Madiun

Sekolah Swasta di Kota Madiun Kian Merana

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sekolah swasta makin sulit mendapatkan siswa. Meski saat ini pendaftaran peserta didik baru (PPDB) SMA/SMK swasta masih berlangsung, animo pendaftar relatif minim. Di SMA Santo (St) Bonaventura Kota Madiun, misalnya. Dari target 148 siswa yang direncanakan untuk mengisi empat kelas, baru mendapat 26 pendaftar.

Padahal, sekolah ini membuka PPDB sejak Januari lalu. Pendaftaran akan diakhiri 19 Juli nanti. ‘’Sampai saat ini masih menunggu pendaftar, optimistis saja bisa terpenuhi. Kalau memprediksi tercapai atau tidak, belum tahu,’’ kata Wakasek Urusan Kesiswaan SMA St Bonaventura Kota Madiun Siprianus Triwismo Suherno, Selasa (1/6).

Menurut dia, pihaknya telah mengupayakan promosi online. Pendaftaran juga bisa dilakukan secara online atau datang langsung ke sekolah untuk mengambil formulir. Hingga kini pendaftar paling banyak dari SMP Santo Yusuf dan SMP Santo Bernardus. Sebagian lainnya dari luar kota. ‘’Intinya, peminat sekolah swasta yang pasti masih ada,’’ ujarnya.

Sementara Wakasek Kesiswaan SMK PGRI 3 Kota Madiun Sugeng Hidayat juga merasakan hal serupa. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik minat calon peserta didik. Seperti menyebar brosur, twibbon, pasang banner, juga melalui siswa dan alumni. Upaya lainnya, mengiming-imingi peserta didik baru dengan seragam gratis dan bebas SPP satu tahun.

Sugeng menyebut, SMK-nya membuka PPDB sejak awal Maret lalu. Namun, hingga kini baru mendapatkan delapan pendaftar dari target minimal 20 pendaftar. Dia mengungkapkan, sejak lima tahun terakhir jumlah pendaftar semakin anjlok. Tahun lalu, misalnya. Dari target 20, yang mendaftar hanya 15 siswa. Itu pun didominasi siswa dari luar kota. ‘’Tahun ini semoga bisa terpenuhi. Penutupannya masih 15 Juli,’’ tuturnya.

Kacabdindik Jatim Wilayah Madiun Supardi menyebut sekolah swasta dipersilakan mencari siswa sebanyak-banyaknya. Terkait siswa yang minim, pihaknya sejak awal sudah memberi rambu-rambu pengajuan izin operasional. ‘’Jika sampai tiga tahun tidak mencapai 60 siswa, sekolah disarankan tutup,’’ katanya.

Menurut dia, fenomena SMA/SMK swasta minim pendaftar harus disikapi dengan peningkatan kualitas. Mulai pelayanan, pendidikan, dan sebagainya guna mendongkrak kepercayaan masyarakat. ‘’Kalau sekolah swasta berkualitas, masyarakat akan lebih percaya. Setelah lulus, misalnya, pihak sekolah mengupayakan alumninya bisa mendapat pekerjaan atau diterima masuk perguruan tinggi,’’ ujarnya.

Supardi menolak disebut menganaktirikan sekolah swasta. Pihaknya tetap memberikan pelayanan yang sama, baik swasta maupun negeri. ‘’Keduanya punya peran yang sama, membantu pemerintah dalam mencerdaskan generasi bangsa. Tapi, kalau masyarakat memilih sekolah negeri, itu hak masyarakat,’’ sebutnya. (irs/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button