Opini

Semakin Intim di Sumber Kencono (Tujuh Hari Lord Didi)

Oleh Satmiko Supraptono

Jurnalis Jawa Pos Radar Madiun

DEKADE 1980. Ketika di bangku SMP-SMA. Saya suka mendengarkan lagu-lagu pop melow Indonesia. Penyanyinya, Broery Marantika, Obbie Mesakh, dan seangkatannya. Juga lagu-lagu balada karya Ebiet G Ade. Yang agak nakal, milik almarhum Gombloh dan Iwan Fals.

Akhir ’80-an hingga dekade 1990 mulai kenal jazz. Terkontaminasi saat kuliah di Malang. Mafhum, fakultas saya identik dengan jazz. Saban tahun rutin menggelar Jambore Jazz Kampus. Musisi dan grup jazz nasional diundang manggung bergantian. Saya pun terbiasa menyimak Karimata dan Krakatau Band. Juga vokalis-gitaris jazz Mus Mujiono dan lainnya.

Medio ’90-an balik ke Madiun. Berkarir di kampung halaman. Agak bergeser, suka menikmati pop kreatif berbalut jazz tipis-tipis. Maklum, di Kota Pecel, saat itu nyaris tidak ada stasiun radio yang memutar lagu-lagu jazz tebal. Sebaliknya, hampir semua stasiun radio punya segmen siaran lagu-lagu campursari.

Lama-lama telinga ini tergelitik menikmatinya. Mulai yang klasik karya almarhum Manthous hingga yang lebih kreatif seperti Sonny Joss, Cak Diqin, dan mendiang Didi Kempot. Dengan ciri khas masing-masing tentunya. Masih sekadar penikmat.

Awal 2000-an, boleh dibilang bukan sekadar penikmat lagi. Semua itu bermula ketika saya makaryo di salah satu media nasional terbitan Jakarta. Setiap hari. Lima Hari dalam sepekan. Kecuali Sabtu dan Minggu. Saya harus pergi-pulang Madiun-Solo. Hampir tiga tahun lamanya.

Siang jadi wartawan atau liputan di Madiun Raya. Malamnya menunggui proses pracetak di Solo. Untuk cetak koran jarak jauh. Bus Sumber Kencono (sekarang Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu) jadi tumpangan setia. Sampai-sampai saya punya kartu penumpang langganan. Ada diskon khusus.

Di bus Sumber Kencono inilah saya semakin intim dengan campursari. Puluhan pengamen naik-turun bus menghibur penumpang selama perjalanan. Meski, kadang ada yang resek. Anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia ada. Rupa-rupa jenis alat musiknya. Bahkan yang boncang (bondo cangkem) alias modal mulut doang juga ada.

Pengamen anak-anak dan remaja umumnya membawakan lagu-lagu Didi Kempot yang berirama congdut (keroncong dangdut). Sedangkan pengamen dewasa dan lansia lebih banyak membawakan karya Manthous yang kental langgamnya. Kadang-kadang ada yang menyanyikan lagu Iwan Fals. Terutama, dari komunitas OI (Orang Indonesia).

Jika terlalu capek pergi-pulang, terkadang saya menginap di rumah teman. Di Gremet, kawasan Stadion Manahan, Solo. Di sini saya mulai mengenal dan mengakrabi congdut. Anak-anak muda di kawasan ini setiap cangkrukan pasti nglaras (istilah main musik di kalangan mereka).

Alat musiknya keroncong. Tapi aransemennya dangdut. Dan lagu yang dibawakan, hampir semua karya Didi Kempot. Hampir di setiap kampung di kawasan ini (bahkan, mungkin se-Solo), punya grup keroncong anak muda. Saya semakin bertambah intim dengan campursari. Khususnya lagu-lagu Didi Kempot.

Bahkan, keintiman saya over. Saya membeli seperangkat alat musik keroncong. Langsung ke perajin rumahan. Di Mancasan, Baki, Sukoharjo. Dari Kota Solo searah Solo Baru. Saya bawa pulang ke Madiun. Sayang, anak-anak muda di kampung saya kurang meminati. Hingga alat-alat itu menganggur.

Demi bisa nglaras dan menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot, saya lantas menggandeng musisi keroncong senior di Madiun. Kebanyakan para pengamen jalanan. Mereka pun girang bisa memainkan alat musik baru saya. Kadang saya juga ikut ngamen. Hanya, tidak di jalanan. Tapi, di acara hajatan. Biasanya saya kebagian menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot.

Ketika sepanjang 2019 kemarin Didi Kempot berkibar, saya yang berusia setengah abad plus, tidak kaget. Sebab, memang sudah akrab dengan beberapa lagu hits-nya. Yang saya heran, kok generasi milenial seusia anak saya jadi terbius. Hingga menjulukinya Godftaher of Broken Heart. Fansnya menyebut diri Sobat Ambyar, Sad Boys dan Sad Girls.

Rupanya anak-anak muda sekarang memang tidak mau terpuruk dalam kegalauan segalau-galaunya. Sebab, Lord Didi –sebutan lain Didi Kempot– telah memberikan obatnya: patah hati atau sakit hati tidak harus ditangisi melainkan untuk dijogeti.

Tapi, sejujurnya, saya kenal, hafal dan menyanyikan lagu Didi Kempot pertama kali, bukan yang berkisah tentang patah hati atau sakit hati. Sebaliknya, malah tentang jatuh hati. Ketaman Asmoro.

Wis tak lali-lali
Malah sansoyo kelingan
Nganti tekan mbesok kapan nggonku
Mendem ora biso turu         

Saya tidak perlu mengulas kekuatan lirik lagu-lagu Didi Kempot. Pun kepribadiannya di catatan ini. Karena,  hati saya masih ambyar. Toh, hampir semua dari kita sudah tahu. Yang pasti, lagu-lagu Didi Kempot telah menafkahi para pengamen tradisional di jalanan dan bus umum. Pun pengamen modern di Youtube.

Hari ini, mapak tujuh hari (hitungan Jawa) sang maestro berpulang. Maturnuwun, sugeng tindak Mas Didik. Mugi husnul khotimah. Aamiin. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close