Bupati Menulis

Setahun Kena Covid-19

SORE yang mengejutkan. Saya kebetulan menonton jumpa pers Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di TV sekitar pukul 17.00, Jumat, 13 Maret 2020. Ganjar menyampaikan bahwa seorang warga Magetan meninggal karena Covid-19 setelah sempat dirawat di RSUD dr Moewardi, Solo. Penderitanya belakangan menjadi bagian klaster Bogor –sumber penularan virus korona dari daerah itu.

Saya terkejut karena yang meninggal itu warga Magetan. Tahunya dari TV, dan kejadiannya sudah terlewat dua hari. Warga saya itu meninggal Rabu, 11 Maret. Jenazahnya dimakamkan dengan prosedur biasa. Sejumlah anggota keluarga yang sempat berinteraksi akhirnya tertular.

Semua pihak menjadi takut. Malamnya, saya bergegas ke Puskesmas Ngariboyo. Selain memberi semangat ke tenaga kesehatan, juga menanyakan perkembangan tracing. Pemeriksaan swab harus dibawa ke Surabaya. Hasilnya menunggu sepekan.

Kala itu, mencari peralatan kesehatan begitu sulit. Jangankan alat pelindung diri (APD), masker saja langka. Kalaupun ada, harganya tidak masuk akal. Bersama Surabaya dan Malang, Magetan termasuk daerah pertama yang kena Covid-19. Semua pihak kelabakan. Sebab, belum ada panduan jelas. Informasi yang berseliweran membuat semuanya semakin sulit. Mana yang benar dan hoaks.

Saya ajak diskusi anak pertama yang dokter spesialis anak terkait pengambilan kebijakan. Kala itu, menurut dia, kita akan hidup berdampingan dengan virus korona. Salah satu media penularan dari interaksi fisik. Orang yang rentan harus dilindungi. Pembuatan vaksinnya butuh waktu.

Yang kami khawatirkan apabila banyak pasien masuk rumah sakit. Jumlah ICU terbatas. Jika masuk bersamaan, rumah sakit kewalahan menangani. Jalan keluarnya, menaikkan daya tahan tubuh, mengurangi interaksi, dan selalu mengenakan masker.

Apa yang kami diskusikan tentu tidak mungkin menjadi konsumsi umum. Sebab, kala itu belum ada arahan. Malah ada desakan kuat agar lockdown. Semua pintu wilayah ditutup untuk mencegah orang masuk atau keluar. Tapi, saya tidak melakukannya.

Sejak awal saya berkeyakinan jangan sampai pandemi membuat ekonomi terpuruk terlalu dalam. Konsekuensi lockdown sangat berat. Anggaran negara, apalagi APBD, akan jebol.

Kebijakan yang saya ambil isolasi wilayah terbatas. Penutupan hanya di lingkungan rukun tetangga. Jalan ditutup radius sekitar 100 meter. Kontrolnya ketat. Ternyata, langkah tersebut mampu menahan laju penularan. Ekonomi tidak terlalu terganggu.

Ketika pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah, mobilitas masyarakat masih tetap terjadi. Itu karena pemenuhan kebutuhan dasar tidak mungkin berhenti. Di sisi lain, masker masih langka. Kasus positif terus naik menjadi risikonya.

Kasus Covid-19 di Magetan sempat menjadi perhatian dunia saat penularannya meluas ke lingkungan pondok pesantren. The New York Times pun memberitakannya. Hal wajar karena para santri itu berasal dari berbagai negara, terutama Asia Tenggara. Banyaknya santri membuat potensi penularan virus tergolong tinggi.

Sejumlah daerah di Madiun Raya lantas melakukan pembatasan mobilitas masyarakat. Posko-posko didirikan di wilayah perbatasan. Kekhawatiran kasus Covid-19 meluas merupakan hal wajar. Namun, saya menilai pembatasan itu berlebihan. Pernah terjadi pedagang dari Magetan tidak bisa berjualan ke luar daerah.

Padahal, penularan bisa datang dari daerah lain. Itu terbukti. Setelah isolasi terbatas kami berhasil, penambahan pasien terpapar justru sumbernya dari luar daerah. Antara lain, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Malang.

Belajar dari kondisi itu, kebijakan terkait penanganan Covid-19 tidak efektif dilakukan secara parsial, melainkan harus bersama-sama. Seperti pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro. Berdasar hasil evaluasi, kebijakan yang menitikberatkan pembatasan di tingkat RT itu cukup efektif. Laju persebaran ditahan dan ekonomi tidak begitu terpuruk.

Tepat hari ini, setahun sudah pandemi Covid-19 masuk Magetan. Banyak cerita dan hikmah. Kita semakin memahami cara penularan dan pencegahan tertular virus korona. Di era digital saat ini, pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 layak diberi gelar PhD dari University of WhatsApp. Yang menjadi persoalan, mau atau tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button