Ngawi

Sekolah Libur, Tempat Rekreasi Buka

Picu Salah Persepsi Kebijakan Libur 14 Hari

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Kebijakan pemkab meliburkan semua pelajar di Ngawi selama dua pekan bisa berakhir sia-sia. Terutama jika orang tua siswa tidak bisa memberikan pemahaman kepada anaknya mengenai maksud pemerintah menelurkan kebijakan tersebut. ‘’Sekolah diliburkan itu untuk mencegah penularan Covid-19. Kalau masyarakat tidak menyadari tujuan itu, kebijakan ini pasti sulit tercapai,’’ kata Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Ngawi Arif Setyono Rabu (18/3).

Dari enam lokasi yang jadi sasaran razia kemarin, satpol PP menemukan banyak pelajar yang asyik nongkrong di dua lokasi. Yaitu, di sekitar kantor Desa Beran, Ngawi, dan warkop di Dusun Cupo, Desa Grudo, Ngawi. ‘’Pengertian diliburkan itu bukan berarti bebas ke mana saja, tapi diminta belajar di rumah,’’ tegasnya.

Meski memergoki banyak pelajar nongkrong, satpol PP hanya memberikan teguran dan pembinaan dengan menjelaskan maksud libur 14 hari mulai Senin lalu (16/3). Satpol PP juga meminta seluruh siswa yang ketahuan nongkrong segera pulang dan belajar di rumah. ‘’Kalau ketahuan nongkrong dan bergerombol lagi, akan kami bawa ke kantor,’’ ancamnya.

Satpol PP juga akan memanggil orang tua maupun pihak sekolah dari pelajar yang bersangkutan. Supaya antara pelajar, orang tua, dan sekolah memiliki persepsi sama terkait kebijakan pemerintah libur 14 hari tersebut. ‘’Sudah jelas disampaikan kalau mereka diminta belajar di rumah, bukan malah bersenang-senang,’’ kesalnya.

Disinggung mengenai pemerintah yang kurang memberikan penjelasan, Arif membantahnya. Menurut dia, penjelasan yang diberikan pemerintah sudah utuh. Namun, masyarakat terutama orang tua yang mungkin kurang memahaminya. Sehingga, masih banyak pelajar yang justru malah nongkrong. ‘’Kalau seperti ini terus bakal tidak ada hasilnya kebijakan itu (libur sekolah 14 hari, Red),’’ ungkapnya.

Selain dari dua lokasi itu, masih ada beberapa tempat rekreasi yang ditemukan banyak pelajar berkeliaran saat jam sekolah. Hal itu memang wajar, sebab kebijakan libur 14 hari tidak disertai dengan penutupan tempat rekreasi. Karena itu, masyarakat yang gagal paham menganggap libur sekolah itu dimanfaatkan untuk berekreasi atau bersenang-senang. ‘’Kami akui sedikit kesulitan kalau menertibkan di tempat rekreasi, kecuali bersama dinas terkait,’’ ujarnya. (tif/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button