Opini

Setelah Ada Positif

RABU kemarin menjadi hari yang cukup berat. Saya harus mengumumkan satu warga kita yang positif Covid-19. Kasus pertama di Kota Pendekar. Telur yang kita jaga dengan sekuat hati itu akhirnya pecah juga. Kota kita akhirnya turut menyumbang satu kasus Covid-19 di Jawa Timur dan tanah air. Berat hati saya. Seakan tak menyangka. Apalagi, kalau mengingat upaya yang sudah kita lakukan sejak kasus ini muncul di tanah air. Kita seakan mencurahkan pikiran 24 jam sehari hanya terkait ini. Semua ikut terlibat. Termasuk masyarakat.

Kota kita sejatinya satu dari dua daerah yang masih belum tercatat adanya kasus positif di Jawa Timur. Setidaknya sampai Rabu kemarin. Saat ini, Kabupaten Sampang jadi satu-satunya daerah di Jawa Timur yang belum tersentuh kasus positif Covid-19. Setidaknya sampai Minggu Minggu (10/5). Kalau kasus pertama di tanah air diumumkan 2 Maret lalu, Kota Madiun berhasil bertahan 2 bulan 4 hari. Waktu yang cukup lama mengingat persebaran kasus Covid-19 yang luar biasa. Di tanah air sudah lebih dari 13 ribu kasus. Sedangkan, di Jawa Timur sudah tembus seribu kasus.

Satu kasus di Kota Pendekar tentu sangat kecil dibanding itu. Tetapi bukan berarti tenang-tenang saja. Sebaliknya, ini jadi momentum untuk lebih baik. Bekerja lebih keras dari yang kemarin. Kewaspadaan kita tingkatkan. Pengetatan kita lakukan. Sudah tiga malam berturut tim gugus tugas percepatan penanggulangan Covid-19 turun ke jalan. Penyisiran memang kita tingkatkan lagi. Sasarannya, mereka yang tidak pakai masker dan berkerumun. Bukan hanya sosialisasi, tim juga melakukan penyemprotan pakai mobil pemadam di tempat kerumunan sebagai shock therapy.

Razia juga berbeda. Saya minta tim dibagi tiga. Tiap kelompok beroperasi di satu kecamatan. Artinya, razia di Kecamatan Kartoharjo, Manguharjo, dan Taman dilakukan secara serentak. Biar razia semakin efektif. Masyarakat yang berkerumun langsung dibubarkan. Tempat yang masih dijadikan nongkrong saya minta disemprot. Biar basah dan tidak digunakan lagi sementara. Penyemprotan memang masih sebatas tempatnya. Tapi kalau masyarakat tetap ngeyel, tim saya minta untuk tidak segan. Langsung semprot ke orangnya. Mereka kita minta push-up sebagai hukuman sementara. Ini juga dilakukan disejumlah daerah lain.

Razia juga menyasar pengunjung dan pengelola gerai di mal. Tim mengunjungi mal Jumat malam (8/5) atau sehari setelah razia di jalan itu. Khusus supermarket untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari memang masih diperbolehkan buka. Namun, ada beberapa gerai lain yang juga buka. Tak heran, masyarakat banyak yang berkunjung. Sayangnya, beberapa tidak patuh saat berbelanja. Tak segera pulang dan masih bergerombol. Ada juga yang tidak pakai masker. Semuanya langsung diminta pulang. Yang masih belanja diminta untuk dipercepat. Pengelola tiap-tiap gerai juga kita peringatkan. Jam buka tak lebih dari pukul 21.00 serta tidak menyediakan tempat duduk, pakai masker, dan jaga jarak.

Kota Madiun memang tak menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Masih belum layak menerapkan itu. Kita tidak mengusulkan untuk menerapkan PSBB. Kalaupun mengusulkan sepertinya akan ditolak pemerintah pusat. Karena belum layak tadi. PSBB hanya untuk daerah dengan kasus positif luar biasa. Kota kita belum termasuk dan semoga jangan sampai itu terjadi. Artinya, aktivitas di luar rumah masih diperbolehkan di Kota Pendekar. Masyarakat masih diperbolehkan bekerja. Pedagang masih boleh berjualan. Pemilik usaha masih bisa membuka gerainya. Selain itu, juga tidak ada akses jalan yang ditutup kecuali Jalan Soekarno-Hatta yang diberlakukan buka-tutup di jam tertentu untuk kawasan physical distancing.

Karenanya, potensi penyebaran Covid-19 di Kota Madiun cukup terbuka. Pemerintah Kota Madiun hanya bisa memberlakukan pembatasan kecil. Seperti, jam buka usaha tadi. Tidak boleh lebih dari pukul 21.00 dan tidak menyediakan layanan meja-kursi maupun alas tempat duduk. Terutama untuk usaha kuliner. Tim juga kembali mempertegas kebijakan itu saat razia. Pedagang diingatkan kembali. Mereka yang membandel terpaksa akan dilakukan penutupan sementara.

Upaya yang dilakukan pemerintah tentu tak akan maksimal tanpa campur tangan masyarakat. Penanganan Covid-19 ini memang butuh peran bersama. Butuh kesadaran diri masing-masing. Jangan anggap remeh virus ini. Seperti kasus positif di Kota Madiun yang terjangkit dari klaster Temboro itu. Warga Pandean tersebut merupakan pedagang yang setiap hari berjualan di Temboro. Dia tetap pede berjualan di sana karena memang tidak ada yang aneh secara kasatmata. Masyarakat di sana juga sehat-sehat. Namun, apakah bisa menjamin tempat itu aman dari Covid-19?

Ini wajib menjadi pembelajaran kita semua. Tempat yang sekiranya bersih belum tentu aman dari virus. Tempat yang kita nilai baik, belum tentu steril. Kita tidak pernah tahu. Karenanya, masalah ini butuh kesadaran diri masing-masing. Sadar untuk berdisiplin dan bertanggung jawab atas kesehatan diri sendiri khususnya dan orang lain pada umumnya. Disiplin tidak keluar kota, disiplin di rumah saja, disiplin pakai masker tatkala keluar rumah, disiplin cuci tangan pakai sabun, disiplin jaga jarak, dan disiplin menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Kasus positif yang sudah terjadi biar terjadi. Toh, orangnya sudah tertangani di rumah sakit. Keluarganya juga sudah melakukan isolasi dan dalam pengawasan ketat petugas. Yang terpenting, bagaimana setelah ada positif ini. Bagaimana meningkatkan kesadaran diri kita untuk melawan Covid-19 ini.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close