Opini

Sentral Pendidikan Keluarga

USIA saya sudah berkepala enam saat ini. Tepatnya, pada 12 Mei lalu, saya berulang tahun yang ke-60. Saya tidak pernah membayangkan akan berada di titik ini sebelumnya. Menjadi wali kota Madiun. Namun yang pasti, semua itu tak terlepas dari peran keluarga. Khususnya orang tua. Tentu juga mungkin karena sudah suratan takdir yang digariskan Tuhan untuk saya. Yang jelas, peran orang tua tidak bisa dianggap sepele. Banyak sudah pendidikan yang diberikan kepada saya. Dengan kasih sayang pula.

Entah bagaimana jadinya kalau orang tua saya dulu tak acuh. Mungkin tidak ada saya yang seperti sekarang. Itulah yang dinamakan pendidikan keluarga. Jauh sebelum adanya lembaga pendidikan yang sekarang disebut sekolah, keluarga sudah menjadi media atau tempat mengenyam ilmu. Bahkan, sejak masih dalam kandungan. Sering kita melihat seorang ibu mengajak bicara anaknya yang masih dalam kandungan. Secara psikologis itu berpengaruh besar. Bahkan, sering kita dengar banyak anak cerdas yang dulunya rajin dibacakan Alquran saat masih dalam kandungan.

Pendidikan keluarga ini adalah akar dari semua pendidikan karakter. Pendidikan keluarga menjadi awal. Kalau awalannya baik, tentu untuk memoles ke belakangnya juga mudah. Seperti kita ketahui bahwa anak ibarat kertas putih bersih tanpa coretan. Orang tualah yang memegang pena pertama untuk memberikan catatan-catatan itu. Catatan itu berpengaruh untuk coretan lain ke depannya. Banyak cerita pilu terkait anak yang berawal dari masalah keluarga. Ada banyak anak yang terjerembap di dunia kriminal bahkan narkoba karena orang tuanya bercerai. Miris sekali.

Keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama ini yang sering terabaikan kini. Pendidikan seolah menjadi tugas pemerintah sepenuhnya melalui segala lembaganya. Itu tidak salah. Pemerintah memang berkewajiban memberikan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, sekali lagi peran orang tua juga tidak bisa dikesampingkan. Orang tua seakan-akan telah lepas tanggung jawab akan pendidikan itu tatkala sudah memasukkan anaknya dalam suatu lembaga pendidikan. Urusan pendidikan sudah ditangani para tenaga pendidik yang telah ahli di bidangnya. Orang tua tinggal memberikan dukungan dengan menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Tetapi bagaimana kalau kondisinya seperti sekarang ini.

Pandemi Covid-19 belum dapat dipastikan kapan selesainya. Kegiatan belajar-mengajar tidak bisa berjalan maksimal karena belum boleh tatap muka. Setahun lebih pembelajaran dilakukan secara daring dari tempat tinggal masing-masing. Di Kota Madiun sudah agak mendingan karena mulai ada tatap muka lagi. Ya, biarpun konsepnya berbeda. Tidak dalam kelas tapi di luar ruangan atau outdoor learning. Konsep juga kita kombinasikan dengan daring. Karenanya, muncul konsep daring outdoor learning. Tetapi itu juga belum maksimal. Sebab, pembelajaran tatap muka luar ruangan itu juga terbatasi waktu. Tidak memungkinkan juga anak-anak berada di taman dari pagi hingga siang. Tetapi setidaknya bisa mengobati kerinduan akan pembelajaran langsung.

Artinya, selama pandemi masih berlangsung anak-anak masih banyak di rumah. Intensitas bersama keluarga tinggi. Waktu dengan orang tua panjang. Keluarga menjadi tempat belajar yang paling efisien. Karenanya, keluarga sebagai sentral pendidikan ini harus dioptimalkan. Orang tua harus menjadi guru bagi anak-anaknya. Tentu itu tidak mudah. Karena tidak semua orang tua memiliki basic mengajar. Belum lagi kesibukan lain. Terutama urusan pekerjaan. Karenanya, tengah kita siapkan konsep materi mengajar untuk orang tua. Kita jadwalkan pembelajaran secara virtual untuk orang tua. Saya sendiri yang akan jadi pematerinya dengan dibantu para ahli pendidikan.

Orang tua harus memahami konsep mengajar, menghadapi anak, dan menanamkan karakter kepada si buah hati. Orang tua harus memahami apa yang harus disiapkan ke depan. Bukan hanya jangka pendek. Tapi apa yang akan terjadi di sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Tantangan apa yang akan dihadapi generasi anak kita ini nanti. Ini penting mengingat besarnya peran orang tua dalam pendidikan. Di Kota Madiun cukup memungkinkan untuk itu. Apalagi, kita sudah punya 1.750 titik wifi gratis. Anak-anak juga kita bekali laptop.

Orang tua tidak harus mengajarkan materi yang diberikan secara langsung. Waktu pengajaran kepada anak bisa menyesuaikan. Jika orang tua bekerja, pembelajaran bisa dilakukan saat malam atau di waktu senggang. Saat quality time di rumah. Sering saya katakan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama. Sekali lagi peran orang tua penting dalam pendidikan. Orang tua harus menyempatkan itu. Karena, sentral pendidikan ada di keluarga. Ini penting demi SDM kita. SDM warga kota yang berkualitas. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button