Madiun

Sepanjang Juni, Tim Relawan Kota Madiun Makamkan 67 Korban Covid-19

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Gunakan akal sehat jika tiba-tiba orang di sekitar kita bertumbangan. Tentu ada penyebab di baliknya. Salah satunya, Covid-19. Pesan itu ingin disampaikan para relawan tim pemakaman Covid-19 Kota Madiun. Agar masyarakat membuka mata bahwa Covid-19 nyata adanya. Sehingga, harus membentengi diri dengan disiplin protokol kesehatan (prokes).

Sebulan kurang sehari, Juni ini, tim relawan telah memakamkan sedikitnya 67 jenazah korban Covid-19. Meningkat dua kali lipat dibanding sebelum Lebaran, yakni rata-rata 30-an jenazah sebulan. Yulius Victoria, staf PMI Kota Madiun yang mem-back up koordinator lapangan pemakaman Covid-19, sadar. Dia dan 12 petugas lainnya harus bekerja ekstra meski letih. ‘’Lelah? Iya lelah. Tapi, demi kemanusiaan, tugas ini harus kita jalankan dengan ikhlas,’’ kata Kelik, sapaan akrabnya.

Jumat lalu (25/6), Kelik bersama tim berada di puncak kelelahannya. Apalagi malam itu hujan turun deras. Sekali pemakaman yang biasanya diselesaikan tiga jam harus molor. Mulai pukul 23.00 dan baru selesai saat azan subuh. ‘’Teman-teman sudah mulai lelah malam itu. Macul sudah mulai goyah,’’ ujarnya.

Pasca-Lebaran, Kelik berhitung memakamkan rata-rata 5-7 jenazah per hari. Dia bersama 12 petugas lainnya. Tujuh relawan PMI dan enam relawan BPBD. Kekompakan tim itu bak jamu kuat mereka. ‘’Jika ada yang mulai lelah, kita hibur dengan canda tawa. Pokoknya sampai lelahnya benar-benar tidak terasa lagi,’’ ungkap warga Nambangan Lor, Manguharjo, yang telah mengabdi 13 tahun di PMI 13 itu.

Mereka juga dituntut disiplin menjalankan standard operating procedure (SOP) pemakaman Covid-19. Mengenakan alat pelindung diri (APD) hazardous materials (hazmat), masker N-95, sepatu boots, kacamata goggle, penutup kepala, face shield, dan sarung tangan. Pun, menutup isolasi pada celah yang dikhawatirkan jadi pintu masuk virus. ‘’Seperti sarung tangan kita beri isolasi lagi, masker, kacamata, dan bagian lain,’’ terangnya.

APD itu harus dilepas dan dibuang ke tempat sampah medis yang disediakan puskesmas setiap kali usai pemakaman. Lalu mandi sesampainya di kantor. Begitu seterusnya ketika melakukan pemakaman. Pun harus mandi lagi sebelum bertemu keluarga di rumah. ‘’Sehari bisa mandi belasan kali, tidak bisa dihitung lagi,’’ tuturnya.

Kedisiplinan menjadi kebutuhan wajib seluruh tim di pos masing-masing. Petugas disinfeksi dua orang. Petugas disinfeksi dengan alat gendong menyemprotkan disinfektan selama pemakaman berlangsung. Satu petugas disinfeksi lain menyemprot menggunakan mobil disinfektan. Kelik bertugas di mobil disinfeksi itu. Tugas lainnya, koordinasi dengan rumah sakit tentang kesiapan jenazah, keluarga, dan pemakaman. Kemudian meneruskan laporan ke dinkes-PPKB.

Empat petugas membawa peti jenazah turun dari mobil ambulans. Termasuk petugas ini yang menarik tali peti saat diturunkan ke liang lahat. Tujuh petugas lain mencangkul tanah untuk menguruk makam. Satu petugas sebagai modin. Ada restan dua sampai tiga orang keluarga yang dapat mengikuti prosesi pemakaman. Modin dan keluarga juga wajib mengenakan APD lengkap. ‘’Peti tidak boleh dibuka,’’ jelasnya.

Usai menjalankan tugas, mereka bergantian disterilisasi petugas disinfeksi. Selanjutnya APD dimasukkan ke tempat sampah limbah yang disediakan puskesmas setempat. Melalui disiplin prokes itulah, mereka yakin turut menyelamatkan orang-orang di sekitarnya. Tidak terkecuali keluarga di rumah. ‘’Keluarga jelas khawatir, kami berikan pemahaman prokes. Ini semua demi kemanusiaan,’’ pungkasnya. (kid/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button