Madiun

Selamat Tahun Baru

TAK terasa kita sudah diujung tahun 2019. Tinggal sehari lagi, kita di tahun baru 2020. Orang bilang, sesuatu yang baru memiliki semangat yang menggebu pula. Itu tak salah. Saya sudah membuktikan itu. Saya begitu semangat membangun kota ini sejak sebelum dilantik menjadi walikota. Tak heran, kalau bisa langsung tancap gas begitu dilantik 29 April lalu. Setidaknya, begitu yang saya dengar dari masyarakat. Tak sedikit, yang terkaget dengan cepatnya perubahan di kota ini. Ada juga yang mengkritik. Saya tidak masalah. Karena suatu kebijakan tidak mungkin menyenangkan semua orang. Bagi saya, selama itu demi kebaikan kota dan kesejahteraan masyarakat, kenapa tidak.

Seperti pembangunan ‘pulau’ jalan. Saya memang menyebutnya pulau. Itu hanya istilah. Karena pulau memang identik kawasan pepohonan rindang di antara lautan. Jalan saya anggap lautannya. Karena kalau ada pepohonan di antaranya, saya sebut pulau. Pohon di tengah jalan yang boleh ada juga tidak sembarangan. Harus khusus. Mulai ukuran, usia, dan jenisnya. Seperti yang sudah berdiri di simpang tiga Jalan Panglima Sudirman-dr Soetomo. Ada satu Pohon Pule super besar di sana. Sudah berdiri seminggu belakangan.

Super besar karena diameternya ada kalau 1,5 meter. Sedang, lingkarnya mencapai 4,5 meter. Butuh tiga orang untuk melingkarinya. Pule juga jenis langka. Pohon itu dari Nusa Tenggara Timur. Umurnya, jangan ditanya. Melihat ukurannya, jelas sudah puluhan tahun. Beratnya lebih dari 15 ton. Butuh dua mobil crane beban saat menanamnya. Satu mobil berkapasitas sepuluh ton. Satunya lagi berkisar lima sampai delapan ton. Menanamnya melibatkan banyak orang dan alat. Saya tunggui langsung. Susah memang. Rantai yang digunakan sempat putus empat kali.

Saya sengaja menunggui bukan karena tidak percaya pada petugas. Siapa tahu mereka butuh saran dan arahan saya. Bukannya saya merasa lebih jago dari mereka. Tetapi sedikit banyak saya paham tentang ilmu bumi. Saya berangkat dari seorang guru Geografi. Tentu dapat banyak ilmu tentang alam dan lingkungan semasa kuliah dulu. Penanaman pohon berkaitan dengan itu. Namanya manusia kadang juga lupa. Tatkala ada banyak orang, bisa saling mengingatkan. Tatkala petugas lupa, saya ingatkan. Begitu juga sebaliknya.

Contoh kecilnya soal penggalian lubang tempat dimana pohon itu ditanam. Sengaja memang dibuat lebih dulu kemudian dibiarkan. Banyak yang tanya. Kenapa lubang dibiarkan begitu saja setelah digali? Kenapa penggaliannya tidak menunggu pohonnya ada? Ada juga yang bertanya kenapa di tengah jalan. Saya tidak begitu memperdulikan. Karena masyarakat hanya menilai dari apa yang terlihat saat ini. Padahal, ada banyak fungsi ke depan. Saya coba jelaskan perlahan. Saat pertemuan-pertemuan. Saat ada kesempatan bertatap muka dengan warga.

Penanaman pohon ilmunya memang seperti itu. Harus digali dulu dan dibiarkan. Karena ada banyak gas yang tersimpan dalam tanah. Dengan dibiarkan gas bisa menguap. Lubang jadi netral. Gas tersebut bisa mengganggu proses tumbuh pohon tatkala langsung ditanam. Penggaliannya juga harus sampai tanah. Disitu letak humusnya. Akar pohon harus menyentuh bagian tanah. Itu mengapa saya instruksikan untuk digali lagi lebih dalam saat penanaman di pertigaan depan McDonald itu. Padahal, pohonnya sudah ada dilokasi. Saya lihat, belum sampai tanah bagian dalam.

Kenapa di tengah jalan, karena kota kita memang tidak memiliki banyak lahan. Kota Madiun hanya 33,33 kilometer persergi. Sesuai aturan, harus ada 30 persen ruang hijau di kota kita. Saat ini, kita masih kekurangan 11 persen. Kekurangan itu harus sudah terpenuhi 2030 nanti. Saya tidak ingin menunggu sampai 2030. Kekurangan terus kita kejar. Titik-titik yang tidak maksimal akan kita optimalkan. Biarpun di tengah jalan, saya pilihkan areal yang tidak dilewati kendaraan. Saya sudah berkonsultasi dengan pihak terkait. Seperti di pertigaan Jalan Panglima Sudirman-dr Soetomo. Titik pohon merupakan berada di titik yang tidak dilewati kendaraan. Begitu juga di simpang empat Jalan Bali. Kendaraan memang tidak boleh lurus ke Jalan Kenari. Tetapi langsung belok ke kanan atau ke kiri. Artinya, titik tengah dari Jalan Bali ke Jalan Kenari tidak dilewati kendaraan. Itu yang dimanfaatkan.

Jangan heran tatkala ada banyak penanaman pohon di tengah jalan nanti. Ada 12 titik yang sudah kita kaji. Saya ingin sampai 100 titik. Kajian terus kita lakukan. Memang ada beberapa yang dipotong. Tetapi yang ditanaman jauh lebih banyak. Ibarat ada satu yang ditebang, muncul sepuluh pohon baru. Kota kita akan bernuansa pegunungan. Modern tetapi sejuk dengan lingkungan yang alami. Dan itu bukan pohon-pohon kecil. Pohon yang sudah besar. Paling tidak berdiameter sepuluh sentimeter. Khususnya, pohon berbunga. Seperti di trotoar Jalan Pahlawan. Lebih dari 20 pohon baru di sana. Itu menggantikan pohon lama yang sudah keropos di bagian tengahnya. Berbahaya tatkala hujan disertai angin seperti ini.

Selain itu, pohon juga sebagai resapan. Kota Madiun bukan daerah pegunungan yang berlimpah mata air. Bahkan, banyak sumur dangkal yang kering tatkala musim kemarau. Ini karena kita tidak banyak memiliki kantong-kantong resapan. Pohon-pohon besar merupakan areal resapan. Banyaknya pohon besar sekaligus cadangan air tatkala musim kemarau ke depan. Mungkin belum dapat dirasakan manfaatnya saat ini. Tetapi ini sebagai langkah antisipasi 20 sampai 30 tahun ke depan. Ini warisan bagi anak cucu kita kelak.

Ini sesuatu yang baru. Ada banyak hal baru yang sudah dan akan kita wujudkan ke depan. Seperti yang saya bilang, sesuatu yang baru menyimpan semangat yang menggebu. Hal-hal baru ini semoga menjadikan semangat masyarakat semakin terpacu. Mulai terpacu dalam hal pendidikan, kesehatan maupun peningkatan ekonomi. Tujuannya sederhana, demi kesejahteraan masyarakat Kota Madiun. Terakhir, selamat tahun baru wargaku.

Penulis adalah Walikota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close