features

Sepi Tanggapan, Dalang Wayang di Pacitan Ini Banting Setir Jadi Peternak Kambing

Korona mengharuskan Ki Supinardi menanggalkan baju dalangnya. Daripada meratapi sepinya tanggapan pementasan wayang kulit, dalang 43 tahun itu banting setir menjadi peternak kambing.

NUR CAHYONO, Jawa Pos Radar Pacitan

KATA Semar, siapa pun yang bekerja dengan ikhlas, mungkin bisa kaya mungkin juga tidak. Tapi, setiap kali butuh, duit itu ada. Filosofi itu serupa dengan semangat hidup dalang Candi, Pringkuku, ini. ‘’Selama pandemi ada 13 job yang dibatalkan. Sudah telanjur kasih DP (down payment), saya kembalikan,’’ katanya.

Bapak dua anak itu tetap meyakini rezeki adalah rahasia Ilahi. Tinggal bagaimana berkemauan kuat terus berusaha mencari nafkah untuk keluarga. Berkali-kali gagal pentas, Ki Supinardi teringat sosok ayahnya yang merupakan pedagang kambing. ‘’Saya dan adik-adik dulu bisa sekolah karena bapak jualan kambing. Akhirnya sekarang memutuskan menggeluti penggemukan kambing,’’ ujarnya.

Tanpa berpikir lama, Ki Supinardi langsung memanfaatkan sisa tabungannya untuk membeli kambing. Sebidang tanah di samping rumah orang tuanya dipilih untuk membangun kandang. ‘’Setahun jalan, saya merasa semakin totalitas,’’ ucapnya.

Ki Supinardi memperoleh banyak pengalaman. Mulai tata cara penggemukan hingga perawatan kesehatan. Kini, tak kurang 40 ekor kambing sedang dibesarkan di kandangnya. ‘’Tak terbayang sebelumnya sekarang bisa melakukan operasi pembedahan saat kambing kesulitan melahirkan,’’ tuturnya.

Meski terbilang pemain baru, Ki Supinardi tak pernah kesulitan menjual kambing. Bahkan, baru sepekan di kandang sudah didatangi pembeli. Selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), dirinya menghindari transaksi dengan pedagang luar daerah. ‘’Pasar saya lokalan saja,’’ sebutnya.

Tak dinyana, ketekunannya berbuah manis. Ki Supinardi berhasil membuktikan bahwa penghasilannya kini sepadan dengan pendapatannya sebagai pekerja seni. ‘’Sesibuk apa pun ngurus ternak, tetap saya sisihkan waktu untuk berkesenian. Mau bagaimana lagi, lha wong telanjur cinta. Saya tetap memberi pelatihan membuat wayang,’’ ungkap pemilik sanggar Laras Moyo itu. (ti2/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button