AdvertorialNgawi

Sembilan Tahun Bangun Fondasi Pembangunan Ngawi

Bisa Disempurnakan Asalkan Tidak Diubah

KEBIJAKAN strategis Bupati Budi ”Kanang” Sulistyono dan Wakil Bupati Ony Anwar mengantarkan keberhasilan keduanya membangun Ngawi selama sembilan tahun terakhir masa pemerintahannya. Mulai kebijakan keuangan, sumber daya manusia (SDM), hingga keterpaduan program di setiap organisasi perangkat daerah (OPD).

Raihan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) enam kali berturut-turut, serta peningkatan predikat SAKIP dari C menjadi A, merupakan wujud nyata kesuksesan Kanang-Ony. Pun dengan prestasi lain di bidang lingkungan, kesehatan pendidikan, ekonomi, pertanian, budaya, pariwisata, dan sebagainya.

Di awal pemerintahan, kondisi Ngawi disebut Kanang belum seperti sekarang. Banyak permasalahan yang perlu diselesaikan. Utamanya masalah krisis uang, SDM, hingga kebersamaan atau keterpaduan. ‘’Sebagai kepala daerah yang baru, waktu itu saya harus mengurai dulu permasalahan-permasalahan itu,’’ ungkapnya.

Persoalan pertama yang diselesaikan di awal kepemimpinannya adalah masalah krisis uang. Kala itu, perlu tambahan anggaran hingga Rp 50 miliar agar pemerintahan berjalan normal.

Kanang mulai melakukan penghematan melalui program prioritas belanja dengan menerapkan berbagai kebijakan. ”Rapat tidak boleh pakai snack, hanya air meneral. Laporan ke bupati pakai kertas bekas atau kertas buran dan sebagainya,” katanya.

Kebijakan itu efektif. Tidak hanya mampu menutupi kekurangan anggaran, bahkan surplus hingga sekitar Rp 19 miliar. Selanjutnya, permasalahan krisis SDM mulai ditanganinya. Evaluasi dilakukan. ”Ternyata belanja pegawai paling besar itu untuk gaji tenaga kontrak, honorer, dan sebagainya,” ungkap Kanang.

Kala itu, jumlah tenaga honorer, kontrak, dan sebagainya mencapai sekitar sepuluh ribu. Kanang memulai kebijakannya. Seluruhnya diseleksi. Mana yang direkrut sesuai aturan, dengan Surat Keputusan (SK) Bupati, pun mana yang ilegal. ”Dari sekitar sepuluh ribu, kami pangkas jadi 400-an. Itu bisa menghemat luar biasa untuk belanja pegawai,” jelasnya.

Pro-kontra sempat muncul. Kanang memberikan opsi sebagai solusi. Menjadi pegawai non-PNS tanpa gaji dan tidak boleh mengenakan pakaian kerja selain putih, atau mengundurkan diri dan memilih pekerjaan lain dibantu pemerintah daerah. ”Itu solusi yang luar biasa. Mereka juga mau menerimanya,” tutur Kanang.

Sementara krisis keterpaduan disebutnya lantaran ego sektoral masing-masing OPD yang kala itu cukup tinggi. Semua bergerak sendiri. Misalnya dinas peternakan menganggarkan program peternakan, sedangkan dinas lain yang punya program sama menganggarkannya sendiri. ‘’Itu tidak boleh, harus satu pintu. Mana yang jadi leading sector, dinas lain hanya membantu. Jadi, mulai kami padukan seperti itu, dan sekarang sudah berjalan cukup bagus,’’ paparnya.

Setelah permasalahan tersebut terselesaikan, bersama Ony, Kanang mulai membenahi infrastruktur melalui program andalannya, Mbah Kung Mbangun Deso, yang selaras dengan program presiden. Yakni, membangun dari pinggiran. ‘’Jadi nyambung, antara APBD dengan DD (dana desa, Red) maupun alokasi dana desa (ADD). Dan itu manfaatnya luar biasa untuk pembangunan di desa,’’ ungkapnya.

Tahun berikutnya, fokus kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Konsentrasi programnya membangun wilayah ekonomi baru dan pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Tiap desa juga diwajibkan punya produk unggulan. ”Sekarang sudah jalan meskipun yang paling antusias di desa yaitu pengembangan potensi di bidang pariwisata,” sebutnya.

Pemerintah daerah bakal terus men-support-nya. Termasuk dengan menggandeng pihak swasta. Karena memiliki dampak bagi peningkatan perekonomian warga. Misalnya Srambang Park Ngawi yang semakin dikenal itu juga berdampak positif pada ekonomi masyarakat sekitar. ‘’Sekarang (kebijakan) sudah mulai mengarah ke situ,’’ jelasnya.

Upaya untuk mengubah wajah Ngawi pun gencar dilakukan. Ngawi harus bersih dan hijau. Melalui program Ijo Royo-Royo yang digagas beberapa tahun lalu, hasilnya sudah bisa dilihat. Sedangkan di bidang lainnya terus didorong. Pelestarian budaya, pengembangan dunia pendidikan, dan sebagainya. ”Setiap sekolah, pegawai, dan lainnya kami minta harus punya mimpi berupa visi-misi agar tidak monoton,” pintanya.

Kanang menyebut, dua periode kepemimpinannya merupakan kesempatan membangun fondasi. Tahun 2010-2015 dan 2016-2021. Fondasi yang dibangun bersama wakilnya disebutnya sudah ideal untuk pembangunan ke depan. ”Jadi, kami harap fondasi ini bisa diteruskan ke pembangunan. Bisa disempurnakan asalkan tidak diubah,” tegasnya.

Progres yang dilakukan setahun terakhir menurutnya membangun kekurangan dari era kepemimpinan. Pun mempersiapkan rancangan yang baik untuk pembangunan tahun 2021 mendatang. Dengan harapan dapat dieksekusi dengan baik oleh bupati Ngawi berikutnya. ‘’Sekali lagi, fondasi ini sudah bagus, boleh disempurnakan tapi jangan sampai terjadi perubahan drastis, terutama terhadap visi misi pembangunan Ngawi ke depan,’’ tuturnya.

Sementara Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar merasakan kesan pemerintahan yang guyub, rukun, dan harmonis selama sembilan tahun kepemimpinannya bersama Kanang. Atas bimbingan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, Ony dapat menjalankan perannya dengan baik. Itu pun tidak lepas dari pemerintahan di periode sebelumnya. Jika dirunut sejak era pemerintahan Bupati Harsono dan Wabup Budi ”Kanang” Sulistyono kala itu merupakan awal proses pembangunan Ngawi. ‘’Jadi, masih proses bagaimana membangun harmonisasi antara eksekutif, legislatif, dan lembaga lain, misalnya muspida,’’ terang Ony.

Era tersebut, fondasi membangun Ngawi sudah mulai diletakkan. Salah satunya penyusunan rencana pembangunan jangka menengah dan seterusnya. ‘’Waktu itu yang lebih diutamakan adalah pembangunan di bidang pertanian dengan melakukan penguatan kelembagaannya,’’ ungkapnya.

Program itu pun akhirnya ditindaklanjuti bupati periode berikutnya. Namun, tantangannya pada era Bupati Kanang sudah berbeda. Diakui ada tiga problem yang perlu diselesaikan di awal pemerintahan dulu. Yaitu masalah terkait krisis anggaran, SDM, dan keterpaduan. ‘’Sedikit demi sedikit problem itu dapat diselesaikan karena ketegasan bupati, disiplin, dan membagi peran antara legislatif dengan ekskutif,’’ paparnya.

Setelah semua permasalahan itu selesai, fokus utama pemerintah daerah melanjutkan pembangunan di bidang pertanian itu. Dengan sentuhan berbeda dari era Bupati Harsono yang lebih pada penguatan lembaganya. ‘’Kami mencoba bagaimana agro itu menjadi sesuatu hal yang memiliki daya ungkit luar biasa,’’ ungkapnya.

Akhirnya, terjadi kolaborasi antara bidang pertanian itu dengan lainnya. Mulai dari seni budaya, pariwisata, kriya, dan lainnya. Semuanya saling men-support. Program itu sekarang juga sudah berjalan dengan baik dan terbukti manfaatnya. Maka, Ony sepakat pertanian Ngawi harus lebih baik dan bisa menjadi daya ungkit. ‘’Jadi, fondasinya sudah diletakkan bupati, bagaimana agro ke depan benar-benar bisa menyejahterakan. Itu menjadi tantangan kami ke depan,’’ ungkapnya. (tif/c1/odi/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close