6 ribu ton, SP-36 2 ribu ton, dan ZA 1.000 ton. ‘’Kalau yang 2019 perlu cek data,’’ tuturnya.

Bambang berharap alokasi pupuk nonsubsidi mudah didapat. Sehingga, petani tetap punya opsi untuk perawatan tanaman. ‘’Tentu harapannya pupuk bersubsidi meningkat, tapi kalau turun, ya apa boleh buat,’’ ucapnya.

Agus  Ramadhan, petani Desa Mentoro, Pacitan, mengatakan bahwa bertani semakin sulit karena turunnya kuota pupuk bersubsidi. Sebelumnya, modal tanam membengkak untuk beli air karena dampak kekeringan. Tahun ini ada kemungkinan keluar uang lebih banyak imbas pengurangan pupuk bersubsidi. ‘’Kalau pupuk mahal atau sulit didapat tentu tambah menyusahkan rakyat kecil,’’ ujarnya. (gen/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close