Ngawi

Semangat Jualan Perkutut di Pinggir Jalan Meski Rabun

Keterbatasan usia dan fisik tidak menyurutkan niat untuk mencari nafkah. Meski mata rabun dan tenaga sudah ringkih, Tarno tetap bekerja dengan berjualan burung perkutut.

========================

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

KALAU kalian melewati Jalan Raya Mantingan tepatnya masuk Desa Banjarbanggi, Kecamatan Pitu, pasti akan menemui seorang penjual burung perkutut putih di pinggir jalan dalam beberapa hari ini. Burung itu diikat dan diletakkannya di setangkai pohon. Sesekali pria yang wajahnya sudah keriput dan sering memakai topi rimba itu menawarkan perkutut tersebut kepada pengguna jalan yang lewat.

Usaha itu dijalani oleh Tarno dalam lima hari terakhir. Tapi, sayang perkututnya tersebut tak laku-laku. Padahal, saban hari dia berdisi sejak dari pagi sampai sore. ‘’Belum laku mas, cuma ini (perkutut) yang bisa dijual,’’ ujar Tarno.

Perkutut putih itu merupakan burung yang ditemukan Tarno bersama dengan temannya lain. Sehingga, kalau perkutut tersebut laku terjual, hasil yang didapat harus dibagi. Sementara burung itu dijualnya dengan harga Rp 250 ribu. ‘’Dibagi berempat,’’ kata pria asal Dusun Tanon, Desa Banjarbanggi, Kecamatan Pitu itu.

Tidak tahu sampai kapan pekerjaannya menjual burung perkutut tersebut kuat akan dilakoni. Sementara, kebutuhan dapur makin mengepul. ‘’Kadang istri saya bantu cuci piring di rumah orang. Sebelumnya, saya sempat berjualan kayu bakar. Tapi, sekarang sudah tidak lagi,’’ ungkap pria 69 tahun itu.

Yang membuatnya ringkih tentu adalah sakit matanya. Kalau dilihat sekilas seperti katarak. Sebenarnya bisa dioperasi, tapi Tarno mengaku tidak ada biaya. ‘’Sempat minta ke pemerintah desa (pemdes) untuk dibuatkan surat keterangan tidak mampu (SKTM) tapi nggak jadi-jadi, kalau buat BPJS sendiri saya tidak bisa,’’ ujarnya.

Jangankan biaya operasi, Tarno mengaku untuk membeli obat atau sekadar berobat saja sudah tak mampu. Sebelumnya, dia rutin berobat. Tapi, sejak empat bulan terakhir dia absen. Alasannya karena biaya mobilitas yang dibutuhkan cukup lumayan. ‘’Saya sudah nggak tahu mau bagaimana lagi. Saya sudah pasrah dengan keadaan,’’ tuturnya. ****(her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button