Ponorogo

Serunya Flash Mob Tari Barongan Surodikraman

Latihan Tiga Kali Sepekan, Tua-Muda Ikut Turun ke Jalan

Sebentuk kreativitas yang patut diapresiasi lahir di Surodikraman. Agenda reyog obyok tanggal sebelas di setiap bulan dirasa monoton. Rabu (11/12) paguyuban reyog setempat menggelar flash mob tari barongan untuk membuat agenda itu menjadi lebih segar. Bisa ditiru untuk skala yang lebih besar.

====================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

‘’MONGGO semua. Yang pengin ikut ndak usah malu!” Ajakan pembawa acara reyog obyok di Jalan Kumbokarno, Surodikraman, Rabu sore (11/12) seakan membuat pantat Kepala Dispar Agus Sugiarto semakin gatal. Sedari acara dimulai, dia hanya duduk menikmati pertunjukan reyog obyok di kelurahan tersebut. Akhirnya Agus memutuskan ikut turun ke jalan dan bergabung bersama puluhan warga lainnya. Di bawah rintik hujan, warga tua dan muda, serta polisi dan TNI, Agus melakukan flash mob tari barongan bersama mereka.

Memang tak semua mampu menampilkan gerakan yang luwes. Termasuk Agus. Tapi, kemauan mereka turun dan menari bersama menjadi nilai positif yang dapat dipetik dari reyog obyok di Surodikraman kemarin. ‘’Masyarakat Surodikraman ternyata luar biasa. Ini ide yang sebenarnya datang tiba-tiba,’’ ujar Sunarso, salah seorang pencetus flash mob dalam reyog obyok di Surodikraman.

Ide melakukan flash mob muncul di benak Sunarso dan kawan-kawan dua pekan lalu. Para pegiat seni reyog yang tergabung dalam Paguyuban Reyog Songgo Budoyo itu merasa perlu ada penyegaran dalam reyog obyok yang digelar rutin tanggal sebelas di setiap bulan. Hingga kini, sudah lima kali paguyuban reyog setempat pentas. ‘’Supaya tidak itu-itu saja. Kami ingin menampilkan sesuatu yang berbeda sebagai penutup reyog obyok tahun ini,’’ katanya.

Sunarso dan kawan-kawan langsung menyusun skenario. Lalu langsung latihan bersama anggota paguyuban. Mereka berlatih enam kali dalam dua pekan untuk menyempurnakan flash mob supaya menarik. Konsepnya, dua pembarong turun ke jalan di tengah pementasan. Tanpa mengenakan barong. Berikutnya, anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ikut turun menari. Disusul anggota Polri dan TNI. ‘’Semua disiapkan secara mandiri,’’ ujar Sunarso.

Ternyata lebih banyak dari dugaan. Awalnya, Sunarso menargetkan 30 orang. Setelah dipraktikkan, tua muda ikut menari bersama. Meski hujan rintik-rintik, mereka tak ragu turun ke jalan. ‘’Latihannya hanya tiga kali seminggu. Kesulitannya pada disiplin waktu. Tapi akhirnya bisa berjalan lancar,’’ jelasnya.

Sunarso berharap, flash mob yang ditampilkan dalam reyog obyok kemarin bisa menginspirasi kelurahan dan desa lain. Supaya semua juga bisa memunculkan ide-ide yang lebih kreatif untuk mewarnai agenda reyog obyok tiap sewelasan. ‘’Saya kira semua bisa memunculkan ide-ide kreatif seperti itu. Ini yang kami harapkan. Bahwa flash mob ini bisa menjadi acuan bagi kelurahan maupun desa yang lain,’’ ucap Sunarso. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close