Pacitan

Sepak Terjang Ririh sebagai Kepala SKB Pacitan Perempuan

Ririh Enggar Murwati adalah nakhoda perempuan pertama Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pacitan. Banyak prestasi, baik tingkat lembaga maupun personal, diraih selama delapan tahun memimpin. Seperti apa perjuangannya?

—————–

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

RUANG kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pacitan disesaki banyak penghargaan. Piala tersimpan di sebuah etalase kaca dan piagam menempel di tembok. Tujuh pigura foto bergambar enam pria dan satu perempuan menjadi pembeda ruangan lembaga pendidikan nonformal pemkab setempat tersebut. ‘’Semua foto itu kepala SKB, saya adalah perempuan pertama yang hingga kini masih aktif,’’ kata Ririh Enggar Murwati.

Enggar menjabat sebagai kepala SKB ke-7 delapan tahun silam. Dia dipercaya mengemban jabatan itu oleh bupati, setelah mengabdikan diri menjadi guru sanggar sejak 2008. Bisa jadi, penunjukan itu karena pertimbangan kiprahnya yang tidak kalah dari para nakhoda sebelumnya. ‘’Saya dulu sempat tidak percaya dengan penunjukan itu karena posisi sebagai guru,’’ kata warga Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, tersebut.

Di bawah kepemimpinan perempuan 46 tahun ini, SKB Pacitan meraih berbagai prestasi. Tahun ini, misalnya, Enggar menyabet juara I sebagai kepala SKB terbaik kreatif secara manajemen se-Jawa Timur. Dalam tingkat nasional, kategori itu meraih juara II. Sedangkan untuk lembaga, anak didiknya meraih juara III nasional Pramuka Penggalang Saka Widya Budaya Bakti. Serta juara I Lomba Tari Tradisional Hardiknas di Malang. ‘’Ada kebahagiaan tersendiri kalau anak didik bisa berprestasi,’’ ucap perempuan yang punya angan-angan mendirikan boarding school ini.

Capaian Enggar saat ini dimulai dari nol dengan titik awal lolos tes pamong belajar pada 2003. Alumnus Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini meraih beasiswa S-2 dari Direktorat Pendidikan dan Tenaga Teknis (Diktentis). Momen itu pun tidak terlupakan. Enggar sedang hamil tua kala kesempatan meraih gelar magister di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu datang. ‘’Bimbang sekali karena sudah sembilan bulan mau lahiran anak bungsu,’’ kenang istri Mudiono itu.

Akhirnya, Enggar mengambil beasiswa itu. Dia rela bolak-balik Jogjakarta-Pacitan mengikuti kuliah dan menyusui anaknya. ‘’Bagi saya, beasiswa S-2 ini bagian dari tugas belajar dan tanggung jawab,’’ katanya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close