Madiun

Seorang Santri Menolak Dites Cepat karena Takut Jarum Suntik

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Seorang santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Mekar Agung (DMA), Kebonsari, Kabupaten Madiun, sempat membikin petugas medis gugus tugas percepatan penanganan (GTPP) Covid-19 kerepotan Senin (22/6).

Remaja perempuan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menolak dites cepat. Bujukan teman hingga aparat kepolisian tak mampu meluluhkannya. ‘’Dia menangis minta pulang,’’ kata Kapolsek Kebonsari AKP Sunu Budiarto.

Santri itu tidak sampai kabur. Dia juga ikut antrean pemeriksaan bersama ratusan teman-temannya dalam gelombang ketiga kepulangan santri ponpes DMA dari luar daerah. Akan tetapi, dia selalu menarik tangannya setiap kali petugas medis hendak mengambil sampel darah. Penolakan itu disusul tangisan dan permintaan dipulangkan ke kampung halaman. ‘’Saya rayu dengan membelikan bakso juga tidak mau,’’ ujarnya.

Ketua Yayasan Ponpes DMA KH Abdul Aziz sampai harus turun tangan. Di saat santri itu masih sesenggukan, dia memberikan penuturan. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk meyakinkannya agar mau di-rapid test. Belakangan diketahui bahwa anak asuhnya itu takut jarum suntik. ‘’Ketika ada suntik imunisasi di madrasah, dia juga takut seperti itu,’’ ungkap Aziz.

Santri itu didampingi Aziz dan temannya saat berada di depan meja medis. Ketika jarum menancap di jari tangan kanannya, seketika dia menutupi wajah. Karena adanya penolakan, rapid test-nya diikutkan jadwal santri putra.

Koordinator Pusdalops GTPP Covid-19 Kabupaten Madiun Muhammad Zahrowi mengungkapkan, ada 141 santri yang di-rapid test. Mereka berasal dari Banten, Lampung, Riau, Bengkulu, dan Palembang. Jumlah tersebut berkurang 12 dari total rencana kedatangan. Informasinya, belasan santri itu terkendala pengurusan surat sehat untuk persyaratan transportasi di daerah masing-masing. ‘’Hasil rapid test gelombang ketiga masih direkap dinas terkait,’’ ujarnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close