Ponorogo

Selamat Jalan Mbah Tekluk: Penjaja Kopi Legendaris Bumi Reyog Ini Berpulang

Selamat jalan Mbah Tekluk. Berpulangnya penjaja kopi bernama asli Kartumi itu mengundang banyak simpati warga Bumi Reyog. Dari lapak kopi sederhananya, banyak kesan membekas di benak pencinta kopi di kabupaten ini. Almarhumah menjajakan kopi sejak 1942, ketika negeri ini masih dijajah Jepang.

——————

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

KIBARAN bendera putih di depan gang Jalan Sumatera mengabarkan kepergian Mbah Tekluk untuk selamanya. Di rumahnya Kamis (8/8), terpampang banner bertuliskan telah meninggal dunia Kartumi umur 95 tahun pada hari Kamis Kliwon dimakamkan di TPU Asem Buntung. Pelayat datang silih berganti menghaturkan rasa belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. ‘’Mbah Tekluk meninggalnya di rumah Mbak Boirah, putrinya nomor dua,’’ kata Parni, anak kedelapan almarhumah dari sembilan bersaudara.

Sehari sebelum berpulang, Mbah Tekluk sempat disuapi bubur oleh anak keduanya itu. Tetapi, almarhumah tak bisa mencerna sarapan yang disuapkan pukul 06.00 tersebut. Muntah-muntah dan demam hingga pukul 12.00. Sampai sore kehilangan nafsu makan. Malam hari, kondisinya semakin lemah. ‘’Setengah sepuluh malam, Mbah ngendikan, klumpukno cah-cah (Mbah bilang, kumpulkan anak-anak dan cucu, Red),’’ terangnya.

Seketika itu pula, keluarga besar berkumpul seraya membacakan Surah Al-Fatihah dan Yasin. Mbah Tekluk mengembuskan napas terakhirnya pukul 23.30. Jenazah almarhumah dimakamkan keesokan harinya pukul 10.30. Banyak yang terkejut dan merasa kehilangan atas kepergian nenek yang tutup usia 95 tahun itu. Selama ini, almarhumah dikenal seger waras. Jarang mengeluhkan sakit. Baru sehari sebelum meninggal, kesulitan berjalan kaki dan kehilangan nafsu makan. ‘’Pun umur, ragane pun mboten kuat (Sudah berumur, tubuhnya sudah tidak kuat, Red),’’ tuturnya.

Mbah Tekluk memang cukup melegenda. Dia menjajakan kopi sejak 1942. Di masa penjajahan Jepang itu, Mbah Tekluk telah menjajakan kopi di pinggir jalan. Tiga tahun sebelum proklamasi kemerdekaan, masih kerap berpindah-pindah tempat. Dulu, almarhumah mulai menjajakan kopi sedari pukul 16.00. Baru berkemas saat dagangannya habis. Tak jarang pulang subuh. Sesekali, kepalanya tekluk-tekluk menahan kantuk. Sejak itulah, Kartumi dijuluki Mbah Tekluk. ‘’Simbah itu pernah sudah pegang cangkir terus tertidur. Sampai dibangunkan pembelinya,’’ kenangnya.

Ketabahannya melayani pembeli di tingkah dinginnya malam semata demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dari lapak sederhananya di Jalan Soekarno Hatta, Mbah Tekluk menghidupi sembilan anaknya. Mbah Tekluk telah berhenti menjajakan kopi sejak 2002. Sejak itu, diteruskan anak cucunya. ‘’Tapi, di rumah taksih ngajari ndamel kopi,’’ paparnya.

Bagi anak cucunya, Mbah Tekluk menjadi panutan dan kebanggaan tersendiri. Sosoknya dikenal sebagai pekerja keras, namun penuh kesabaran. Senantiasa mengutamakan keluarga dan bersikap adil dengan anak cucunya. ***(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close