Pacitan

Sempat Hanyut ke Tengah Laut, Lapisan Bambu Masjid Apung Diganti Baru

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Kokohnya konstruksi Masjid Apung tak diragukan. Sehari pasca dievakuasi dan dikembalikan pada posisi semula, masjid di muara Sungai Grindulu itu sudah digunakan beribadah seperti biasanya.

Tepat kiranya KH Fuad Habib Dimyath mengajak nelayan kawakan dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, saat awal membangun. Pengalaman ”arsitek” yang sudah terbiasa membuat keramba ikan membuat masjid itu berhasil menghadapi ujian alam. Kala itu sempat berjam-jam terombang-ambing di tengah lautan.

Kamis (4/3) lima santri dari Pesantren Termas melakukan perbaikan ringan. Sebatas mengganti lapisan bawah lantai di bagian teras yang lapuk dengan bambu baru. ‘’Ketika hanyut itu rakitnya masih kokoh berdiri. Tidak ada yang rusak parah. Hari ini (kemarin, Red) hanya mengganti lantainya dengan bambu baru,’’ kata Riyan Yudianto, penjaga Masjid Apung.

Masjid yang terapung di antara pertemuan air tawar Grindulu dengan air asin di pantai Pancer Door itu berukuran 9×11 meter. Sebagian masyarakat menyebutnya sebagai masjid kemampul. Selain digunakan jamaah salat lima waktu, masjid di Desa Kembang itu juga digunakan salat Jumat. ‘’Setelah hanyut itu, Gus Fuad mengutus beberapa ustad dari Pesantren Termas untuk mujahadahan setiap malam hingga subuh,’’ tuturnya. (mg5/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button